Kader PMII Blitar, Alex Cahyono. Dok. Pribadi
Ada argumentasi tentang pengkaderan yang menurut saya terdengar sangat ideal, pengkaderan merupakan media bagi anggota dan kader untuk menemukan sekaligus mengasah potensi-potensi individu yang masih terpendam.
Saya menyukai gagasan itu. Bahkan menurut saya, itulah salah satu alasan mengapa organisasi mahasiswa seharusnya tetap relevan.
Sebab mahasiswa datang ke organisasi bukan sebagai manusia yang sudah selesai. Mereka datang dengan kemampuan yang berbeda-beda.
Ada yang pandai berbicara tetapi tidak percaya diri. Ada yang memiliki kemampuan menulis tetapi tidak pernah diberi ruang. Ada yang memiliki kapasitas memimpin tetapi selalu kalah oleh senioritas.
Ada yang memiliki gagasan besar tetapi tidak punya akses untuk menyampaikannya. Ada pula yang sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa, tetapi bertahun-tahun berada di organisasi tanpa pernah benar-benar menemukan dirinya sendiri.
Pertanyaannya kemudian, apakah PMII sudah menjadi ruang yang memungkinkan semua potensi itu tumbuh?.
Jawaban saya, dengan segala keterbatasan pengamatan belum. Mengatakan “belum” dalam organisasi sebesar PMII bukanlah bentuk kebencian terhadap organisasi.
Justru sebaliknya. Kritik semacam ini muncul karena ada harapan bahwa pengkaderan PMII seharusnya jauh lebih besar daripada hanya menjalankan agenda rutin organisasi.
Pengkaderan Jangan Hanya Transfer Materi
Saya kira salah satu kekeliruan kita dalam memahami pengkaderan adalah terlalu mudah mengukur keberhasilannya melalui kegiatan.
Ada kaderisasi, berarti pengkaderan berjalan. Ada forum, berarti kader berkembang. Ada materi, berarti pengetahuan bertambah. Ada sertifikat, berarti proses selesai.
Padahal manusia tidak berubah hanya karena mengikuti beberapa forum. Kaderisasi yang sesungguhnya mestinya menghasilkan perubahan cara berpikir, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca realitas, kemampuan mengartikulasikan gagasan serta yang paling penting adalah kemampuan untuk menemukan dirinya sendiri.
Kalau seorang kader sudah bertahun-tahun mengikuti proses organisasi tetapi masih takut menyampaikan pendapat, tidak pernah diberikan ruang mengembangkan kemampuan, selalu bergantung kepada senior serta hanya menjadi pelaksana agenda orang lain, lalu apa sebenarnya yang sedang kita kader?.
Jangan-jangan kita bukan sedang mengembangkan potensi kader. Kita hanya sedang mengulang pola lama dengan wajah yang berbeda.
Ketika Kaderisasi Justru Membelenggu
Secara lebih luas, pengkaderan seharusnya menjadi proses pembebasan individu dari berbagai belenggu yang menyekap kebebasannya.
Organisasi seharusnya membantu seseorang keluar dari ketakutan, kebodohan, ketidakpercayaan diri, ketergantungan serta berbagai keterbatasan yang membuat dirinya tidak mampu berkembang.
Tetapi saya justru sering melihat paradoks. Orang masuk organisasi untuk mencari kebebasan berpikir, tetapi kemudian justru belajar takut kepada senior.
Orang masuk organisasi untuk belajar berpendapat, tetapi kemudian memahami bahwa pendapat tertentu lebih aman daripada pendapat lainnya.
Orang masuk organisasi untuk mengasah kepemimpinan, tetapi kemudian menemukan bahwa ruang kepemimpinan sering kali sudah ditentukan oleh konfigurasi kepentingan.
Orang masuk organisasi untuk mengembangkan potensi, tetapi justru menghabiskan sebagian besar waktunya menjadi pelaksana kepentingan orang lain.
Kalau demikian, kita perlu bertanya apakah pengkaderan benar-benar membebaskan kader, atau justru menciptakan bentuk belenggu baru?.
Pertanyaan ini mungkin terdengar kontroversial. Tetapi menurut saya, justru pertanyaan seperti inilah yang seharusnya dibicarakan dalam organisasi.
PMII Terlalu Sibuk Membentuk Kader yang “Seragam”?
Saya terkadang merasa bahwa kita terlalu terobsesi menghasilkan kader dengan karakter yang sama.
Kader harus begini, begitu, memahami ini, mengikuti pola itu. Padahal manusia tidak pernah benar-benar seragam. Potensi seseorang tidak selalu bisa ditemukan melalui pola kaderisasi yang sama.
Ada kader yang berkembang melalui forum diskusi. Ada yang berkembang melalui advokasi. Ada yang menemukan dirinya melalui penelitian. Ada yang tumbuh melalui kerja-kerja sosial.
Ada yang menemukan kemampuan kepemimpinannya ketika mengelola program. Ada yang justru menjadi luar biasa ketika diberi kebebasan menulis, berbicara, atau menciptakan sesuatu.
Masalahnya, organisasi terkadang terlalu sibuk menentukan kader seperti apa yang harus dilahirkan, daripada bertanya, “Kader ini sebenarnya bisa menjadi apa?”.
Hal tersebut merupakan dua pertanyaan yang sangat berbeda. Pertama memaksakan bentuk. kedua membuka kemungkinan. Menurut saya, pengkaderan yang sehat harus lebih dekat dengan pertanyaan kedua.
Masalah Terbesarnya Bukan Kurangnya Potensi Kader
Saya justru percaya bahwa PMII tidak kekurangan kader potensial. Sering kali kurang adalah ruang untuk mengaktualisasikan potensi tersebut.
Kita punya kader yang bisa menulis. Tetapi tidak punya cukup ruang menulis. Kita punya kader yang mampu berbicara. Tetapi tidak selalu diberi ruang berbicara.
Kita punya kader yang memiliki kemampuan riset.Tetapi tidak selalu diberi ruang melakukan penelitian. Kita punya kader yang punya kemampuan mengorganisasi.
Tetapi kesempatan terkadang hanya berputar pada orang-orang tertentu. Kita punya kader yang memiliki keberanian.
Tetapi keberanian itu kadang dianggap sebagai ancaman ketika diarahkan kepada internal organisasi. Akhirnya potensi kader bukan hilang karena kadernya tidak mampu.
Potensi itu hilang karena organisasi tidak menyediakan ekosistem yang memungkinkan potensi tersebut tumbuh.
Hal ini yang menurut saya jauh lebih berbahaya. Sebab organisasi bisa kehilangan kader potensial tanpa pernah menyadari bahwa dirinya sendiri adalah penyebabnya.
Kepentingan Pribadi Mulai Mengalahkan Kepentingan Kolektif
Di sinilah saya sampai pada persoalan yang lebih sensitif. PMII terlalu sering berbicara tentang kolektivitas, tetapi praktik organisasinya tidak selalu kolektif.
Kita berbicara tentang perjuangan bersama. Kita berbicara tentang kepentingan umat. Kita berbicara tentang masyarakat. Kita berbicara tentang keadilan. Kita berbicara tentang keberpihakan.
Tetapi ketika masuk ke dalam praktik organisasi, kepentingan personal terkadang justru jauh lebih kuat. Jabatan menjadi penting. Pengaruh menjadi penting.
Akses menjadi penting. Kedekatan menjadi penting. Kepentingan kelompok menjadi penting.
Sementara pengembangan kader yang tidak memiliki akses sering kali menjadi urusan kesekian.
Di titik ini, argumentasi pengkaderan sebagai media pengembangan potensi menjadi kehilangan maknanya. Sebab bagaimana mungkin potensi individu bisa berkembang kalau ruang organisasi lebih banyak ditentukan oleh siapa yang dekat dengan siapa, bukan siapa yang mampu melakukan apa?
Saya kira inilah salah satu penyakit yang harus berani kita akui.
Kader Tidak Boleh Menjadi Properti Senior
Salah satu hal yang paling mengganggu dalam kultur organisasi adalah ketika kader diperlakukan seolah-olah merupakan “milik” kelompok tertentu.
Kader ini anaknya siapa. Kader itu dekat dengan siapa. Kader ini masuk kelompok mana.
Kader itu loyal kepada siapa. Lama-lama organisasi kehilangan substansi.
Kader tidak lagi dilihat sebagai manusia yang sedang berkembang, tetapi sebagai aset politik organisasi. Padahal kader bukan properti senior.
Kader bukan alat untuk memperbesar pengaruh seseorang. Kader bukan angka untuk memenangkan kontestasi. Kader bukan investasi politik yang suatu hari harus mengembalikan keuntungan kepada orang yang dahulu membantunya.
Kalau kita benar-benar percaya pada pengkaderan sebagai proses pembebasan, maka kader harus diberi kebebasan untuk tumbuh.
Termasuk kebebasan untuk berbeda. Termasuk kebebasan untuk mengkritik. Termasuk kebebasan untuk tidak mengikuti kehendak senior ketika seseorang memiliki alasan yang lebih kuat.
Pengkaderan Harus Menghasilkan Manusia yang Merdeka
Saya kira kata “merdeka” harus dikembalikan ke dalam praktik pengkaderan. Merdeka bukan berarti kader bebas melakukan apa saja.
Merdeka berarti kader memiliki kemampuan untuk berpikir, memilih serta bertindak berdasarkan kesadaran serta nilai yang diyakininya.
Kader yang selalu menunggu instruksi bukan kader yang merdeka. Kader yang takut mengkritik bukan kader yang merdeka. Kader yang hanya mengikuti arus bukan kader yang merdeka.
Kader yang tidak mampu mengambil keputusan tanpa persetujuan senior bukan kader yang merdeka.
Sebaliknya, kader yang mampu membaca situasi, menyusun argumentasi, mengambil keputusan, mempertanggungjawabkan pilihannya serta tetap memiliki keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat adalah kader yang sedang menuju kemerdekaan intelektual.
Menurut saya, inilah yang seharusnya menjadi tujuan strategis pengkaderan PMII. Bukan hanya membuat kader loyal kepada organisasi. Tetapi membuat kader memahami mengapa kader harus berjuang.
Strategi Pengkaderan Tidak Boleh Hanya Menghasilkan “Penerus Pengurus”
Ada persoalan lain yang menurut saya perlu dibongkar. Pengkaderan sering kali secara tidak sadar diarahkan untuk mencari orang yang kelak bisa menjadi pengurus berikutnya.
Kita mencari penerus ketua. Mencari penerus sekretaris. Mencari penerus bendahara.
Mencari orang yang bisa mengisi struktur. Itu memang penting. Tetapi kalau tujuan pengkaderan hanya sebatas itu, maka cakrawala organisasi menjadi terlalu sempit.
PMII seharusnya tidak hanya menghasilkan pengurus. PMII harus menghasilkan manusia yang mampu mengambil peran di masyarakat.
Ada kader yang mungkin tidak pernah menjadi ketua komisariat, tetapi menjadi peneliti yang kritis.
Ada yang tidak pernah menjadi ketua cabang, tetapi menjadi advokat yang membela masyarakat kecil. Ada yang tidak pernah menduduki jabatan struktural, tetapi menjadi akademisi.
Ada yang menjadi jurnalis, pengusaha, pemerintahan, aktivis sosial serta membangun komunitas.
Semuanya bisa menjadi hasil kaderisasi. Karena ukuran keberhasilan kader bukan seberapa tinggi ia duduk dalam struktur PMII, melainkan seberapa besar kapasitas dan nilai yang mampu ia bawa setelah keluar dari struktur tersebut.
Kalau Semua Ruang Dikuasai Kepentingan, Kader Akan Mati Pelan-Pelan
Kader yang tidak mendapatkan ruang pada akhirnya akan mencari ruang lain. Ini adalah hukum sosial yang sederhana.
Manusia membutuhkan pengakuan. Manusia membutuhkan kesempatan. Manusia membutuhkan ruang untuk mencoba. Manusia membutuhkan kesalahan untuk belajar.
Kalau PMII tidak mampu menyediakan ruang tersebut, jangan kaget apabila kader mulai kehilangan minat. Mereka mungkin masih hadir dalam acara. Masih memakai atribut. Masih masuk grup WhatsApp, tercatat sebagai anggota.
Tetapi secara mental mereka sudah meninggalkan organisasi. Organisasi sering kali baru menyadari ketika semuanya sudah terlambat.
Hal yang lebih berbahaya, kader yang pernah mengalami pembatasan ruang akan membawa pengalaman tersebut ke generasi berikutnya.
Akhirnya lahirlah siklus dulu saya diperlakukan seperti ini, sekarang giliran kalian merasakan hal yang sama.
Inilah bagaimana kultur organisasi yang tidak sehat diwariskan. Bukan melalui AD/ART. Bukan melalui produk hukum organisasi. Tetapi melalui pengalaman.
Strategi Pengkaderan Harus Mengubah Cara Kita Memperlakukan Kader
Kalau benar PMII ingin serius membangun kaderisasi, maka perubahan pertama bukan pada jargon. Bukan menambah istilah baru.
Bukan membuat desain kaderisasi yang semakin rumit. Bukan menambah jumlah forum. Hal yang harus diubah adalah cara organisasi memandang kader.
Kader harus dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi, bukan sebagai alat. Kader harus diberikan ruang bereksperimen. Kader harus diberi kesempatan gagal.
Kader harus boleh mengkritik. Kader harus diberi akses terhadap pengetahuan. Kader harus diberi ruang untuk mengembangkan bidang yang diminatinya.
Serta yang paling penting, kader harus diperlakukan sebagai bagian dari subjek perjuangan, bukan objek mobilisasi.
Kalau itu bisa dilakukan, pengkaderan tidak lagi menjadi sekadar proses reproduksi organisasi. Kader tersebut menjadi proses pembentukan manusia.
PMII Perlu Berani Mengakui Kegagalannya Sendiri
Menurut saya, organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak memiliki masalah.
Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mengatakan, “Di bagian ini kita gagal.”
PMII harus berani mengatakan bahwa tidak semua kader berkembang. Tidak semua kader mendapatkan ruang yang sama. Tidak semua potensi berhasil ditemukan. Tidak semua proses kaderisasi menghasilkan manusia yang mandiri.
Serta tidak semua pengurus berhasil mengutamakan kepentingan kolektif, Plpengakuan semacam itu bukan kelemahan. Justru itulah awal dari perbaikan.
Sebab selama kita sibuk mengatakan bahwa sistem kaderisasi sudah berjalan baik, kita tidak akan pernah melihat kader yang diam-diam pergi karena merasa tidak menemukan tempat.
Jangan Sampai PMII Hanya Pandai Mengklaim Punya Kader
Saya kira sudah waktunya kita berhenti terlalu bangga dengan jumlah. Jumlah kader bukan segalanya. Banyaknya komisariat bukan segalanya. Banyaknya kegiatan bukan segalanya.
Banyaknya alumni yang menduduki posisi strategis juga bukan segalanya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, berapa banyak kader yang benar-benar mampu berpikir secara mandiri? Berapa banyak yang berani menyampaikan pendapat? Berapa banyak yang memiliki kemampuan profesional? Berapa banyak yang mampu menciptakan sesuatu?.
Berapa banyak yang tetap memiliki keberpihakan sosial setelah memperoleh kesuksesan? Dan berapa banyak yang masih menganggap perjuangan kolektif sebagai sesuatu yang penting?.
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu sulit dijawab, mungkin memang ada sesuatu yang salah dalam cara kita memahami pengkaderan.
Kalau Pengkaderan Tidak Membebaskan, Lalu Apa yang Sebenarnya Kita Kader?
Saya menulis ini bukan karena merasa memiliki jawaban paling benar. Justru saya menulis karena semakin lama semakin banyak pertanyaan yang tidak terjawab.
Kita mengatakan pengkaderan adalah proses menemukan potensi. Tetapi mengapa masih banyak potensi yang tidak pernah mendapatkan ruang?.
Kita mengatakan pengkaderan adalah proses pembebasan. Tetapi mengapa masih banyak kader yang takut berpikir berbeda? Kita mengatakan organisasi memperjuangkan kepentingan kolektif.
Tetapi mengapa kepentingan pribadi begitu mudah masuk dan menguasai ruang organisasi? Kita mengatakan kader adalah subjek perjuangan.
Tetapi mengapa dalam banyak keadaan kader justru diperlakukan seperti alat? Mungkin kita perlu berhenti sebentar.
Berhenti membuat klaim bahwa pengkaderan kita sudah hebat. Berhenti mengukur keberhasilan kader dari jabatan.
Berhenti mengukur keberhasilan organisasi dari banyaknya kegiatan. Berhenti menganggap kritik sebagai bentuk ketidakloyalan.
Sekarang saatnya mulai bertanya sesuatu yang jauh lebih mendasar, apakah PMII benar-benar sedang membebaskan manusia atau hanya sedang mencetak generasi baru yang akan mengulangi cara lama?.
Sebab kalau pengkaderan hanya menghasilkan kader yang pandai mengikuti struktur, pandai mencari posisi, pandai menjaga hubungan, tetapi tidak mampu menemukan dirinya sendiri dan tidak memiliki keberanian memperjuangkan kepentingan kolektif.
Maka kita harus berani mengatakannya, itu bukan keberhasilan kaderisasi. Itu hanya keberhasilan regenerasi organisasi.
PMII tidak membutuhkan lebih banyak kader yang hanya “jadi orang”. PMII membutuhkan kader yang tahu untuk apa ia menjadi orang yang berdaya.
Kalau organisasi tidak mampu memberikan ruang untuk itu, jangan heran apabila suatu hari kader-kader potensial memilih mencari ruang pembebasannya sendiri di luar PMII. Itulah kritik paling pahit yang mungkin harus kita terima.
Karena organisasi yang benar-benar besar bukan organisasi yang selalu dipuji oleh kadernya. Organisasi yang besar adalah organisasi yang cukup dewasa untuk dikritik oleh orang-orang yang masih peduli terhadap masa depannya.

