Artikel Opini
Beranda » Mengenal CGMI, organisasi mahasiswa kiri terbesar yang sejarahnya terkubur bersama PKI

Mengenal CGMI, organisasi mahasiswa kiri terbesar yang sejarahnya terkubur bersama PKI

Presiden Soekarno berpidato di hadapan peserta Kongres Ke-III CGMI di Istora Senayan, Jakarta pada 29 September 1965. Dok. Koran Harian Rakjat, Djum'at 1 Oktober 1965.

Sejarah Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) tidak bisa dilepaskan dari pertarungan ideologi pada masa awal kemerdekaan. Organisasi ini resmi didirikan pada 1956, sebagai hasil fusi sejumlah organisasi mahasiswa berhaluan kiri yang ingin membangun kekuatan mahasiswa progresif-revolusioner.

Sejak awal, CGMI diposisikan sebagai onderbouw atau organisasi massa mahasiswa yang dekat dengan garis politik Partai Komunis Indonesia (PKI), sekaligus menjadi alat mobilisasi intelektual muda dalam mendukung agenda politik kiri di Indonesia.

Pada fase awal berdirinya, CGMI hanya memiliki sekitar 1.180 anggota, namun dalam waktu kurang dari satu dekade jumlah itu melonjak drastis. Memasuki awal 1960-an, keanggotaan CGMI mencapai sekitar 7.000 orang, dan pada tahun 1963 diperkirakan menembus ±17.000 anggota yang tersebar di berbagai kota besar.

6 wisata sejarah Bung Karno di Blitar yang wajib dikunjungi

Basis kaderisasi CGMI berkembang pesat di kampus-kampus strategis seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, serta kampus-kampus di Surabaya dan Malang. Di ruang-ruang akademik ini, CGMI aktif membangun basis melalui diskusi ideologi, aksi massa, hingga advokasi isu kesejahteraan mahasiswa.

Dalam konteks gerakan, CGMI tampil sebagai organisasi mahasiswa yang militan dan progresif. Mereka mengangkat isu-isu konkret seperti penurunan harga buku, penghapusan praktik perpeloncoan, serta perbaikan fasilitas pendidikan. Namun, di balik itu semua, CGMI juga membawa agenda ideologis yang kuat, yakni anti-imperialisme dan dukungan terhadap revolusi sosial ala kiri. Hal ini membuat CGMI tidak hanya bergerak di ranah kampus, tetapi juga aktif dalam mobilisasi politik nasional yang lebih luas.

Tokoh penting dalam tubuh CGMI salah satunya adalah Hardojo yang menjabat sebagai Ketua Umum pada awal 1960-an. Di bawah kepemimpinannya, CGMI semakin tegas berada dalam orbit politik kiri dan menjadi salah satu organisasi mahasiswa terbesar saat itu. Selain Hardojo, terdapat pula sejumlah kader dan aktivis CGMI yang kemudian hari menyebar ke berbagai jalur kehidupan setelah organisasi ini dibubarkan sebagian mengalami represi politik, sebagian lainnya bertransformasi menjadi akademisi, pekerja budaya, atau bahkan menghilang dari ruang publik akibat tekanan rezim pasca-1965.

Soekarno dalam pandangan Tan Malaka: Antara fakta, mitos, dan kekuasaan

Relasi CGMI dengan Presiden Soekarno terbilang sangat dekat. CGMI menjadi salah satu organisasi mahasiswa yang konsisten mendukung konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) yang digagas Soekarno. Kedekatan ini terlihat jelas dalam berbagai forum resmi, termasuk saat Kongres CGMI. Bahkan dalam penutupan Kongres III CGMI tahun 1965, pada 29 September 1965 di Istora Senayan Jakarta jelang meletusnya G30S/PKI, Presiden Soekarno secara terbuka menunjukkan sikap politiknya terhadap organisasi mahasiswa lain yang dianggap berseberangan.

Salah satu dinamika paling tajam dalam sejarah CGMI adalah perseteruannya dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). CGMI secara ideologis berseberangan dengan HMI yang berbasis Islam modernis. Konflik ini tidak hanya berupa debat wacana, tetapi juga tekanan politik. CGMI bersama kekuatan kiri lainnya mendorong pembubaran HMI karena dianggap sebagai representasi kelompok anti-revolusi. Dalam Kongres III CGMI, bahkan Soekarno disebut masih memiliki keinginan untuk membubarkan HMI, meskipun pada akhirnya hal tersebut tidak pernah terealisasi.

Setelah G30S, situasi politik berubah drastis. Gelombang anti-komunisme menyasar seluruh organisasi yang berafiliasi dengan PKI, termasuk CGMI. Tekanan datang dari berbagai arah, baik militer maupun kelompok mahasiswa anti-komunis. Akhirnya, CGMI resmi dibubarkan pada 1 November 1965, seiring dengan meredupnya Partai Komunis Indonesia karena dikaitkan dengan G30S/PKI. Nasib para tokohnya pun beragam, sebagian ditangkap dan dipenjara, sebagian mengalami pengasingan, dan tidak sedikit yang memilih diam atau menghilang dari ruang publik.

Dari “Cornell Paper” ke era kini: Apa yang masih belum Kita pelajari soal Tragedi 1965

Pembubaran CGMI menandai berakhirnya era dominasi gerakan mahasiswa kiri di Indonesia, sekaligus menjadi titik balik lahirnya konfigurasi baru gerakan mahasiswa yang lebih didominasi oleh kelompok seperti HMI, GMNI, dan PMII di era berikutnya.

Berita Terkait

×