Artikel Berita
Beranda » MDS Rijalul Ansor Blitar gelar Dirosah Ula, PW GP Ansor Jatim: “Jangan kalah deras dengan netizen!”

MDS Rijalul Ansor Blitar gelar Dirosah Ula, PW GP Ansor Jatim: “Jangan kalah deras dengan netizen!”

GP Ansor Jatim
Samsul Mashudi, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PW GP Ansor Jawa Timur, memberikan sambutan dan membuka pelatihan Dirosah Ula di Pondok Pesantren Al Falah, Jeblog, Talun, Jumat (29/05). (Foto: Istimewa)

 

​BLITAR — Wakil Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur, Samsul Mashudi, mengingatkan beban berat yang dipikul Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor dalam menghadapi disrupsi digital di era post-truth. Di tengah derasnya arus informasi siber, fatwa kiai dan ulama dinilai kerap tergerus oleh opini publik di media sosial yang memengaruhi pola pikir generasi muda.

​Pernyataan tegas tersebut disampaikan dalam pembukaan kaderisasi lanjutan Dirosah Ula yang digelar oleh Pimpinan Cabang (PC) MDS Rijalul Ansor Kabupaten Blitar, Jumat (29/5/2026) di Pondok Pesantren Al Falah, Jeblog, Talun. Agenda strategis yang baru pertama kali diselenggarakan di Kabupaten Blitar ini diikuti oleh sedikitnya 50 peserta dari kalangan pemuda pesantren dan pengurus anak cabang lintas kecamatan berlangsung selama tiga hari.

Tasyakuran Harlah ke-92, PC GP Ansor Blitar tegaskan kemandirian ekonomi dan peran kepemudaan NU

​Forum ini turut dihadiri oleh jajaran syuriyah dan tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blitar, PC Fatayat NU, Ketua PAC GP Ansor se-Kabupaten Blitar, PC IPNU, PC IPPNU Kabupaten Blitar, serta PAC Muslimat NU Kecamatan Talun. Kehadiran elemen-elemen badan otonom ini menegaskan dukungan kolektif terhadap penguatan ideologi pemuda di tingkat basis.

​Tantangan Dakwah Digital dan Otoritas Ulama

​Dalam sambutannya, Samsul Mashudi menyoroti pergeseran peta dakwah di mana ruang-ruang digital kini didominasi oleh narasi non-konvensional. Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi organisasi dalam mempertahankan otoritas keilmuan pesantren di mata generasi Z dan generasi alpha.

​”Hari ini fatwa kiai-kiai kita, fatwa guru-guru kita, fatwa ulama-ulama kita masih kalah derasnya dengan fatwa para netizen yang maha benar di media sosial,” ujar Samsul di hadapan puluhan peserta.

​Ia menambahkan, keterikatan emosional generasi muda terhadap media sosial berpotensi mengaburkan esensi kebenaran yang bersumber dari para ahli ilmu keagamaan. “Hari ini apa yang disampaikan oleh guru-guru kita, oleh kiai-kiai kita, belum tentu sebagai kader Nahdlatul Ulama, kader Ansor, kita mengamini bahwasanya fatwa itu benar karena kita terkooptasi dengan komentar-komentar dari para netizen yang maha benar.”

​Reorientasi Fungsi Rijalul Ansor

​Melihat kondisi tersebut, PW GP Ansor Jawa Timur mendesak adanya reorientasi fungsi organisasi. MDS Rijalul Ansor diminta tidak sekadar terjebak pada rutinitas syiar seremonial, melainkan harus mampu mentransformasikan diri menjadi instrumen taktis yang hadir membawa solusi konkret atas dinamika sosial kemasyarakatan.

​”Tugas Rijalul Ansor itu enggak hanya shalawatan. Tugas Rijalul Ansor itu tidak hanya tahlilan. Tugas Rijalul Ansor itu tidak hanya kumpul ngaji sorogan. Tetapi jauh di balik itu, tugas Rijalul Ansor harus mampu menjadi solusi terhadap problem-problem yang ada di tengah-tengah masyarakat,” cetus Samsul.

​Melalui Dirosah Ula dengan tema “Membentuk Karakter Pemuda Muslim yang Progresif dan Berwawasan Luas”, para kader digembleng untuk menjadi penggerak kultural (muharrik) yang adaptif. Rijalul Ansor dituntut mampu melakukan penetrasi dakwah ke ruang-ruang publik modern seperti komunitas subkultur dan kafe, tanpa kehilangan identitas serta tetap tegak lurus pada khittah dan garis komando Nahdlatul Ulama.

×