Blitar – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat. Sejumlah nama mengemuka dan menjadi perbincangan luas di kalangan warga Nahdliyin di berbagai daerah.
Ketua Bidang Hukum dan Media PBNU, Prof Moh Mukri, menilai munculnya banyak nama menjelang muktamar merupakan hal yang wajar dan justru mencerminkan sehatnya proses demokrasi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Menurutnya, dinamika ini menunjukkan penyampaian aspirasi yang sehat dari berbagai elemen organisasi.
Delapan nama yang masuk bursa
Sedikitnya terdapat delapan nama yang kini ramai diperbincangkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, yakni KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Dr. KH Marsudi Syuhud, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Zulfa Mustofa, serta Menteri Agama KH Nasaruddin Umar.
Kemunculan delapan nama tersebut menunjukkan bahwa kontestasi kepemimpinan PBNU berpotensi berlangsung dinamis. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pengurus PBNU, pengasuh pesantren, pimpinan wilayah NU, hingga tokoh dengan jaringan pesantren yang luas.
Gus Yahya sebagai petahana pastikan maju kembali
Ketua Umum PBNU petahana, KH Yahya Cholil Staquf, telah menyatakan niatnya untuk kembali memimpin PBNU sejak 22 Juli 2026. Ia ingin melanjutkan sekaligus menyempurnakan berbagai agenda strategis yang telah dirintis selama masa kepemimpinannya, termasuk agenda transformasi digital dalam tata kelola organisasi NU.
Sistem manajemen digital yang dikembangkan PBNU disebut mulai diterapkan hingga tingkat cabang dan sebagian Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), menjadi salah satu capaian yang ingin dilanjutkan Gus Yahya jika kembali terpilih pada periode mendatang.
Isu strategis di luar pemilihan ketua
Muktamar NU bukan hanya menjadi forum untuk memilih Ketua Umum PBNU, tetapi juga momentum menentukan arah perjalanan jam’iyah pada periode berikutnya. Sejumlah isu strategis seperti penguatan khidmat kepada umat, konsolidasi organisasi, kemandirian ekonomi, dan penguatan pesantren diperkirakan menjadi bagian penting pembahasan.
Rekam jejak masing-masing kandidat
Setiap nama yang masuk bursa calon memiliki rekam jejak dan basis dukungan yang berbeda-beda di lingkungan NU. Sebagian merupakan pengurus PBNU yang telah lama berkecimpung di level pusat, sementara sebagian lain merupakan pengasuh pesantren besar dengan pengaruh kuat di wilayah masing-masing.
Keberagaman latar belakang kandidat ini mencerminkan luasnya basis kepemimpinan potensial di tubuh NU, sekaligus menunjukkan bahwa regenerasi kepemimpinan organisasi tidak hanya bertumpu pada segelintir tokoh senior semata.
Mekanisme pemilihan lewat sistem Ahwa
Pemilihan Rais Aam PBNU akan menggunakan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), yakni sistem musyawarah oleh sembilan kiai sepuh terpilih, berbeda dengan pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah yang dilakukan melalui pemungutan suara langsung oleh muktamirin yang hadir.
Sejumlah pengamat organisasi keagamaan menilai dinamika bursa calon yang cukup ramai ini sebagai indikator sehatnya kaderisasi kepemimpinan di tubuh NU, di mana banyak tokoh potensial yang siap tampil memimpin organisasi pada periode mendatang.
Proses seleksi dan penjaringan calon di internal NU juga melibatkan berbagai forum informal, seperti silaturahmi antar kiai dan pertemuan wilayah, sebelum akhirnya nama-nama tersebut resmi dibawa ke forum Muktamar untuk ditetapkan sesuai mekanisme organisasi yang berlaku.
Warga Nahdliyin di berbagai daerah kini menantikan bagaimana dinamika bursa calon ini akan berkembang hingga hari pemilihan tiba, mengingat setiap nama membawa gagasan dan pendekatan kepemimpinan yang berbeda bagi masa depan organisasi.
Peran media dalam mengawal proses pemilihan
Berbagai media massa nasional maupun lokal turut mengerahkan tim liputan khusus untuk mengawal seluruh proses bursa calon hingga hari pemilihan berlangsung, memastikan publik mendapatkan informasi yang akurat dan berimbang.
Liputan mendalam terhadap dinamika bursa calon ini juga menjadi bagian dari edukasi publik mengenai mekanisme demokrasi internal yang dijalankan NU, sebuah organisasi yang telah berpengalaman menggelar suksesi kepemimpinan sejak puluhan tahun silam.
Foto: Sejumlah tokoh yang masuk bursa calon Ketua Umum PBNU tampil dalam berbagai forum jelang Muktamar ke-35 NU.

