Blitar – Kementerian Pertanian resmi meluncurkan program subsidi khusus bagi petani kecil yang menjalani praktik pertanian organik sebagai bagian dari strategi nasional menuju sistem pertanian berkelanjutan. Program ini menjadi angin segar bagi para petani yang selama ini kesulitan menanggung biaya produksi organik yang lebih tinggi dibandingkan metode konvensional.
Pertanian organik dinilai memiliki nilai jual yang lebih tinggi sekaligus lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan pupuk kimia sintetis atau pestisida berbahaya. Pemerintah mendorong transisi bertahap dari pertanian konvensional ke organik untuk menjaga kualitas lahan pertanian jangka panjang.
Jenis bantuan yang bisa diakses petani
Petani yang memenuhi syarat dapat mengakses dana bantuan untuk kebutuhan seperti pembelian benih organik bersertifikat, pupuk alami berupa kompos dan pupuk kandang, serta peralatan pertanian ramah lingkungan. Proses pengajuan dilakukan melalui kelompok tani yang sudah terdaftar di dinas pertanian setempat.
Selain bantuan modal, pemerintah juga menyediakan pelatihan teknis secara berkala. Petani akan dibimbing langsung oleh penyuluh pertanian lapangan mengenai teknik pengomposan, pengelolaan hama secara biologis, dan sertifikasi produk organik yang diperlukan untuk menembus pasar premium.
Target wilayah dan komoditas prioritas
Program ini menyasar ribuan petani di berbagai provinsi penghasil pertanian utama, termasuk Jawa Timur yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Komoditas prioritas meliputi padi, sayuran dataran tinggi, dan buah-buahan tropis yang memiliki permintaan tinggi di segmen organik.
Di Kabupaten Blitar misalnya, kawasan pertanian seperti Kecamatan Ponggok dan Kecamatan Selopuro memiliki lahan pertanian produktif yang berpotensi menjadi sentra pertanian organik jika didukung program dan infrastruktur yang tepat.
Pemerintah menargetkan Indonesia mampu mengekspor produk pertanian organik senilai lebih dari satu miliar dolar dalam lima tahun ke depan, menjadikan Indonesia pemain utama di pasar organik Asia Tenggara.

