Blitar – Bendungan Wlingi menjadi salah satu infrastruktur sumber daya air paling vital di Kabupaten Blitar, berperan besar dalam menopang kebutuhan listrik dan irigasi pertanian di wilayah Blitar hingga Tulungagung. Bendungan ini terletak di perbatasan Desa Tumpang, Kecamatan Talun, dengan Desa Jegu, Kecamatan Sutojayan.
Dibangun untuk Membendung Lahar Kelud
Bendungan Wlingi awalnya dirancang untuk membendung material lahar dari Gunung Kelud yang terbawa tiga anak Sungai Brantas, yakni Sungai Lekso, Sungai Jari, dan Sungai Putih. Pembangunannya berlangsung sejak 1972 hingga rampung pada 1979, dengan biaya konstruksi mencapai 18,65 miliar yen, dikerjakan di bawah konsultan desain Nippon Koei asal Jepang.
Pemasok Listrik dan Irigasi Skala Besar
Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bendungan Wlingi memiliki kapasitas pasokan listrik 2 x 27 megawatt, menjadikannya salah satu sumber energi terbarukan penting di Jawa Timur. Selain listrik, bendungan ini bersama Bendung Lodoyo di hilirnya juga menjadi pemasok air irigasi bagi 12.200 hektare lahan pertanian yang tersebar di Kabupaten Blitar dan Tulungagung, mendukung ketahanan pangan kedua daerah tersebut.
Rutin Menjalani Flushing Tahunan
Setiap tahun, Perum Jasa Tirta I selaku pengelola melakukan flushing atau penggelontoran sedimen di Bendungan Wlingi dan Lodoyo, yang oleh warga sekitar akrab disebut dengan istilah “pladu”. Proses ini bertujuan mengangkat material vulkanis dari Gunung Kelud yang mengendap di dasar waduk, mengingat sedimentasi sempat membuat kapasitas tampungan Bendungan Wlingi menyusut signifikan dari kapasitas awal 5,2 juta meter kubik.
Selama proses flushing berlangsung, operasional PLTA Wlingi maupun Lodoyo dihentikan sementara, dan masyarakat diimbau tidak beraktivitas di sekitar aliran Sungai Brantas mengingat arus air bisa meningkat drastis dan membahayakan keselamatan.
Berkembang Jadi Destinasi Wisata
Di luar fungsi utamanya, kawasan Bendungan Wlingi turut berkembang menjadi destinasi wisata alternatif bagi warga sekitar, dengan pemandangan waduk yang cukup indah serta beberapa kedai kopi dan kafe yang bermunculan di sekitar kawasan bendungan. Kombinasi fungsi infrastruktur vital dan potensi wisata ini menjadikan Bendungan Wlingi salah satu aset penting yang terus dijaga kelestarian dan keberlanjutan fungsinya oleh pemerintah maupun masyarakat Blitar.
Perhatikan Keselamatan Saat Berkunjung
Meski menawarkan pemandangan yang indah, pengunjung tetap diimbau berhati-hati saat berada di sekitar area bendungan, terutama menghindari aktivitas di aliran sungai saat musim flushing tahunan berlangsung. Mematuhi imbauan petugas dan tidak nekat mendekati area berbahaya menjadi kunci utama agar kunjungan ke kawasan Bendungan Wlingi tetap aman dan menyenangkan.
Julukan Lain Sesuai Lokasinya
Karena letaknya yang berada di perbatasan dua desa, Bendungan Wlingi juga kerap disebut warga setempat dengan nama Bendungan Tumpang atau Bendungan Jegu, mengikuti nama desa terdekat. Keberagaman sebutan ini menunjukkan betapa lekatnya keberadaan bendungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar, yang telah merasakan manfaatnya selama puluhan tahun sejak pertama kali dibangun.

