Ilustrasi mahasiswa yang berdemonstrasi (Dok. ist)
Selalu ada sebuah kebohongan kecil yang terus diulang setiap saat di organisasi mahasiswa yakni bahwa semua rapat bertujuan memperjuangkan keadilan.
Padahal, jika didengarkan lebih saksama, sebagian besar rapat itu hanyalah latihan berbicara aman agar tidak salah posisi, tidak salah relasi serta tidak salah masa depan.
Ketidakadilan selalu dibahas di awal. Seperti doa pembuka, setelahnya agenda inti dimulai dengan pembagian peran, penentuan struktur ataupun diskusi panjang tentang siapa paling pantas memegang apa.
Ironisnya, semua dilakukan dengan wajah serius, seolah sedang menyusun peta perubahan dunia. Sehingga organisasi mahasiswa hari ini bukan kekurangan idealisme, mereka justru kelebihan perhitungan.
Jabatan di organisasi mahasiswa diperlakukan seperti simbol kedewasaan politik. Semakin cepat naik struktur semakin dianggap matang. Padahal yang sering terjadi, semakin tinggi posisi, semakin tipis keberanian.
Kritik mulai disaring nada pun diturunkan. Kalimat dipoles rapi. Semua ini dilakukan demi satu tujuan mulia yang jarang diakui yakni, jangan sampai salah langkah.
Ketidakadilan pun diposisikan dengan hati-hati. Tidak boleh terlalu dekat agar tidak merepotkan. Tidak boleh terlalu jauh agar tetap relevan. Masalah ketidakadilan menjadi properti panggung cukup untuk difoto dan dikutip, tapi tidak untuk diperjuangkan sampai tuntas.
Demonstrasi berubah menjadi rutinitas administratif. Mulai buat spanduk, orasi disampaikan, dokumentasi diamankan. Setelah itu, di pos di sosial media organisasi atau berita. Selesai. Tidak ada tindak lanjut dan eskalasi pasca itu.
Karena yang penting kegiatan berjalan sesuai rencana dan tidak mengganggu relasi yang sedang dibangun. Inilah seni paling canggih yang dikuasai organisasi mahasiswa yaitu meniru perlawanan tanpa benar-benar melawan.
Mahasiswa yang bertanya terlalu jauh dianggap tidak paham strategi. Yang menolak kompromi dicap emosional. Yang berani melawan arus disebut tidak siap memimpin. Sementara mereka yang paling pandai menyesuaikan diri justru dianggap kader terbaik karena tahu kapan harus diam.
Bahasa perjuangan tetap digunakan, tapi maknanya berubah total. “Rakyat” menjadi kata serbaguna yang tidak perlu ditemui. “Gerakan” berarti agenda. “Perubahan” berarti rotasi jabatan. Semua terdengar sibuk, padahal ujungnya tidak ke mana-mana tumbuh pun tidak.
Paling menyedihkan, praktik ini sering dibenarkan sebagai proses pendewasaan. Seolah keberanian memang harus ditinggalkan demi karier.
Seakan integritas adalah fase, bukan prinsip hidup. Seolah organisasi mahasiswa memang ditakdirkan menjadi ruang latihan sebelum masuk ke dunia yang lebih realistis alias dunia yang sama-sama tidak jujur.
Maka jangan heran jika banyak alumni organisasi mahasiswa tumbuh menjadi sosok yang fasih berbicara, tapi gagap bersikap. Pandai menjelaskan, tapi enggan mengambil resiko. Mereka terbiasa mengatur orang lain, tapi tidak pernah benar-benar belajar menantang ketidakadilan yang nyata.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengerdilkaan organisasi mahasiswa. Justru sebaliknya ini adalah upaya untuk mengingatkan organisasi yang terlalu sibuk menjaga masa depan kadernya akan kehilangan alasan keberadaannya hari ini.
Akhir kata, jika tulisan ini membuat tidak nyaman mungkin karena tulisan ini sedang membicarakan sesuatu yang selama ini kita pilih untuk diamkan.

