Artikel
Beranda » Fakta mengejutkan stasiun kereta api di Blitar yang jarang diketahui

Fakta mengejutkan stasiun kereta api di Blitar yang jarang diketahui

Stasiun di Garum Blitar. (Foto: Ahmad/Bicarablitar.com)

Blitar – Ketika mendengar nama Blitar, pikiran banyak orang langsung tertuju pada sosok Presiden Soekarno dan makamnya yang megah. Stasiun utamanya yang ikonik pun sering kali menjadi gerbang pertama bagi para peziarah dan wisatawan.

Namun, di balik citra yang lekat dengan Sang Proklamator, jaringan perkeretaapian di Blitar menyimpan banyak fakta tak terduga. Mari kita bongkar lapisan-lapisan sejarah yang tersembunyi di balik derit roda kereta dan peluit stasiunnya.

Lima Fakta Mengejutkan tentang Perkeretaapian di Blitar

Istighotsah Kubro satu abad NU Blitar Raya, jadi tirakat langit halau krisis moral bangsa

1. Dari Bapak Bangsa hingga Bapak Penerbangan: Jejak Soekarno dan Anthony Fokker di Stasiun Blitar

Stasiun Blitar memang sangat lekat dengan citra Bung Karno. Sejak stasiun ini direnovasi pada periode 2013-2014, poster besar Sang Proklamator terpasang di aula utama untuk mengenang jasa-jasanya, menyambut setiap penumpang yang datang dan pergi.

Namun, ada fakta lain yang jauh lebih jarang diketahui. Anthony Fokker, perintis aviasi dunia dan pendiri perusahaan pesawat Fokker, ternyata lahir di Blitar pada 6 April 1890. Ayahnya adalah seorang pemilik perkebunan kopi di wilayah tersebut.

Dipercaya bahwa Fokker kecil, sebelum keluarganya pindah kembali ke Belanda, pernah menggunakan akses transportasi di Stasiun Blitar. Secara tak terduga, stasiun ini menjadi saksi bisu jejak dua tokoh besar dunia dalam bidang yang sangat berbeda: politik kebangsaan dan teknologi dirgantara.

Jadwal CGV Blitar hari ini dan harga tiket Januari 2026

2. Satu Wilayah, Dua ‘Komando’: Uniknya Jaringan Stasiun Blitar di Bawah Naungan Daop Berbeda

Siapa sangka, di balik kesatuan geografis Blitar Raya, terdapat perbatasan administratif perkeretaapian yang tak terlihat oleh penumpang.

Meskipun berada dalam satu wilayah, enam stasiun aktif di Kota dan Kabupaten Blitar dikelola oleh dua Daerah Operasi (Daop) PT KAI yang berbeda, menciptakan keunikan operasional yang tersembunyi.

Pembagian unik ini adalah sebagai berikut:

Panduan lengkap membeli tiket kereta api lokal Blitar: commuter line Dhoho dan Penataran

  • Daop 7 Madiun: Mengelola Stasiun Blitar, Stasiun Garum, dan Stasiun Talun.
  • Daop 8 Surabaya: Mengelola Stasiun Wlingi, Stasiun Kesamben, dan Stasiun Pohgajih.

Perubahan ini terbilang baru, karena Stasiun Blitar, Garum, dan Talun baru dipindahkan dari naungan Daop 8 Surabaya ke Daop 7 Madiun sejak 1 Agustus 2016.

Fakta ini menunjukkan bagaimana sebuah jaringan transportasi bisa memiliki struktur manajemen yang terbelah, sebuah kompleksitas di balik layar yang jarang disadari.

3. Bukan Sekadar Tempat Transit: Stasiun Blitar sebagai Mesin Ekonomi Kolonial

Jauh sebelum dikenal sebagai gerbang pariwisata, Stasiun Blitar adalah mesin penggerak ekonomi kolonial. Diresmikan oleh Staatsspoorwegen (SS) pada 16 Juni 1884, tujuan utamanya bukanlah mengangkut orang, melainkan menjadi corong pengumpul hasil bumi yang melimpah dari lereng Gunung Kelud.

5 fakta mengejutkan tentang Blitar yang jarang diketahui

Kereta-kereta yang berangkat dari sini mengangkut beragam komoditas berharga, seperti kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong, dan kelapa.

Untuk menopang peran vital ini, stasiun ini dulunya dilengkapi fasilitas operasional berat, termasuk depo lokomotif, depo kereta, menara air, hingga jalur putar lokomotif. Semua ini adalah bukti bahwa Stasiun Blitar dirancang sebagai hub industri yang sibuk, bukan sekadar tempat singgah di kota kecil.

4. Enam Pintu Gerbang Kereta Api: Jaringan Rel Blitar Raya Ternyata Lebih Luas dari yang Anda Kira

Banyak yang mengira Stasiun Blitar adalah satu-satunya pintu gerbang kereta api di wilayah ini. Faktanya, Blitar Raya memiliki total enam stasiun yang hingga kini masih aktif, yaitu Stasiun Blitar, Garum, Talun, Wlingi, Kesamben, dan Pohgajih.

Komite Ekraf Blitar siapkan creative hub bagi kreator lokal

Tentu saja, peran keenam stasiun ini berbeda. Stasiun Blitar adalah stasiun utama Tipe B Besar yang melayani semua kelas kereta. Sementara stasiun seperti Garum dan Talun (Kelas III) hanya melayani pemberhentian Commuter Line Dhoho dan Penataran.

Di sisi lain, ada Stasiun Pohgajih, stasiun paling timur di wilayah Blitar, yang fungsinya lebih sering untuk persilangan kereta api daripada menaik-turunkan penumpang.

5. Kontras Fasilitas dan Layanan: Potret Modernisasi yang Tak Merata

Kisah ini menyoroti modernisasi yang belum merata di jaringan kereta Blitar. Di satu sisi, Stasiun Blitar menawarkan fasilitas lengkap layaknya stasiun modern, dengan ruang tunggu ber-AC, mushola, toilet difabel, hingga ruang laktasi.

Pelantikan Raya PMII UNU Blitar, Ketua Komisariat dorong penguatan ideologi dan perlindungan kader di kampus

Namun, gambaran ini menjadi lebih kompleks saat kita melihat Stasiun Wlingi. Meskipun berstatus Kelas II, melayani beberapa kereta api jarak jauh, dan memiliki fasilitas dasar seperti ruang tunggu dan toilet difabel, sebuah studi menemukan ketiadaan fasilitas krusial yang diamanatkan hukum: ruang laktasi.

Menurut studi tersebut, hal ini disebabkan oleh faktor seperti keterbatasan ruang dan kurangnya pengetahuan pegawai. Ini adalah potret “kepatuhan selektif” terhadap standar pelayanan minimum, yang menunjukkan adanya kesenjangan layanan signifikan bahkan dalam satu wilayah yang sama.

Kesimpulan: Rel Kereta yang Menyimpan Cerita

Dari jejak tak terduga perintis aviasi dunia, perbatasan administratif yang tak kasat mata, warisannya sebagai mesin ekonomi kolonial, hingga potret modernisasi yang tak merata, jaringan kereta api Blitar adalah sebuah mikrokosmos sejarah Indonesia. Rel-rel ini membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar sarana transportasi; ia adalah arsip hidup yang merekam denyut perkembangan sebuah daerah.

KOPRI PC PMII Blitar dukung langkah KOPRI PKC PMII Jatim kawal penyelesaian kasus kekerasan seksual

Setelah mengetahui fakta-fakta ini, kisah tersembunyi apa lagi yang menurut Anda tersimpan di sepanjang rel kereta api di kota Anda?

×