Ketua KOPRI PC PMII Blitar, Laila Mufidah (kiri) dengan Dr. Amanah Nurish (kanan) salah satu Narasumber dalam WOMEN INITIATIVE Camp KOPRI PB PMII. Dok. IST.
Oleh: Laila Mufidah, Ketua KOPRI (Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri) PC PMII Blitar.
Sebuah kenyataan dalam hidup yang sering kali sulit kita terima, manusia akan mengalami kegagalan.
Tidak hanya sekali, tetapi bisa berkali-kali. Kita bisa gagal dalam mengambil keputusan, gagal mencapai sesuatu yang telah direncanakan, salah membaca keadaan atau bahkan harus memulai kembali sesuatu yang sebelumnya kita kira sudah selesai.
Dalam kehidupan yang semakin penuh dengan tuntutan keberhasilan, kegagalan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.
Kita seolah dituntut untuk selalu berhasil, selalu kuat dan selalu mampu menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal, jika kita mau melihat kehidupan secara lebih jujur, kegagalan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses manusia untuk bertumbuh.
Pemikiran tersebut menjadi salah satu hal yang saya bawa pulang setelah mengikuti WOMEN INITIATIVE Camp: Grow, Connect, Lead yang digelar pada 25–26 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang.
Bagi saya, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ruang pertemuan bagi perempuan muda untuk saling mengenal dan membangun jejaring, tetapi juga menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana perempuan seharusnya memandang dirinya sendiri di tengah berbagai tuntutan kehidupan.
Salah satu materi yang paling membekas bagi saya adalah pembahasan mengenai “Grow Mindset dan Resilience dalam Perspektif Antropologi Agama dan Budaya” yang disampaikan oleh Dr. Amanah Nurish, seorang antropolog agama, akademisi, peneliti, sekaligus dosen Universitas Indonesia.
Dalam pemaparannya, saya menangkap bahwa resiliensi tidak semata-mata dapat dipahami sebagai kemampuan untuk menjadi kuat dan bertahan dalam menghadapi persoalan.
Resiliensi juga berkaitan dengan kemampuan manusia untuk membaca pengalaman, mengolah kegagalan, melakukan evaluasi, kemudian menemukan cara untuk kembali melanjutkan kehidupan.
Hidup memang keras. Ada keadaan yang tidak dapat kita kendalikan, ada kegagalan yang datang meskipun kita sudah berusaha dan ada masa ketika jalan yang kita tempuh terasa jauh lebih berat daripada yang kita bayangkan.
Karena itu, kemampuan untuk bertahan menjadi penting. Namun, bertahan bukan berarti memaksakan diri untuk terus berjalan tanpa arah.
Bertahan juga membutuhkan kesadaran untuk memahami kapan harus melanjutkan, kapan harus mengevaluasi, dan kapan harus mengubah langkah.
Saya kemudian teringat bahwa manusia pada dasarnya tidak pernah benar-benar hidup seorang diri.
Kita membutuhkan orang lain untuk bertahan dan berkembang. Kita membutuhkan keluarga, sahabat, komunitas, organisasi serta lingkungan sosial yang memungkinkan kita berbagi pengalaman serta belajar dari perjalanan orang lain.
Kesadaran bahwa manusia tidak bisa sendiri menjadi semakin penting di tengah kehidupan yang sering kali mendorong seseorang untuk terlihat mandiri secara berlebihan.
Tidak jarang kita merasa harus menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri karena menganggap meminta pertolongan adalah tanda kelemahan.
Padahal, menyadari keterbatasan diri dan berani membuka ruang bagi orang lain untuk hadir justru merupakan bentuk kedewasaan.
Dalam konteks inilah saya melihat pentingnya grow mindset. Kegagalan tidak harus selalu dimaknai sebagai akhir.
Kesalahan tidak harus selalu menjadi alasan untuk berhenti. Dalam grow mindset, kegagalan dan kesalahan dapat ditempatkan sebagai bagian dari proses belajar.
Seseorang tidak harus langsung benar pada percobaan pertama. Kita boleh salah, kita boleh gagal, dan kita boleh mencoba kembali. Bahkan, dalam perjalanan tertentu, kita mungkin harus mengalami kegagalan berkali-kali sebelum akhirnya menemukan cara yang tepat.
Hal yang terpenting bukan seberapa sering kita jatuh, tetapi apa yang kita bawa dari setiap kejatuhan tersebut.
Cara pandang semacam ini terasa penting bagi perempuan muda. Kita hidup dalam lingkungan sosial yang terkadang memberikan begitu banyak standar mengenai seperti apa perempuan yang dianggap berhasil.
Perempuan dituntut untuk berpendidikan, berprestasi, mandiri, mampu berorganisasi, memiliki karier, menjaga relasi sosial sekaligus memenuhi berbagai ekspektasi keluarga dan masyarakat.
Ketika salah satu dari semua itu tidak berjalan sesuai harapan, kita sering kali langsung mempertanyakan diri sendiri.
Kita bertanya apakah kita kurang pintar, kurang kuat, kurang bekerja keras atau kurang layak untuk mendapatkan keberhasilan.
Padahal, mungkin persoalannya bukan karena kita tidak cukup baik, tetapi karena kita sedang berada dalam sebuah proses pembelajaran yang memang membutuhkan waktu.
Dari sana saya belajar bahwa mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan ketika mengalami kegagalan bukan hanya “Mengapa saya gagal?”, melainkan “Apa yang dapat saya pelajari dari kegagalan ini?”.
Perubahan pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap cara kita melihat diri sendiri. Ketika kegagalan dipandang sebagai pembelajaran, kita tidak lagi menjadikan satu kesalahan sebagai identitas diri.
Kita gagal melakukan sesuatu, tetapi bukan berarti kita adalah manusia yang gagal. Kita melakukan kesalahan, tetapi bukan berarti seluruh diri kita adalah sebuah kesalahan.
Ada jarak antara pengalaman buruk dan identitas seseorang dan di dalam jarak itulah terdapat kesempatan untuk bertumbuh.
Namun, grow mindset juga tidak berarti bahwa kita harus mengulangi hal yang sama tanpa batas.
Justru proses bertumbuh membutuhkan kemampuan untuk melakukan evaluasi. Jika sesuatu yang kita lakukan secara berulang menghasilkan perkembangan yang baik, pengalaman tersebut dapat memperkuat kemampuan dan membentuk ketahanan diri.
Pengulangan dapat membuat seseorang semakin terampil, semakin matang dan semakin memahami dirinya sendiri.
Tetapi jika sesuatu yang dilakukan berulang-ulang justru membawa kita kepada kemunduran, kejatuhan atau persoalan yang semakin besar, maka kita harus memiliki keberanian untuk bertanya kembali apakah langkah yang kita ambil memang sudah benar.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena bertahan tidak selalu berarti terus berjalan ke arah yang sama. Terkadang, bentuk keberanian yang paling besar justru adalah berhenti sejenak untuk melakukan evaluasi.
Ada saat ketika kita perlu mengubah strategi. Ada waktu ketika kita harus mengakui bahwa keputusan sebelumnya tidak tepat. Ada keadaan ketika kita perlu meninggalkan sesuatu yang ternyata tidak membawa kebaikan.
Dan ada pula masa ketika kita harus memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memulai kembali. Resiliensi dengan demikian bukan sekadar kemampuan untuk terus memaksa diri berjalan, melainkan kemampuan untuk memahami keadaan dan menentukan langkah yang lebih tepat setelah mengalami kegagalan.
Bagi saya, hal ini juga memiliki kaitan erat dengan kehidupan organisasi. Sebagai Ketua KOPRI PC PMII Blitar, saya melihat bahwa proses kaderisasi dan kepemimpinan tidak mungkin melahirkan manusia yang langsung sempurna.
Seorang kader belajar melalui pengalaman. Ia belajar dari rapat yang tidak berjalan sesuai rencana, program yang tidak mencapai target, komunikasi yang kurang tepat, keputusan yang ternyata memiliki kekurangan, hingga kritik yang terkadang terasa menyakitkan.
Semua pengalaman tersebut sebenarnya merupakan ruang belajar. Organisasi seharusnya tidak hanya menjadi tempat bagi seseorang untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga menjadi ruang yang aman bagi kader untuk mencoba, melakukan kesalahan, menerima kritik, mengevaluasi diri, dan mencoba kembali.
Karena itu, saya merasa bahwa grow mindset seharusnya tidak hanya dipahami sebagai konsep pengembangan diri secara individual.
Namun juga perlu menjadi budaya dalam organisasi. Kita membutuhkan organisasi yang mampu memberikan ruang tumbuh kepada kadernya.
Organisasi tidak boleh hanya menghargai mereka yang berhasil dan kemudian mengabaikan mereka yang gagal.
Sebaliknya, organisasi harus mampu melihat bahwa proses seseorang untuk menjadi matang sering kali justru dibentuk oleh pengalaman ketika ia menghadapi kegagalan.
Dari sanalah karakter, ketahanan, tanggung jawab, dan kemampuan memimpin perlahan tumbuh.
Dalam konteks perempuan, pembicaraan mengenai resiliensi juga menurut saya tidak boleh berhenti pada kalimat bahwa perempuan harus kuat.
Perempuan memang perlu memiliki ketangguhan, tetapi perempuan juga berhak mengakui bahwa dirinya lelah. Perempuan berhak mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Perempuan berhak meminta bantuan ketika menghadapi persoalan. Kita tidak perlu membangun definisi tentang perempuan kuat sebagai perempuan yang selalu mampu menanggung semuanya seorang diri.
Justru perempuan yang mampu mengenali keterbatasannya, mencari dukungan, belajar dari pengalaman, dan kemudian kembali bangkit merupakan bagian dari gambaran tentang ketangguhan yang lebih manusiawi.
Tema Grow, Connect, Lead dalam WOMEN INITIATIVE Camp bagi saya menjadi sangat relevan dengan pemikiran tersebut.
Pertumbuhan tidak mungkin dilepaskan dari koneksi dengan orang lain, dan koneksi yang sehat pada akhirnya dapat melahirkan kepemimpinan yang memiliki kepedulian.
Kita perlu bertumbuh agar mengenal diri sendiri. Kita perlu terhubung agar memahami pengalaman orang lain. Setelah itu, kita perlu memimpin bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk menciptakan ruang agar orang lain dapat bertumbuh bersama.
Kepemimpinan perempuan juga tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai. Kepemimpinan dapat terlihat dari seberapa banyak ruang yang mampu kita buka bagi perempuan lain.
Seorang pemimpin bukan hanya seseorang yang berdiri paling depan, tetapi juga seseorang yang bersedia memastikan bahwa mereka yang berjalan di belakangnya tidak tertinggal.
Dalam organisasi, kepemimpinan semestinya tidak menciptakan ketakutan terhadap kesalahan, melainkan keberanian untuk belajar dari kesalahan.
Akhirnya, saya pulang dari Jombang dengan sebuah kesadaran sederhana bahwa hidup bukan perlombaan untuk selalu menang.
Ada masa ketika kita berhasil dan ada masa ketika kita gagal. Ada waktu ketika perjuangan kita mendapatkan apresiasi dan ada pula saat ketika kerja keras kita tidak dilihat oleh siapa pun.
Namun semua itu tidak serta-merta menentukan nilai diri kita. Kegagalan bukan identitas. Kesalahan bukan akhir. Kejatuhan bukan alasan untuk berhenti selamanya.
Kita boleh gagal berkali-kali. Kita boleh mengulang perjalanan. Kita boleh pulang sejenak untuk mengambil napas sebelum kembali melangkah.
Tetapi setiap kali mencoba kembali, kita harus membawa sesuatu yang baru berupa pengalaman, evaluasi serta kesadaran.
Sebab apabila sesuatu yang kita lakukan berulang kali justru membawa kita pada kemunduran, mungkin yang perlu diubah bukan seberapa keras kita bertahan, melainkan arah langkah yang kita pilih.
Mungkin kita memang harus belajar berjalan dengan cara yang berbeda. Mungkin kita harus menerima bahwa tidak semua jalan yang pernah kita pilih harus dipertahankan.
Dan mungkin, di situlah makna resiliensi yang sesungguhnya, bukan menjadi manusia yang tidak pernah jatuh, melainkan menjadi manusia yang mampu memahami mengapa ia jatuh, belajar dari kejatuhan tersebut, kemudian memiliki keberanian untuk bangkit dan menentukan langkah berikutnya.
Hidup memang keras. Tetapi kita tidak harus menghadapinya seorang diri. Kita dapat tumbuh melalui kegagalan, terhubung melalui pengalaman, dan memimpin dengan membawa seluruh proses yang pernah membentuk diri kita.
Karena pada akhirnya, menjadi kuat bukan tentang tidak pernah terluka. Menjadi kuat adalah tentang mampu menjadikan luka sebagai pengetahuan, menjadikan kegagalan sebagai pembelajaran, dan menjadikan setiap kejatuhan sebagai alasan untuk kembali bertumbuh.

