Artikel Opini

Etika Kepemimpinan: Menyoal strukturalisme asal usul

Ilustrasi. Dok. Editor.

Ada penyakit kronis kepemimpinan yang sering luput dibicarakan dalam organisasi, yakni strukturalisme asal usul. 

Bahaya laten kepemimpinan serakah dan aji mumpung

Hal tersebut tidak selalu tampak sebagai pelanggaran aturan. Tidak pula selalu mudah dibuktikan sebagai penyalahgunaan kewenangan.

Namun gejalanya bisa dirasakan dari cara seorang ketua membagi perhatian, menentukan prioritas, membuka akses hingga memperlakukan struktur yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Masalahnya sederhana, tetapi dampaknya serius ketika seseorang sudah duduk sebagai ketua dalam struktur baru, apakah loyalitas utamanya masih kepada rumah lama atau kepada rumah bersama yang sekarang dipimpinnya?.

Sekretaris PC PMII Blitar bekali DEMA dan PMII STITMA “Rule of The Game” persidangan organisasi mahasiswa

Pertanyaan ini terdengar sederhana. Tetapi dalam praktiknya, tidak semua pemimpin mampu profesional serta tidak memihak.

Rumah Lama daripada Rumah Bersama

Memiliki sejarah perjuangan dengan struktur sebelumnya tentu bukan sebuah kesalahan. Setiap orang memiliki tempat di mana ia ditempa, belajar, menemukan jaringan bahkan mendapatkan kepercayaan politik organisasi.

Ketika organisasi mahasiswa lebih sibuk cari jabatan daripada melawan ketidakadilan

Hal yang menjadi persoalan adalah ketika masa lalu berubah menjadi kepentingan yang terus dibawa ke dalam kepemimpinan baru.

Ketua memang tidak harus melupakan rumah lamanya. Tetapi setelah menerima mandat, ia semestinya memahami bahwa dirinya bukan lagi hanya representasi dari struktur asal.

Ia telah menjadi bagian dari struktur bersama yang memiliki banyak kepentingan, banyak karakter dan banyak persoalan.

Apakah Organisasi Masih Relevan? Atau Hanya Membuang Waktu, Tenaga, dan Pikiran?

Di titik inilah etika kepemimpinan diuji. Sebab kepemimpinan bukan hanya tentang siapa yang paling dekat dengan ketua.

Kepemimpinan adalah tentang bagaimana seorang ketua mampu berdiri di tengah, melihat persoalan secara proporsional, kemudian memberikan perhatian berdasarkan kebutuhan organisasi bukan berdasarkan kedekatan emosional, sejarah struktural atau kalkulasi politik.

Jika perhatian justru lebih banyak mengalir kepada struktur yang pernah menjadi rumahnya, sementara struktur lain yang lebih sulit dibiarkan berjuang sendirian, maka pertanyaan yang muncul bukan lagi soal loyalitas. Sebenarnya siapa yang sedang dipimpin?.

Bahaya Strukturalisme Asal Usul dalam Organisasi

Strukturalisme asal usul dapat menjadi sangat berbahaya ketika mulai memengaruhi cara seorang pemimpin mengambil keputusan.

Hal itu bisa muncul dalam bentuk yang sangat halus. Misalnya, struktur tertentu lebih mudah mendapatkan akses kepada pimpinan.

Programnya lebih cepat mendapatkan perhatian. Persoalannya lebih cepat ditanggapi. Kader-kadernya lebih sering diajak berkomunikasi.

Bahkan dalam situasi tertentu, struktur asal dapat memperoleh semacam “karpet merah” yang tidak dirasakan oleh struktur lainnya.

Sementara itu, struktur yang tidak memiliki kedekatan historis dengan ketua harus bekerja lebih keras hanya untuk mendapatkan perhatian.

Ironisnya, kondisi seperti ini sering dibungkus dengan kalimat yang terdengar sangat normatif basi seperti, “Kita ini satu keluarga.”

Tetapi keluarga macam apa yang hanya hadir ketika keadaan sedang mudah?.

Ketika ada struktur yang sudah mapan, memiliki sumber daya, jaringan serta kader yang cukup, perhatian justru relatif mudah diberikan.

Namun ketika ada struktur yang sedang kesulitan, kekurangan kader, menghadapi konflik internal atau membutuhkan pendampingan serius, justru sering kali tidak mendapatkan perhatian yang sama

Di sinilah kualitas kepemimpinan sebenarnya terlihat. Pemimpin tidak diuji ketika semua struktur sudah berjalan baik.

Pemimpin diuji ketika ada struktur yang tertinggal dan membutuhkan tangan untuk ditarik ke atas.

Jangan Jadikan Jabatan sebagai Mesin Balas Jasa

Ada pula fenomena yang lebih mengkhawatirkan seperti, jabatan organisasi terkadang diperlakukan seperti ruang untuk membayar utang politik.

Orang-orang yang dahulu berjasa kemudian diprioritaskan. Lingkaran lama dipelihara. Relasi lama dan senior asal mendapatkan tempat khusus.

Sementara kader atau struktur yang tidak memiliki sejarah kedekatan dengan penguasa baru hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri.

Jika dibiarkan, organisasi perlahan berubah, bukan lagi tempat untuk membangun kader berdasarkan kapasitas, kebutuhan serta meritokrasi.

Serta berubah menjadi arena distribusi akses berdasarkan siapa dekat dengan siapa.

Hal inilah ketika aji mumpung dalam kepemimpinan organisasi mulai menemukan bentuknya.

Jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi kesempatan untuk memperpanjang pengaruh.

Struktur yang seharusnya menjadi ruang bersama berubah menjadi kendaraan mempertahankan jaringan lama.

Hal yang paling berbahaya adalah ketika semua itu dianggap normal hanya karena dilakukan oleh orang yang sedang memiliki kewenangan.

Sekali Lagi, Ketua Bukan Pemilik Organisasi

Seorang ketua perlu memahami satu hal yang sering dilupakan, mandat bukan kepemilikan!.

Ketua tidak memiliki organisasi. Ia hanya menerima mandat untuk mengelolanya dalam periode tertentu.

Karena itu, tidak ada alasan etis untuk memperlakukan organisasi seolah-olah merupakan perpanjangan dari rumah struktural asalnya.

Ketika seseorang telah menjadi ketua, ukuran keberhasilannya seharusnya bukan seberapa kuat struktur asalnya berkembang, melainkan seberapa sehat keseluruhan struktur yang menjadi tanggung jawabnya.

Ketua yang baik tidak bertanya, “Struktur mana yang dulu bersama saya?. Tetapi bertanya, “Struktur mana yang hari ini paling membutuhkan kehadiran organisasi?”.

Perbedaannya sangat sederhana. Tetapi dari pertanyaan itulah karakter seorang pemimpin dapat dibaca.

Mengapa Struktur yang Sulit Justru Sering Terabaikan?

Hal ini menjadi paradoks yang cukup menyedihkan dalam banyak organisasi.

Struktur yang sudah kuat biasanya mudah mendapatkan perhatian karena memberikan keuntungan politik dan citra keberhasilan.

Kegiatannya ramai, kadernya banyak, programnya terlihat dan hasilnya mudah dipamerkan.

Sebaliknya, struktur yang sedang kesulitan membutuhkan lebih banyak energi.

Mereka membutuhkan pendampingan, membutuhkan konsolidasi, membutuhkan kaderisasi serta membutuhkan komunikasi yang intensif.

Bahkan terkadang membutuhkan kehadiran langsung dari pimpinan. Namun justru karena itulah struktur yang sulit sering dianggap sebagai beban.

Padahal, fungsi kepemimpinan bukan hanya merawat yang sudah tumbuh. Kepemimpinan juga bertugas menyelamatkan yang hampir tumbang.

Kalau ketua hanya datang kepada struktur yang sudah kuat, lalu mengabaikan struktur yang sedang berdarah-darah, jangan buru-buru menyebutnya sebagai keberhasilan kepemimpinan.

Bisa jadi itu hanya kenyamanan yang sedang diberi nama kepemimpinan.

Etika Kepemimpinan

Kesalahan terbesar dalam memahami etika kepemimpinan adalah menganggap etika hanya berkaitan dengan apakah seorang ketua melanggar aturan tertulis atau tidak.

Padahal, ada wilayah yang jauh lebih luas yakni kepantasan, keadilan, keberpihakan, transparansi sekaligus tanggung jawab moral.

Sesuatu bisa saja tidak dilarang dalam aturan organisasi, tetapi tetap tidak etis. Memberikan perhatian berlebihan kepada struktur tertentu mungkin tidak tercatat sebagai pelanggaran.

Tetapi jika pola itu berlangsung terus-menerus dan menciptakan ketimpangan perlakuan, maka organisasi berhak mempertanyakan moralitas kepemimpinannya.

Sebab kepemimpinan tidak hanya membutuhkan legalitas. Kepemimpinan membutuhkan legitimasi moral.

Legitimasi moral sendiri tidak lahir dari jabatan. Namun lahir dari keadilan dalam memperlakukan orang-orang yang berada di bawah mandatnya.

Organisasi Bukan Tempat Memelihara “Kerajaan Asal”

Jika setiap ketua membawa seluruh kepentingan struktural masa lalunya ke dalam jabatan baru, organisasi tidak akan pernah benar-benar menjadi rumah bersama.

Hal yang terjadi justru reproduksi kekuasaan. Hari ini struktur A mendapatkan keistimewaan karena kedekatan dengan ketua.

Besok, ketika terjadi pergantian kepemimpinan, struktur B melakukan hal yang sama. Akhirnya organisasi berjalan dalam siklus yang tidak pernah selesai siapa yang berkuasa, kelompoknyalah yang mendapatkan perhatian. Patut difahami ini bukan kaderisasi, tetapi adalah sirkulasi kepentingan.

Jika organisasi mahasiswa atau organisasi sosial-politik membiarkan pola semacam ini terus berlangsung, maka jargon tentang independensi, solidaritas, perjuangan serta kesetaraan hanya akan menjadi hiasan dalam sambutan.

Sebab di belakang panggung yang bekerja adalah logika lama, yang dekat dilayani, yang jauh diminta memahami.

Ketua Harus Berani Memutus Rantai Kepentingan

Pemimpin yang benar-benar matang justru berani memutus sebagian ikatan kepentingan masa lalunya.

Bukan berarti tidak menghargai orang-orang yang pernah berjuang bersamanya. Bukan pula berarti harus memutus silaturahmi dengan struktur terdahulu.

Tetapi ia harus mampu membedakan antara utang budi pribadi dan tanggung jawab organisasi. Keduanya tidak boleh dicampur.

Kawan lama tetap kawan, rumah lama tetap bagian dari sejarah. Tetapi mandat baru harus memiliki prioritas baru.

Jika kepemimpinan hari ini masih digunakan untuk mengurus kepentingan kemarin, lalu siapa yang akan mengurus persoalan hari ini?.

Jangan Sampai Rumah Bersama Hanya Menjadi Nama

Perrsoalan kepemimpinan bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi ketua. Hal yang jauh lebih penting adalah untuk siapa kursi itu digunakan. Apakah untuk memperluas manfaat organisasi?.

Apakah untuk memastikan setiap struktur memperoleh kesempatan yang adil?. Apakah untuk membantu mereka yang sedang kesulitan?. Atau justru untuk memastikan rumah lama tetap mendapatkan perhatian, sementara rumah bersama perlahan kehilangan penghuninya?.

Seorang ketua boleh memiliki sejarah. Boleh memiliki kelompok. Boleh memiliki kawan dekat. Bahkan boleh memiliki struktur yang sangat dicintainya.

Tetapi begitu mandat diberikan, ada satu batas yang harus dipahami, jabatan tidak boleh menjadi kendaraan untuk mengistimewakan asal-usul.

Organisasi bukan milik struktur yang paling dekat dengan ketua. Organisasi adalah milik seluruh kader yang mempercayakan mandat tersebut.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti mengukur seorang ketua dari seberapa sering ia tampil di depan forum, seberapa banyak struktur yang berhasil ia kunjungi, atau seberapa ramai program yang berhasil ia dokumentasikan

Ukuran yang lebih jujur justru jauh lebih sederhana, ketika ada struktur yang kuat, apakah ia tetap adil?. Ketika ada struktur yang lemah, apakah ia hadir?.

Ketika tidak ada kepentingan politik yang bisa dipetik, apakah ia masih mau membantu?.

Karena sesungguhnya karakter seorang pemimpin tidak terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang menguntungkan dirinya.

Karakter seorang pemimpin terlihat dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepadanya.

Lihat Semua Artikel Bicara Blitar
×