Blitar – Nama Reog memang identik dengan Kabupaten Ponorogo, namun Blitar juga memiliki kesenian serupa dengan sejarah dan karakter yang sama sekali berbeda, bernama Reog Bulkiyo. Kesenian tradisional ini menjadi warisan budaya khas Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, yang masih terus dilestarikan hingga sekarang.
Lahir dari Sisa Perang Diponegoro
Reog Bulkiyo diperkirakan muncul sekitar tahun 1825, dibawa oleh dua prajurit Pangeran Diponegoro bernama Kasan Mustar dan Kasan Ilyas yang berasal dari Bagelen, Jawa Tengah. Setelah mengalami kekalahan dalam Perang Jawa melawan Belanda, keduanya melarikan diri hingga akhirnya menetap di Desa Kemloko, Blitar, dan menciptakan kesenian ini sebagai media penyamaran sekaligus sarana melatih semangat perjuangan.
Berbeda dari Reog Ponorogo
Meski sama-sama menggunakan nama Reog, Reog Bulkiyo tidak menampilkan dadak merak atau kepala harimau yang menjadi ciri khas Reog Ponorogo. Pertunjukan ini justru lebih menonjolkan gerakan perang yang dipadukan dengan musik tradisional, merepresentasikan semangat juang para prajurit di masa Perang Jawa berlangsung.
Tiga Fase Musikal yang Dramatis
Struktur pertunjukan Reog Bulkiyo terbagi menjadi tiga fase yang menggambarkan dinamika emosi prajurit. Bagian pembuka diiringi irama lambat yang menciptakan suasana tenang dan khidmat, menggambarkan kesiapan mental sebelum terjun ke medan laga. Dilanjutkan adegan perang dengan ritme cepat dan intens yang membangun ketegangan, sebelum akhirnya diakhiri dengan bagian penutup yang biasanya melambangkan kemenangan maupun refleksi perjuangan.
Terus Dilestarikan Generasi Muda
Berdasarkan penelitian Institut Seni Indonesia Surakarta, Reog Bulkiyo tetap eksis sebagai identitas budaya lokal yang membedakan Blitar dari daerah lain penghasil kesenian bertema reog. Masyarakat Desa Kemloko terus menjaga kelestarian kesenian ini lewat pertunjukan rutin di berbagai acara adat maupun festival budaya, sekaligus mewariskannya kepada generasi muda agar sejarah perjuangan yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan zaman.
Bagi yang tertarik menyaksikan langsung, pertunjukan Reog Bulkiyo biasanya digelar dalam rangkaian acara budaya besar di Kabupaten Blitar, menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal kekayaan seni pertunjukan tradisional khas daerah ini.
Potensi Wisata Budaya yang Terus Dikembangkan
Pemerintah Kabupaten Blitar bersama komunitas seni terus mendorong Reog Bulkiyo sebagai bagian dari branding wisata budaya daerah, sejalan dengan upaya pelestarian kesenian tradisional lain yang juga menjadi kebanggaan Blitar. Dukungan promosi lewat festival budaya maupun media sosial diharapkan mampu memperkenalkan Reog Bulkiyo lebih luas, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif baru bagi seniman dan masyarakat Desa Kemloko yang selama ini menjadi penjaga utama warisan budaya bersejarah ini.
Nilai Sejarah yang Layak Dijaga
Keberadaan Reog Bulkiyo menjadi pengingat bahwa jejak Perang Diponegoro tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga hidup dalam bentuk seni pertunjukan yang terus diwariskan hingga generasi sekarang. Melestarikan kesenian ini berarti turut menjaga salah satu fragmen penting perjuangan bangsa yang mengakar kuat di tanah Blitar.

