Blitar – Nama Gunung Kawi selama ini identik dengan kawasan wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Namun di balik popularitas tersebut, warga lokal justru menilai ada sisi lain dari Gunung Kawi yang belum tergarap maksimal, yakni potensi wisata alamnya.
Penilaian ini disampaikan langsung oleh Hari Sutikno atau yang dikenal dengan nama Pak Saidi Ayam, warga Dusun Bumiarjo yang telah puluhan tahun tinggal di lereng gunung tersebut.
Saat ditanya soal hal yang masih dirasa kurang di kawasan tempat tinggalnya, Pak Saidi tanpa ragu menyebut soal pengelolaan wisata sebagai catatan utama. Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap potensi wisata di luar sektor religi masih sangat minim.
“Yang masih kurang itu pengelolaan wisatanya, mas. Di sini itu kan kurang terjamah, kurang perhatian dari pemerintah. Wisata-wisata yang ada di Gunung Kawi itu sementara yang ada itu kan religi, religi. Kalau wisata yang lain-lain belum ada, itu yang perlu diperhatikan sama pemerintah,” ungkapnya kepada tim Bicara Blitar.
Pak Saidi pun menyinggung sebuah wacana besar yang pernah berkembang di tengah masyarakat terkait potensi wisata alam di kawasan tersebut. Wacana itu sempat menjadi pembicaraan, namun hingga kini belum ada realisasi konkret.
“Wisata, misalkan hutan, itu dulu pernah ada berita ada wacana seperti Jatim Park 3 itu dulu, tapi tidak tahu sampai sekarang belum terlaksana,” ujarnya.
Padahal, dari sisi kondisi alam, kawasan lereng Kawi tempat Pak Saidi tinggal memiliki banyak keunggulan yang berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata baru. Selain udara yang sejuk dan pemandangan hutan pinus yang asri, lokasinya pun tidak benar-benar terisolasi dari pusat pemerintahan maupun fasilitas penunjang wisata.
“Kalau di sini dikatakan jauh, ya enggak jauh. Pusat pemerintahannya dekat, kecamatan juga dekat. Di Gunung Kawi, di daerah pesarean itu juga banyak seperti kota, ada hotel, ada restoran. Pusat kabupatennya cuma 22 kilo,” jelasnya.
Kawasan ini juga relatif aman dari ancaman bencana alam yang kerap menghantui daerah pegunungan lain, seperti tanah longsor maupun banjir. Faktor ini menjadi nilai tambah penting yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai modal pengembangan wisata yang lebih beragam.
“Alhamdulillah dari dulu itu jauh dari bencana, baik bencana longsor maupun banjir, enggak ada sama sekali. Di sini itu nyaman, enak,” tuturnya.
Meski demikian, Pak Saidi tidak hanya menuntut peran pemerintah. Ia juga menitipkan harapan besar kepada masyarakat sekitar untuk turut menjaga kelestarian hutan di lereng Kawi. Menurutnya, ekspansi hutan produktif yang terus merambat ke area atas berisiko memicu bencana longsor dan menghilangkan ciri khas dingin kawasan tersebut.
“Saya berharap bagi masyarakat sini tetap melestarikan hutan, tidak dijamah atau ditebang secara liar. Kalau bisa, kalau di sini ada hutan produktif, jangan sampai merambat ke atas-atas, biar tidak terjadi longsor, biar tidak dinginnya seperti dulu lagi. Kita menyentuh air saja agak takut karena dingin. Itu saya berharap seperti itu,” pesannya.
Harapan Pak Saidi ini sejalan dengan kebutuhan pengembangan wisata yang berkelanjutan. Pengelolaan yang baik dari pemerintah, dipadukan dengan kesadaran kolektif warga untuk merawat alam, dinilai menjadi kunci agar Gunung Kawi tidak hanya dikenal sebagai destinasi religi semata, tetapi juga sebagai kawasan wisata alam yang lestari dan memberi manfaat ekonomi lebih luas bagi masyarakat sekitarnya.
*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

