Artikel Opini

Prodi Manajemen Pendidikan Islam STITMA Blitar raih Akreditasi BAIK, Ketua DEMA dorong evaluasi berkelanjutan

Ketua DEMA STITMA Blitar, M. Kholidul Asyhar. Dok. DEMA STITMA Blitar.

Blitar – Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Misbahudin Ahmad (STITMA) Blitar berhasil memperoleh predikat Akreditasi “BAIK” dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK).

Pemanfaatan AI untuk desain grafis dikenalkan dalam literasi digital Rohis JTM Blitar Raya

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari jajaran Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STITMA Blitar.

Melalui pernyataannya, segenap pengurus DEMA STITMA Blitar menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas capaian akreditasi yang diraih Program Studi Manajemen Pendidikan Islam tersebut.

Ketua DEMA STITMA Blitar, M. Kholidul Asyhar, menilai capaian akreditasi tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai sebuah predikat atau bentuk pengakuan dari lembaga akreditasi.

PC PMII Blitar gelar Pelatihan Instruktur Dasar II, dorong transformasi kaderisasi berkelanjutan

Menurutnya, proses akreditasi justru menjadi momentum penting bagi institusi untuk melihat perkembangan kampus secara lebih objektif.

“Kalau dari sudut pandang saya sebagai Ketua DEMA, saya melihat akreditasi ini bukan hanya soal kampus mendapatkan predikat atau pengakuan dari lembaga akreditasi. Lebih dari itu, proses ini menjadi momentum untuk melihat sejauh mana STITMA Blitar benar-benar sudah berkembang dan apa saja yang masih perlu kita benahi,” ujar Asyhar.

Ia menilai, substansi terpenting dari proses akreditasi bukan semata-mata hasil akhir berupa predikat, melainkan proses evaluasi yang dilakukan serta berbagai masukan yang diberikan oleh asesor.

Bocah Blitar ini turut bawa Bhayangkara Presisi FC juara Soeratin Cup U-13 di Lampung

Menurut Asyhar, hasil evaluasi tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk meningkatkan kualitas STITMA Blitar di berbagai sektor, mulai dari tata kelola institusi, proses pembelajaran, fasilitas, pelayanan mahasiswa hingga pengembangan kegiatan kemahasiswaan.

“Menurut saya, yang paling penting justru bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses evaluasi dan masukan dari asesor. Karena dari situ kita bisa tahu bahwa masih ada ruang untuk meningkatkan kualitas, baik dari tata kelola, pembelajaran, fasilitas, pelayanan mahasiswa, kegiatan kemahasiswaan, maupun hal-hal lain yang memang dirasakan langsung oleh mahasiswa,” jelasnya.

Sebagai Ketua DEMA, Asyhar mengaku turut bangga atas capaian yang diraih Program Studi Manajemen Pendidikan Islam STITMA Blitar.

Grow Mindset: Mengapa kita harus berani gagal berkali-kali?

Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan akreditasi tidak boleh membuat seluruh elemen kampus berhenti melakukan evaluasi dan pembenahan.

Ia memandang peningkatan kualitas perguruan tinggi merupakan tanggung jawab bersama.

Tidak hanya menjadi tugas pimpinan maupun dosen, mahasiswa juga memiliki peran dalam menjaga sekaligus mendorong perkembangan kualitas kampus.

Cerita usaha gula jawa di Semen, Gandusari yang bertahan sejak 1991

“Sebagai Ketua DEMA, saya tentu bangga melihat proses ini. Tapi di sisi lain, saya juga merasa bahwa akreditasi harus menjadi tanggung jawab bersama. Kampus tidak bisa hanya dibebankan kepada pimpinan dan dosen, mahasiswa juga punya peran untuk ikut menjaga dan mendorong kualitas kampus,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia berharap predikat Akreditasi BAIK yang diperoleh Prodi Manajemen Pendidikan Islam STITMA Blitar dapat menjadi pijakan untuk melakukan pembenahan secara berkelanjutan.

Menurutnya, capaian tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai pencapaian administratif ataupun hanya menjadi dokumen institusi.

Mahasiswa UNU Blitar dorong promosi wisata Semen lewat Citizen Journalism dan konten kreatif

Justru, hasil akreditasi perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata yang dapat dirasakan oleh mahasiswa dalam kehidupan akademik maupun kemahasiswaan.

“Harapan saya, setelah proses akreditasi ini selesai, jangan sampai kita hanya puas dengan predikat yang didapat. Justru ini harus menjadi titik awal untuk terus berbenah,” ungkapnya.

Baginya perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur dari apa yang tercantum dalam dokumen akreditasi.

5th BEN Carnival digelar 22 Agustus 2026 malam dengan format baru, rute lebih panjang, dan bidik masuk Kharisma Event Nusantara

Keberhasilan tersebut harus terlihat dari kualitas pendidikan, pengalaman mahasiswa, pelayanan yang diberikan serta tersedianya ruang bagi mahasiswa untuk berkembang.

“Karena bagi saya, ukuran keberhasilan kampus bukan hanya apa yang tertulis di dokumen akreditasi, tetapi sejauh mana mahasiswa benar-benar mendapatkan pendidikan, pengalaman, pelayanan serta ruang berkembang yang berkualitas,” lanjutnya.

Asyhar berharap capaian akreditasi tersebut dapat menjadi energi baru bagi seluruh civitas akademika STITMA Blitar untuk terus meningkatkan kualitas institusi.

KKN UNU Blitar dukung pemberdayaan ibu-ibu lewat Kabuya Yoghurt

Ia juga menilai mahasiswa perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses pengembangan kampus.

“Jadi kalau ditanya sudut pandang saya, akreditasi ini bukan garis finish, tapi salah satu checkpoint untuk memastikan STITMA Blitar terus tumbuh dan menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Capaian Akreditasi “BAIK” Program Studi Manajemen Pendidikan Islam STITMA Blitar dari LAMDIK pun diharapkan tidak hanya menjadi sebuah capaian institusional, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang semakin berkualitas dan berorientasi pada kebutuhan mahasiswa.

Lihat Semua Artikel Bicara Blitar
×