Artikel Berita

Sukses gelar bedah buku “Nahdlatul Ulama Abad Kedua”, Ketua DEMA STITMA Blitar serukan generasi muda pikirkan masa depan NU

Kegiatan Bedah Buku “Nahdlatul Ulama Abad Kedua” yang diselenggarakan STITMA Blitar bersama DEMA STITMA Blitar. Dok. DEMA STITMA Blitar.

Blitar – Gelaran Bedah Buku “Nahdlatul Ulama Abad Kedua” yang diselenggarakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Misbahudin Ahmad (STITMA) Blitar tidak berhenti sebagai agenda semata.

Tak ada Subchan ZE di Muktamar NU Ke-35

Forum tersebut justru diharapkan menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk membaca, mendiskusikan, sekaligus ikut memikirkan arah perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Serbaguna Kampus STITMA Blitar pada Sabtu, 22 Agustus 2026 itu mengangkat tema “Membaca Arah Strategis Muktamar Ke-35 dalam Meneguhkan Tradisi untuk Transformasi Peradaban”.

Forum tersebut digelar dalam rangka menyongsong Pra-Muktamar ke-35 NU sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Harlah ke-4 STITMA Blitar.

Menelaah argumentasi strategis dalam pengkaderan PMII

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STITMA Blitar, M. Kholidul Asyhar, mengatakan bahwa setelah kegiatan selesai, dirinya justru semakin melihat pentingnya membicarakan masa depan NU secara lebih serius.

“Setelah kegiatan Bedah Buku Nahdlatul Ulama Abad Kedua kemarin selesai, saya justru semakin merasa bahwa kegiatan tersebut tidak hanya agenda menjelang Muktamar ke-35. Ada sesuatu yang lebih besar yang harus kita pikirkan bersama yakni, sebenarnya NU setelah memasuki abad kedua mau dibawa ke arah mana serta apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda,” ujar Asyhar.

Menurutnya, NU memiliki modal sosial dan sejarah yang sangat besar. Panjangnya perjalanan organisasi, kuatnya tradisi, banyaknya kader serta luasnya jaringan hingga tingkat akar rumput merupakan kekuatan yang tidak dimiliki semua organisasi.

Menyoal argumentasi idealis dalam pengkaderan PMII

Namun, besarnya modal tersebut dinilai perlu diiringi keberanian untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Jangan sampai kita hanya bangga dengan besarnya sejarah NU, tetapi tidak cukup berani memikirkan masa depannya,” tegasnya.

Asyhar melihat tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya.

UKM Sholawat STIT Al-Muslihuun gelar majelis rutin sekaligus doa bersama pelepasan mahasiswa KKN

Perkembangan teknologi, media digital, persoalan ekonomi, perubahan pola pikir generasi muda hingga berbagai persoalan sosial membutuhkan respons yang lebih adaptif. Karena itu, menurutnya, NU perlu terus bergerak tanpa kehilangan identitas dan akar tradisinya.

“Bagi saya, tradisi dan transformasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Tradisi adalah pijakan, sedangkan transformasi adalah cara untuk tetap relevan menghadapi zaman,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang mengemuka dalam forum bedah buku di STITMA Blitar. Dalam kegiatan tersebut, NU abad kedua dibicarakan melalui sejumlah agenda strategis, mulai dari konsolidasi kelembagaan, penguatan ekonomi dan digitalisasi hingga politik kebangsaan.

Dorong generasi yang bijak bermedia, mahasiswa Universitas Negeri Malang gelar sosialisasi literasi media perspektif UU ITE

Dalam konteks digitalisasi, misalnya, NU dihadapkan pada perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi keagamaan.

Perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan membuat ruang dakwah dan produksi pengetahuan semakin terbuka.

Karena itu, literasi digital dan kemampuan melakukan rekontekstualisasi dakwah menjadi salah satu tantangan penting agar nilai-nilai Aswaja tetap memiliki daya jangkau di tengah generasi digital.

Bahaya “Logical Fallacy” dalam memahami massa aksi, ketika demonstrasi kehilangan substansi

Bagi Asyhar, pembicaraan mengenai masa depan NU tidak bisa hanya dibebankan kepada para tokoh dan pengurus organisasi. Generasi muda, khususnya mahasiswa, harus mulai mengambil bagian dalam proses tersebut.

“Kita tidak bisa terus menyebut diri sebagai generasi penerus kalau kita sendiri tidak mau belajar dan ikut memikirkan masa depan NU,” tuturnya.

Menurut dia, menjadi generasi muda NU tidak cukup hanya dengan hadir dalam kegiatan, mengenakan atribut organisasi atau aktif secara struktural. Lebih jauh, generasi muda harus memiliki keberanian untuk bertanya mengenai arah masa depan NU.

Generasi IPK tinggi tapi nyali rendah, apa yang salah dengan mahasiswa hari ini?

“Menjadi generasi muda NU menurut saya bukan hanya tentang hadir di kegiatan, memakai atribut, atau aktif dalam organisasi. Lebih dari itu, kita harus mulai berani bertanya, NU ke depan mau seperti apa? Dan kita mau mengambil bagian di mana?” lanjutnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam kegiatan bedah buku. Peserta tidak hanya diajak memahami isi buku, tetapi juga didorong melihat posisi masing-masing dalam perjalanan NU memasuki abad kedua.

Forum bahkan menghadirkan sejumlah pertanyaan pemantik agar mahasiswa dan pengurus NU tidak berhenti sebagai penonton perubahan.

Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam mengatasi perilaku bullying di SD, artikel mahasiswa UNU Blitar

Ia berharap mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi ketika pembahasan besar tentang NU berlangsung, tetapi mulai membangun tradisi intelektual melalui membaca, berdiskusi, mengkritisi gagasan serta menyampaikan pandangan.

“Itulah alasan saya merasa kegiatan kemarin penting untuk dihadirkan di STITMA Blitar. Saya ingin mahasiswa tidak hanya menjadi penonton ketika ada pembahasan besar tentang NU.

Setidaknya kita mulai dari hal sederhana: membaca, berdiskusi, mengkritisi, menyampaikan gagasan serta berani terlibat,” ungkapnya.

Bagi Asyhar, keberhasilan sebuah kegiatan tidak semata-mata diukur dari kelancaran acara. Hal yang lebih penting adalah gagasan apa yang tertinggal setelah forum berakhir.

“Kalau setelah forum ada mahasiswa yang mulai berpikir, mulai membaca atau bahkan mulai bertanya tentang masa depan organisasinya, menurut saya itu sudah menjadi sebuah keberhasilan,” katanya.

Ia mengakui bahwa forum tersebut masih memiliki berbagai kekurangan. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti menciptakan ruang-ruang diskusi.

“Mungkin forum kemarin sederhana dan tentu masih banyak kekurangan. Tapi saya percaya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari forum yang besar. Bisa jadi justru dimulai dari ruang kecil, dari beberapa orang yang mau duduk bersama, berdiskusi, dan berani memikirkan sesuatu yang lebih besar,” ujarnya.

Lebih jauh, Asyhar berharap semangat yang lahir dari bedah buku tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Menurutnya, pembicaraan mengenai NU abad kedua harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

“Bagi saya, NU abad kedua tidak cukup hanya diwariskan. NU abad kedua harus dipikirkan, dikawal sekaligus diperjuangkan bersama,” tegasnya.

Ia menilai mahasiswa tidak harus menunggu menjadi tokoh atau pengurus untuk memberikan kontribusi. Setiap orang dapat mengambil bagian dari ruang yang dimilikinya.

“Kita tidak harus menunggu menjadi tokoh atau pengurus untuk mengambil bagian. Mungkin kontribusi kita sebagai mahasiswa hari ini belum besar. Tetapi setidaknya kita bisa memulai dari apa yang kita punya seperti kemauan untuk belajar, keberanian untuk berpikir serta kesediaan untuk terlibat,” lanjut Asyhar.

Menurutnya, masa depan NU bukan hanya menjadi tanggung jawab mereka yang saat ini berada dalam posisi kepemimpinan.

Generasi muda yang hari ini sedang menempuh pendidikan, berorganisasi dan membangun kapasitas diri juga merupakan bagian dari proses panjang tersebut.

“Karena pada akhirnya, masa depan NU bukan hanya milik mereka yang hari ini memimpin. Masa depan NU juga sedang dipersiapkan oleh kita yang hari ini sedang belajar untuk melanjutkan perjalanan itu,” pungkasnya.

Kegiatan Bedah Buku Nahdlatul Ulama Abad Kedua sebelumnya menghadirkan Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I. selaku penulis buku sekaligus Ketua STITMA Blitar sebagai narasumber utama. Sementara buku dibedah oleh Drs. KH. Habib Zunaedi, Ketua MWC NU Sanankulon, dengan diskusi dipandu Ahmad Izzuddin, M.Pd.I., M.Ag., Wakil Ketua I STITMA Blitar.

Buku setebal 209 halaman yang diterbitkan PBNU tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan agenda strategis NU pada abad kedua, termasuk konsolidasi kelembagaan, kemandirian ekonomi, transformasi digital, dakwah kepada generasi muda serta politik kebangsaan.

Melalui kegiatan tersebut, DEMA STITMA Blitar berharap diskursus tentang NU abad kedua tidak berhenti sebagai wacana.

Gagasan yang muncul di ruang akademik diharapkan dapat berkembang menjadi tradisi membaca, berpikir kritis dan keterlibatan nyata generasi muda dalam mengawal masa depan NU.

Lihat Semua Artikel Bicara Blitar
×