Oleh: As’ad Ibnu Mastika
Arsenal pulang dari San Siro dengan kemenangan yang lebih besar daripada sekadar 3 poin. Hasil 3-1 atas Inter pada Selasa malam membuat tim Mikel Arteta dipastikan finis sebagai 1 dari 2 tim teratas fase liga Liga Champions musim ini. Konsekuensinya jelas, mereka menghindari babak play-off 16 tim bulan depan.
Keuntungan lain datang dari urusan leg kedua. Dengan finis 2 besar, Arsenal akan menjadi tuan rumah pada leg kedua jika melaju ke babak 16 besar, perempat final, dan semifinal.
Nilai praktisnya selalu bisa diperdebatkan, tetapi Arsenal sudah pernah memetik manfaat momentum kandang ketika menang 3-0 atas Real Madrid di Emirates musim lalu sebelum bertandang ke Bernabeu dengan bantalan skor.
Di Milan, Arsenal memegang kendali ritme sejak awal dan memenangi babak pertama yang berjalan terbuka. Gabriel Jesus mencetak 2 gol yang hadir di momen berbeda, dan keduanya menunjukkan naluri poacher yang sering ditunggu Arsenal.
Inter sempat menyamakan kedudukan lewat tembakan keras Petar Sucic, tetapi Arsenal merespons tanpa panik.
Gol kedua Jesus lahir dari situasi yang semakin menjadi identitas Arsenal musim ini. Skema sepak pojok kembali menghasilkan gol, yang menjadi gol ke-19 mereka dari situasi tersebut sepanjang musim.
Inter bertahan dengan banyak pemain di kotak penalti, namun tetap kalah membaca pergerakan di tiang jauh hingga bola hidup kembali dan diselesaikan Jesus.
Pergantian Arteta di babak kedua mempertegas kedalaman skuadnya. Declan Rice masuk menggantikan Eberechi Eze, lalu Viktor Gyokeres menggantikan Jesus yang tampil impresif. Justru Gyokeres yang menutup malam dengan momen terbaiknya sejauh ini bersama Arsenal.
Serangan balik yang melahirkan gol ketiga Arsenal diawali umpan luar kaki Gabriel Martinelli dari area dalam setengah lapangan sendiri.
Gyokeres mengatur timing lari dengan tepat, lalu menyelesaikannya dengan sepakan melengkung dari luar kotak penalti. Itu menjadi gol ke-9 Gyokeres sejak bergabung, dan juga penanda bahwa Arsenal bisa mengunci laga bukan hanya lewat kontrol, tetapi juga lewat transisi yang tajam.
Meski kalah, Inter sempat membuat pertahanan Arsenal bekerja keras, terutama pada 45 menit pertama. Tekanan Inter beberapa kali memaksa kesalahan yang jarang muncul dari Arsenal, yang kehilangan bola 8 kali pada babak tersebut.
Ancaman juga datang dari bola langsung ke Marcus Thuram, yang kerap menerima dengan membelakangi gawang lalu memantulkan ke pelari di sekitarnya, tetapi peluang itu tidak berujung gol tambahan.
Arteta menekankan kebanggaannya pada performa tim sepanjang kompetisi dan sikap Arsenal di laga besar. Ia juga menyoroti pentingnya dampak pemain pengganti, termasuk kontribusi Gyokeres. Arsenal berikutnya menjamu Manchester United pada Minggu, 25 Januari 2026 pukul 23.30 WIB.
Pada malam yang sama, Manchester City justru mendapat pelajaran berharga di Arktik. Mereka kalah 1-3 dari Bodo/Glimt, yang meraih kemenangan perdana Liga Champions klub tersebut lewat permainan menyerang yang berani.
Kasper Hogh mencetak 2 gol sebelum jeda, lalu Jens Petter Hauge menambah gol ketiga yang memperlebar luka City.
City sempat punya celah untuk bangkit ketika Rayan Cherki mencetak gol pada sekitar menit ke-60. Namun momentum itu runtuh cepat karena Rodri menerima 2 kartu kuning dalam rentang 58 detik dan harus keluar.
Pada sebuah malam yang kacau, City juga disebut punya 2 gol tuan rumah yang dianulir offside, lalu sebuah bola mengenai mistar, sebelum peluang lain dipatahkan 2 penyelamatan brilian Gianluigi Donnarumma.
Kekalahan ini juga menyorot kebutuhan City akan bek berpengalaman. Max Alleyne, bek 20 tahun yang sempat meninggalkan kesan baik di beberapa penampilan awal, menjalani 2 laga berat beruntun dan dinilai bersalah pada 2 gol cepat di babak pertama.
Dengan Ruben Dias dan Josko Gvardiol cedera, kedatangan Marc Guehi dari Crystal Palace bulan ini dinilai harus segera memberi efek, termasuk membangun kemitraan dengan Abdukodir Khusanov.
Sorotan lain jatuh pada Rodri yang masih terlihat jauh dari level terbaiknya saat menjalani fase kembali dari cedera ACL. Guardiola sebelumnya menyebut Rodri baru akan benar-benar pulih ritmenya menjelang Piala Dunia pada Juni dan Juli.
Dalam konteks laga ini, City juga terlihat bergantung pada Rodri untuk menutup ruang ketika pemain lain didorong tinggi, dan situasi itu memperbesar risiko ketika ia kehilangan ketenangan.
Di lini depan, ketajaman City kembali menurun selepas akhir 2025 yang sempat menjanjikan. Mereka sempat menang 10-1 di Piala FA atas Exeter City, tetapi efektivitas seperti itu tidak muncul belakangan ini.
Di Norwegia, Cherki menjadi yang paling menonjol, sementara Phil Foden dan Tijjani Reijnders disebut tidak memberi pengaruh seperti sebelumnya, dan Erling Haaland membuang 2 peluang emas di babak pertama.
City akan melawan Wolverhampton Wanderers pada Sabtu, 24 Januari 2026 pukul 22.00 WIB. Sementara itu, Arsenal pulang dari San Siro dengan kepastian posisi 2 besar yang semakin mantap, dan memberikan sinyal bahwa identitas mereka kini dapat diterapkan di mana pun, termasuk saat melawan tim low block sekalipun.

