Artikel Opini

Bahaya laten kepemimpinan serakah dan aji mumpung

Ilustrasi. Dok. Editor.

Kepemimpinan seharusnya menjadi ruang untuk mengabdi, bukan kesempatan untuk memanen keuntungan pribadi.

Sekretaris PC PMII Blitar bekali DEMA dan PMII STITMA “Rule of The Game” persidangan organisasi mahasiswa

Tetapi dalam praktiknya, kita sering menemukan pemimpin yang justru menjadikan jabatan sebagai ladang untuk memenuhi kepentingan sendiri.

Mereka berbicara tentang loyalitas, pengabdian bahkan perjuangan, tetapi diam-diam menghitung apa yang bisa diperoleh dari setiap posisi yang ditempati.

Hal paling menyebalkan dari kepemimpinan ketika serakah ketika berkuasa dan aji mumpung ketika memiliki kesempatan.

Ketika organisasi mahasiswa lebih sibuk cari jabatan daripada melawan ketidakadilan

Pemimpin semacam ini biasanya tidak benar-benar memahami arti jabatan. Baginya, posisi adalah privilese.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar hak istimewa yang merasa pantas ia terima.

Kritik dianggap sebagai ancaman, perbedaan pendapat diperlakukan sebagai pembangkangan, sementara orang-orang yang selalu mengiyakan justru dianggap paling loyal.

Apakah Organisasi Masih Relevan? Atau Hanya Membuang Waktu, Tenaga, dan Pikiran?

Organisasi tidak lagi berjalan berdasarkan gagasan dan nilai, tetapi berdasarkan siapa yang paling dekat dengan pusat kekuasaan.

Hal yang lebih berbahaya, kerakusan dalam kepemimpinan sering kali tidak muncul dalam bentuk yang terang-terangan. Hal itu bisa menyamar sebagai kepentingan organisasi.

Mengatasnamakan kaderisasi, padahal sedang membangun kelompok sendiri. Mengatasnamakan solidaritas, padahal sedang membagi keuntungan kepada orang-orang terdekat.

Mengatasnamakan stabilitas, padahal sebenarnya sedang membungkam kritik. Jabatan kemudian menjadi alat untuk mempertahankan pengaruh, bukan sarana untuk menyelesaikan persoalan.

Ketika Jabatan Dianggap Kesempatan Sekali Seumur Hidup

Mentalitas aji mumpung adalah penyakit kepemimpinan yang tidak kalah berbahaya.

Selama memiliki jabatan, seseorang merasa harus mengambil sebanyak-banyaknya karena belum tentu kesempatan itu datang kembali.

Polanya sederhana mumpung berkuasa, mumpung punya akses, mumpung punya jaringan, mumpung masih dipercaya.

Masalahnya bukan semata-mata soal materi. Aji mumpung juga dapat muncul dalam bentuk perebutan pengaruh, pembagian posisi, pengamanan kepentingan bahkan upaya menyingkirkan orang yang dianggap berpotensi mengganggu kekuasaan.

Pemimpin yang terjangkit mentalitas ini biasanya sulit melepaskan kursinya. Ia mulai menciptakan alasan agar tetap dibutuhkan.

Regenerasi diperlambat, kader potensial dijauhkan serta struktur perlahan dibentuk agar bergantung kepadanya. Seolah-olah tanpa dirinya organisasi akan kehilangan arah.

Padahal, pemimpin yang benar-benar berhasil justru adalah pemimpin yang mampu membuat dirinya tidak lagi menjadi pusat organisasi.

Mudah menjadi orang baik ketika tidak memiliki kewenangan. Ujian sebenarnya justru muncul ketika seseorang mendapatkan kekuasaan.

Di titik itulah karakter seseorang terlihat. Apakah masih mampu mendengarkan ketika pendapatnya berbeda?. Apakah ia masih mau menerima kritik ketika keputusan yang dibuatnya dipersoalkan?. Apakah ia mampu memberikan ruang kepada orang lain untuk berkembang tanpa merasa tersaingi?.

Kepemimpinan bukan hanya kemampuan memerintah. Kepemimpinan adalah kemampuan mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk memerintah orang lain.

Seorang pemimpin yang matang tidak akan merasa kehilangan wibawa hanya karena mengakui kesalahan.

Ia tidak membutuhkan orang-orang yang selalu membenarkan dirinya. Ia justru membutuhkan orang yang berani mengatakan bahwa keputusannya keliru.

Sebaliknya, pemimpin yang rapuh akan membangun lingkungan yang membuat dirinya selalu benar.

Ia lebih sering mengumpulkan orang-orang yang patuh dari identitasnya sendiri, menghindari kritik serta mencurigai siapa pun yang mulai berpikir mandiri. Dari sinilah kepemimpinan perlahan berubah menjadi kultus personalitas kecil-kecilan.

Ketika Loyalitas Disamakan Dengan Kepatuhan

Loyal bukan berarti selalu berkata iya. Loyal bukan berarti membela pemimpin dalam setiap keadaan. Loyal bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan.

Justru kritik yang jujur sering kali merupakan bentuk loyalitas yang paling mahal.

Pemimpin yang hanya ingin didengar ketika dipuji sebenarnya sedang memelihara kehancurannya sendiri.

Sebab di sekelilingnya tidak lagi ada orang yang berani berkata jujur. Semua orang memilih aman.

Semua orang memilih diam. Ketika organisasi akhirnya jatuh, tidak ada yang merasa bertanggung jawab karena sejak awal semua hanya sibuk mempertahankan posisi.

Karena itu, organisasi harus berhenti memuliakan pemimpin hanya karena ia memiliki jabatan.

Jabatan tidak otomatis membuat seseorang layak dihormati. Karakterlah yang menentukan.

Pemimpin Bukan Pemilik Organisasi

Organisasi memiliki sejarah, nilai, anggota, kader serta masa depan yang jauh lebih panjang daripada masa jabatan seseorang.

Karena itu, tidak ada pemimpin yang berhak memperlakukan organisasi seperti aset pribadi.

Jika sebuah organisasi hanya bisa berjalan ketika satu orang masih berkuasa, berarti yang sedang dibangun bukan organisasi yang sehat, melainkan ketergantungan.

Regenerasi harus dipahami sebagai keberhasilan, bukan ancaman. Ketika muncul kader yang lebih cakap, seorang pemimpin seharusnya merasa bangga, bukan panik.

Ketika ada orang yang mampu mengambil peran lebih besar, ia seharusnya memberikan ruang, bukan mencari cara untuk menghambat.

Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan berapa lama ia memegang kekuasaan, melainkan berapa banyak orang yang mampu tumbuh setelah ia meninggalkan kekuasaan tersebut.

Melawan Bahaya Laten Kepemimpinan Serakah

Kepemimpinan serakah tidak selalu bisa dilawan dengan mengganti orangnya. Hal yang harus dibenahi adalah kultur yang memungkinkan kerakusan itu tumbuh.

Organisasi membutuhkan mekanisme kontrol, ruang kritik, transparansi, regenerasi yang sehat, serta keberanian untuk mempertanyakan kebijakan pemimpin.

Jangan sampai budaya sungkan justru menjadi pupuk bagi penyalahgunaan kekuasaan.

Kita juga perlu berhenti menganggap bahwa semua pemimpin harus diperlakukan seperti orang yang tidak boleh salah.

Pemimpin tetap manusia. Ia bisa keliru, bisa gagal, bahkan bisa menyalahgunakan kewenangan. Karena itu, kekuasaan harus selalu ditemani kontrol.

Bahaya terbesar bukanlah pemimpin yang memiliki ambisi. Ambisi justru diperlukan. Hal yang berbahaya adalah ketika ambisi terhadap kemajuan organisasi berubah menjadi ambisi untuk mempertahankan diri sendiri.

Kepemimpinan yang sehat meninggalkan warisan berupa sistem dan kader yang tumbuh. Kepemimpinan yang serakah meninggalkan ketergantungan dan konflik.

Maka jangan terlalu bangga ketika berhasil mendapatkan jabatan. Pertanyaan yang jauh lebih penting, setelah jabatan itu berada di tangan kita, apakah organisasi menjadi lebih sehat atau justru semakin banyak orang yang harus diam agar kita tetap terlihat hebat?.

Percayalah, waktu akan membongkar semuanya. Siapa yang benar-benar memimpin, dan siapa yang hanya aji mumpung sedang kebagian kursi.

×