Artikel Soccer
Beranda » Fakta menarik sepak bola Blitar yang jarang Anda tahu

Fakta menarik sepak bola Blitar yang jarang Anda tahu

PSBI saat bermain di Stadion Supriyadi Kota Blitar. (Foto: PSBI)
PSBI saat bermain di Stadion Supriyadi Kota Blitar. (Foto: PSBI)

Blitar – Ketika nama Blitar disebut, pikiran banyak orang langsung tertuju pada citranya sebagai Kota Proklamator dan tempat peristirahatan terakhir Sang Putra Fajar, Bung Karno.

Namun, di balik aura sejarah perjuangan bangsa yang kental, Bumi Penataran ini ternyata turut menggoreskan tinta emas dan kelam dalam babad sepak bola nasional.

Kisah-kisah ini sering kali luput dari sorotan, padahal menyimpan fakta-fakta yang bisa mengubah cara kita memandang sejarah sepak bola lokal. Mari kita ungkap tiga fakta paling mengejutkan dari kancah sepak bola Blitar.

Casemiro dipastikan tinggalkan Manchester United, biaya empat musim diperkirakan sentuh Rp2,4 Triliun

1. Mitos Tahun Berdiri PSBI: Sejarah yang Perlu Diluruskan

Miskonsepsi Umum

Banyak kalangan, mulai dari suporter setia hingga berbagai literatur populer, meyakini bahwa Persatuan Sepakbola Blitar Indonesia (PSBI) berdiri pada tahun 1928.

Angka ini menempatkan PSBI sebagai salah satu klub tertua di Indonesia, sejajar dengan nama-nama legendaris lainnya. Namun, sebuah temuan sejarah menyingkap fakta yang berbeda.

Fakta Korektif

Berdasarkan bukti dari sumber primer, yaitu surat kabar De Indische Courant tertanggal 29 Januari 1941, terungkap bahwa tanggal pendirian PSBI yang sebenarnya adalah 1 Februari 1931.

Arsenal kukuhkan 2 besar Liga Champions Eropa, City terseret di lingkar Arktik

Berita tersebut melaporkan secara eksplisit tentang rencana perayaan ulang tahun ke-10 klub yang akan digelar pada 1 Februari 1941, yang secara logis menunjuk tahun 1931 sebagai tahun kelahirannya.

Analisis dan Refleksi

Pelurusan sejarah ini sangat penting karena menempatkan PSBI dalam konteks yang tepat. PSBI lahir sebagai bagian dari gelombang pembentukan klub-klub pribumi pasca lahirnya PSSI pada tahun 1930.

Kelahirannya adalah bentuk perlawanan simbolis terhadap dominasi sepak bola kolonial yang eksklusif. Lebih dari itu, PSBI adalah salah satu dari sedikit klub di Indonesia yang tidak pernah mengganti namanya sejak pertama kali berdiri, sebuah bukti konsistensi identitas yang luar biasa.

Jonathan Wilson: Formasi bukan tujuan, tapi alat

Eksistensi mereka saat itu bahkan diakui sangat vital, seperti yang tersirat dalam kutipan surat kabar berikut.

“Kami mengucapkan yang terbaik kepada klub yang merayakan ulang tahun ini, karena saat ini mereka adalah satu-satunya klub yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan di dunia sepak bola kita.”

2. Juara yang Sirna: Kisah Singkat Blitar United

Awal yang Menjanjikan

Pada tahun 2012, lahir sebuah klub baru bernama Blitar United dengan julukan “The Black Cats”. Kemunculannya membawa angin segar dan harapan baru bagi sepak bola Blitar, yang puncaknya tercapai dalam waktu relatif singkat.

Sepak bola modern: Ketika pelatih mengendalikan segalanya

Prestasi Puncak

Tahun 2017 menjadi momen bersejarah bagi Blitar United. Mereka berhasil menjuarai kompetisi Liga 3 Nasional setelah menaklukkan Persik Kendal dengan skor 2-1 di Stadion Bumi Kartini, Jepara. Kemenangan ini seharusnya menjadi fondasi untuk membangun era baru yang cerah dan melambungkan nama Blitar di kancah nasional.

Poin Balik yang Mengejutkan

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Di tengah euforia dan pencapaian gemilang, klub ini secara mengejutkan dijual kepada PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB). Alih-alih membangun kesuksesan di kota asalnya, Blitar United justru tercerabut dari akarnya.

Dampak dan Analisis

Konsekuensi dari penjualan tersebut sangat jelas: Blitar United berpindah markas ke Bandung dan berubah fungsi menjadi klub satelit untuk Persib Bandung.

Total Football: Ketika posisi dalam sepak bola tidak lagi kaku

Kisah Blitar United adalah sebuah parabel pahit dalam sepak bola modern Indonesia: prestasi di lapangan hijau bisa dengan mudah dimentahkan oleh transaksi di ruang rapat, meninggalkan suporter sebagai penjaga kenangan yang tak berdaya.

3. Era Keemasan Berkat ‘Bupati Gila Bola’

Konteks Era Keemasan

Puncak kejayaan PSBI Blitar tidak terjadi di era milenium, melainkan pada periode 1970-an. Pada masa inilah, PSBI bertransformasi dari klub daerah biasa menjadi tim yang sangat disegani di panggung sepak bola nasional.

Peran Tokoh Kunci

Motor penggerak di balik kesuksesan ini adalah Bupati Blitar saat itu, Sanusi Prawirodihardjo (menjabat 1965-1974). Kecintaannya yang luar biasa pada sepak bola membuatnya dijuluki sebagai “bupati gila bola”. Visi dan dukungannya yang total menjadi bahan bakar utama yang mendorong PSBI meraih prestasi tertinggi.

Italia dan catenaccio, cara bertahan dalam sepak bola sebagai seni

Langkah Strategis

Langkah paling strategis yang diambil Bupati Sanusi adalah mendatangkan legenda hidup sepak bola Indonesia, Andi Ramang, untuk melatih PSBI. Tidak hanya datang sebagai pelatih, Ramang juga membawa serta beberapa pemain binaannya dari klub sebelumnya, Persipal Palu, serta beberapa talenta dari PSM Makassar, yang secara instan meningkatkan kualitas tim.

Puncak Prestasi

Hasilnya sangat fenomenal. Pada kompetisi Perserikatan tahun 1973, PSBI Blitar berhasil menembus babak delapan besar. Mereka bersaing ketat dengan klub-klub elite tanah air seperti Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, PSM Makassar, Persipura Jayapura, dan Persib Bandung.

Pada akhir turnamen, PSBI finis di peringkat ke-6, sebuah pencapaian luar biasa yang mengukir nama Blitar dalam sejarah sepak bola nasional.

Ketika sepak bola mulai berpikir, lahirnya formasi dan peran

Refleksi dan Penurunan

Era ini adalah bukti nyata bagaimana sinergi antara pemimpin daerah yang peduli dan pembinaan olahraga yang serius dapat melahirkan prestasi besar. Namun, kisah ini juga menyisakan pelajaran penting.

Setelah Bupati Sanusi wafat, prestasi PSBI mengalami penurunan drastis, yang menunjukkan betapa vitalnya dukungan seorang pemimpin dalam menjaga keberlangsungan kejayaan sebuah tim.

Penutup: Gairah yang Tak Pernah Padam

Dari pelurusan sejarah PSBI yang menegaskan identitasnya, era keemasan di bawah ‘bupati gila bola’ yang membuktikan potensi besarnya, hingga ironi tragis Blitar United yang juara lalu dijual—sejarah sepak bola Blitar adalah cerminan kebanggaan lokal yang beradu dengan kekuatan eksternal.

Kata Jonathan Wilson, bagaimana taktik sepak bola berkembang: Dari kerumunan ke sistem

Kisah-kisah ini adalah bukti betapa dalam gairah sepak bola mengakar di Bumi Penataran. Pertanyaannya kini, mampukah generasi baru sepak bola Blitar mengukir kembali sejarah emas mereka di panggung nasional?

×