Artikel
Beranda » Seratus Tahun Pram: Membincang “Kebebasan” ala Pramoedya lewat Soesilo Toer

Seratus Tahun Pram: Membincang “Kebebasan” ala Pramoedya lewat Soesilo Toer

 

Seratus Tahun Pram: Membincang "Kebebasan" ala Pramoedya lewat Soesilo Toer

Soesilo Toer ketika bercerita pada Tur Toer Tualang di Kota Blitar. (Foto: LPM Bhanu Tirta)

“Kampus UNU Blitar tidak lagi menjadi ruang aman bagi mahasiswa: ketua KOPRI desak pengusutan tuntas dugaan kekerasan seksual di lingkungan kampus

“Kebebasan adalah sebagian dari iman, ucap Pram kepada saya,” kata adik kesayangan Pram, Soesilo Toer.

Kemarin sore, tepat pada hari Rabu, 05 Februari 2025. Kami merayakan seratus tahun Pramoedya Ananta Toer bersama Soesilo Toer di Kedai Kopi Sinar Remaja, Kota Biltar.

Perlu kalian mengerti, acara yang bertajuk “Tur Toer Tualang” tersebut merupakan itikad sang adik tercinta untuk memperingati ulang tahun kakaknya yang ke-100 tahun dengan cara berbagi cerita ke 15 Kota kecil yang masih berupaya menghidupkan ruang literasi. Blitar salah satunya.

Sebelum melangkah lebih jauh, tentu kita tahu siapa Pramoedya Ananta Toer. Seorang penyair yang lahir pada 06 Februari 1925 di Blora. Lebih dari itu, karyanya yang fenomenal “Tetralogi Pulau Buru” kini telah diterjemahkan hingga 42 bahasa asing.

Hari Buruh 2026 viral di medsos gen z Blitar punya cara sendiri untuk menyuarakan hak

Bahkan belakangan, di negara tetangga karya Pram telah dimasukkan kedalam kurikulum wajib untuk pembelajaran Kesusasteraan pada sekolah formal.

Baca Juga: Haul Ke – 5 KH. Ahmad Bagja: Memimpin di Era Transisi Independensi PMII, Inspirator Pergerakan di Kampus Umum

Selanjutnya, Soesilo Toer. Adik kesayangan Pram ini juga tak kalah mengagumkan dari kakaknya. Ia mendapat gelar doktoral dari studinya di Moscow, Rusia. Hanya dengan masa studi 1,5 tahun saja. Namun uniknya, dimasa tua Soesilo memilih hidup sebagai pemulung.

Racun TikTok sudah sampai di Blitar bagaimana live shopping mengubah cara kita belanja?

“Saya bukan hanya pemulung, tapi Rektor (ngorek-ngorek barang kotor),” kelakarnya.

Ia menegaskan untuk tidak memandang rendah pekerjaan sebagai pemulung. Sebab menurutnya, pemulunglah yang menyelamatkan bumi dari ketenggelaman akibat sampah yang tentu salah satu pembuangnya adalah kita.

Sore itu, dalam perbincangan yang berdurasi sekitar 2 jam. Soesilo berulangkali menegaskan bahwa “Kebebasan dan Keberanian” ialah hal yang teramat penting bagi kehidupan. Ia meneladani hal itu dari kakak tercintanya, Pram.

Keisya Levronka “Rombak” dan fenomena pop-rock 2000-an yang bangkit anak Blitar pasti langsung relate

Soesilo menjelaskan, bahwa untuk menjadi manusia seutuhnya kita perlu berani melawan apa-apa yang menindas kita. Walau, selalu ada risiko yang menghadang kita. Jika itu terjadi, lagi-lagi melawan ialah solusinya. Hingga kebebasan benar-benar menghampiri kita.

Terakhir, pria berusia 88 tahun tersebut memberi pesan kepada para penulis pemula untuk sebanyak-banyak nya membaca. Menurutnya, semua buku akan memberikan ilmu dan semua buku pada hakikatnya layak untuk dibaca.

Dilan ITB 1997 tayang hari ini nostalgia yang bikin bioskop Blitar penuh sesak?

Berita Terkait

×