Artikel Feature
Beranda » Perang Badar ketika kuantitas bukan sebuah jaminan untuk memenangkan pertarungan dalam zaman Nabi Muhammad

Perang Badar ketika kuantitas bukan sebuah jaminan untuk memenangkan pertarungan dalam zaman Nabi Muhammad

Setelah hijrah ke Madinah, kaum Muslimin akhirnya hidup lebih aman. Namun keamanan itu rapuh. Kaum Quraisy di Mekah masih menyimpan dendam dan tidak rela melihat Islam tumbuh.

Mereka kehilangan kehormatan, perdagangan, dan pengaruh. Maka, pertempuran pun menjadi tak terhindarkan. Tapi perang ini bukan sekadar soal pedang. Ia adalah ujian antara keyakinan dan kesombongan.

Awal dari Sebuah Perjalanan

Sejarah dan makna di balik warna seragam sekolah di Indonesia

Peristiwa Badar bermula ketika Nabi Muhammad SAW mengutus sekelompok sahabat untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Kafilah itu membawa kekayaan besar hasil perdagangan ke Syam.

Bukan untuk merampok, tapi untuk mengambil hak kaum Muslimin yang dirampas saat mereka diusir dari Mekah. Namun Abu Sufyan, cerdik dan waspada, berhasil mengubah rute perjalanan dan mengirim pesan ke Mekah.

Quraisy pun mengerahkan pasukan besar, sekitar 1.000 orang, lengkap dengan kuda dan persenjataan. Tujuan mereka bukan hanya melindungi harta, tapi menghancurkan Madinah.

Candi Borobudur, teknologi struktur tanpa perekat yang bertahan 1.200 tahun

Sementara itu, Nabi hanya memiliki 313 pasukan, sebagian besar petani dan penggembala, dengan perlengkapan seadanya: dua kuda dan tujuh puluh unta yang dipakai bergantian.

Di tengah gurun Badar, pasukan Islam berhenti dan berkemah. Nabi menghabiskan malam dengan berdoa. Sahabat-sahabatnya tidur di pasir dingin, sementara beliau menengadahkan tangan ke langit:

“Ya Allah, jika pasukan kecil ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di bumi.”

5 Hal tentang Kecamatan Garum yang mungkin jarang diketahui

Doa itu bukan keluhan, tapi keyakinan. Beliau percaya kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah, tapi oleh hati yang yakin kepada Tuhannya.

Pagi 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah. Dua pasukan saling berhadapan di padang Badar. Dari pihak Quraisy maju tiga pendekar: Utbah, Syaibah, dan Walid bin Utbah.

Dari pihak Muslim keluar Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin Harits. Pertarungan satu lawan satu menjadi pembuka perang besar itu. Hamzah dan Ali berhasil mengalahkan lawan mereka, sementara Ubaidah terluka parah.
Pertempuran pun pecah total. Nabi mengangkat segenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh sambil berseru: “Wajah-wajah itu akan dikalahkan!”

Hagia Sophia: keajaiban arsitektur dunia

Pasir itu diterbangkan angin ke arah pasukan Quraisy, membuat mereka panik. Lalu turunlah pertolongan Allah, malaikat yang memperkuat barisan kaum Muslimin.

Kemenangan yang Mengubah Segalanya

Pertempuran berakhir dengan kemenangan telak bagi umat Islam. Tujuh puluh orang Quraisy tewas, termasuk tokoh-tokoh besar seperti Abu Jahl, musuh bebuyutan Nabi.

Candi penataran: situs besar di Jawa Timur yang masih kokoh

Sementara dari pihak Muslim, hanya empat belas orang syahid. Kemenangan Badar bukan hanya militer, tapi moral dan spiritual.
Ia membuktikan bahwa iman yang kecil bisa mengalahkan angka besar, bila yakin pada kebenaran. Kaum Muslim yang sebelumnya dianggap lemah kini dihormati dan disegani. Madinah berubah dari kota kecil menjadi pusat kekuatan baru di Jazirah Arab.

Nabi tidak pernah menjadikan perang sebagai tujuan. Setelah kemenangan, beliau memperlakukan para tawanan Quraisy dengan kemuliaan. Sebagian dibebaskan tanpa tebusan, sebagian diminta mengajar anak-anak Madinah membaca dan menulis.

Beliau ingin dunia tahu: perang dalam Islam bukan soal balas dendam, tapi pertahanan martabat. “Kita bukan bangsa penakluk,” tulis Mubarakfury menafsirkan, “kita bangsa yang mempertahankan hak untuk beribadah kepada Tuhan tanpa takut.”

Menyingkap misteri Supriyadi lewat kesaksian keluarga di Blitar

Makna Badar untuk Zaman Sekarang

Perang Badar bukan sekadar kisah kemenangan, tapi pelajaran tentang strategi, kesabaran, dan keyakinan. Kadang, hidup menghadapkan kita pada situasi tak seimbang, tapi Badar mengingatkan, tidak ada “kecil” bagi orang yang berjalan bersama keyakinan.

“Berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 249)

Bagaimana pengaruh sejarah Kerajaan Majapahit terhadap situs wisata di Blitar?

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

×