Blitar – Rombongan mahasiswa Program Pengabdian Masyarakat (UM BBM) Universitas Negeri Malang secara aktif berpartisipasi dalam perhelatan tradisi sakral “Mubeng Desa Tepas” di Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.
Ritual adat yang digelar bertepatan dengan peringatan 1 Muharam atau Tahun Baru Islam ini merupakan warisan spiritual turun-temurun yang secara konsisten dilestarikan oleh jajaran pemangku desa, mulai dari kepala desa, perangkat desa, hingga jajaran kepala dusun.
Rangkaian kegiatan diawali dengan khusyuk lewat doa bersama di Kantor Desa Tepas sebagai titik mula keberangkatan. Selanjutnya, seluruh peserta melakukan aksi tapak tilas dengan berjalan kaki mengelilingi batas-batas terluar wilayah Desa Tepas yang membentang sejauh kurang lebih 15 kilometer.
Ritual ini melintasi pelbagai kawasan dusun sebagai simbolisasi penghormatan atas rekam jejak para pendiri (punden) yang telah membabat alas dan menetapkan batas wilayah desa.
Pada setiap sudut dan perbatasan dusun, jajaran pemangku adat melaksanakan ritual cok bakal. Prosesi ini ditandai dengan penanaman bagian tertentu dari ayam walik—meliputi bagian kepala, sayap, dan kaki—yang dilengkapi dengan perlengkapan sesaji khusus. Penanaman dilakukan secara berurutan merujuk pada konsep filosofi Jawa kiblat papat lima pancer, bermula dari kantor desa menuju empat penjuru mata angin.
Sementara itu, sisa bagian tubuh ayam dimanfaatkan dalam prosesi kenduri atau selamatan warga. Menurut kepercayaan spiritual masyarakat setempat, cok bakal merupakan bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar desa terhindar dari marabahaya (tolak bala), sehingga terwujud tatanan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, karta tata, titi tentrem lan raharja.
Ketua Kelompok KKN UM BBM Desa Tepas, Axelle Darrell Adelard, menyampaikan bahwa keterlibatan para mahasiswa dalam mendampingi seluruh tahapan prosesi ini merupakan bentuk penghormatan nyata terhadap kearifan lokal masyarakat tempatan.
“Keikutsertaan kami dalam tradisi Mubeng Desa ini memberikan pengalaman yang luar biasa mendalam. Kami tidak hanya belajar mengenai sejarah penentuan batas wilayah, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur masih dirawat secara kuat oleh warga Desa Tepas,” ungkap Axelle.
Kendati harus menempuh rute jalan kaki yang relatif jauh dan menguras energi, antusiasme peserta dari unsur mahasiswa, perangkat desa, serta tokoh masyarakat tidak surut hingga seluruh rangkaian ritual tuntas secara aman, tertib, dan lancar.
Melalui momentum perayaan 1 Muharam ini, tradisi Mubeng Desa diharapkan terus menjadi pilar perekat harmoni sosial antarwarga, sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian kebudayaan daerah merupakan tanggung jawab kolektif yang harus diwariskan lintas generasi demi menjaga identitas bangsa.

