Artikel Pop Culture
Beranda » Kelenteng Poo An Kiong, saksi keberagaman tertua di Blitar

Kelenteng Poo An Kiong, saksi keberagaman tertua di Blitar

Foto: unsplash.com/bibipace

Blitar – Kelenteng Poo An Kiong menjadi salah satu bangunan bersejarah paling tua di Kota Blitar, sekaligus simbol keberagaman yang telah tumbuh ratusan tahun di kota yang juga dikenal sebagai Bumi Bung Karno ini. Berlokasi di Jalan Merdeka Barat, kelenteng ini menjadi tempat ibadah Tridharma bagi umat Konghucu, Tao, dan Buddha di Blitar.

Berdiri Sejak Era Hindia Belanda

Kelenteng Poo An Kiong didirikan oleh komunitas Tionghoa yang bermukim di Blitar pada masa Hindia Belanda. Nama Poo An Kiong sendiri memiliki makna keselamatan dan perlindungan, mencerminkan harapan masyarakat Tionghoa saat itu agar senantiasa diberi keselamatan, baik bagi diri mereka maupun daerah tempat tinggalnya. Usia kelenteng ini bahkan tercatat lebih tua dibanding usia resmi Kota Blitar sebagai daerah otonom, menjadikannya salah satu cikal bakal penting perkembangan kota.

Bangkit Usai Kebakaran Besar 2022

Perjalanan panjang Kelenteng Poo An Kiong sempat diuji saat kebakaran besar melanda bangunan ini pada 12 November 2022 dini hari. Petugas pemadam kebakaran butuh waktu lebih dari empat jam untuk memadamkan api yang telah menghanguskan sebagian besar struktur utama kelenteng. Seluruh aktivitas ibadah pun terpaksa dipindahkan sementara ke sebuah ruko di Jalan Mawar.

Istana Gebang, rumah masa muda Bung Karno di Kota Blitar

Dibangun Kembali Lebih Modern

Berkat sumbangan umat dari dalam maupun luar negeri, termasuk perantau asal Blitar yang tinggal di Amerika, Jerman, dan Australia, kelenteng ini berhasil dibangun kembali dengan struktur yang lebih luas dan modern di lahan seluas sekitar 1.200 meter persegi. Bangunan baru ini dilengkapi basement untuk parkir dan penyimpanan, serta aula besar seluas 350 meter persegi yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan keagamaan maupun budaya.

Simbol Kerukunan yang Terus Dirayakan

Setiap tahun, kelenteng ini merayakan hari lahirnya dengan berbagai pertunjukan budaya khas Tionghoa, seperti seni perubahan topeng Bian Lian serta musik tradisional menggunakan alat musik erhu dan guzheng. Wali Kota Blitar bahkan pernah menegaskan langsung bahwa keberadaan Kelenteng Poo An Kiong menjadi bagian penting sejarah kota yang harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di Blitar.

Ramai Dikunjungi Saat Imlek

Momen Tahun Baru Imlek menjadi waktu paling ramai bagi Kelenteng Poo An Kiong, ditandai dengan berbagai rangkaian perayaan mulai dari sembahyang bersama hingga kirab barongsai yang mengelilingi kawasan sekitar kelenteng. Warga non-Tionghoa pun kerap turut menyaksikan kemeriahan perayaan ini, menegaskan bahwa kelenteng bukan hanya milik satu kelompok etnis, melainkan bagian dari kekayaan budaya bersama seluruh warga Kota Blitar.

Sejarah Stasiun Blitar, saksi bisu era kolonial hingga kini

Menyimpan Arsitektur Khas Tionghoa

Bangunan Kelenteng Poo An Kiong yang baru tetap mempertahankan elemen arsitektur khas Tionghoa, mulai dari ornamen atap melengkung hingga pagoda tempat pembakaran kertas doa yang menjadi bagian penting ritual sembahyang. Perpaduan antara nilai tradisional dan fasilitas modern ini menjadikan kelenteng semakin nyaman disinggahi umat maupun wisatawan yang ingin belajar lebih jauh tentang budaya Tionghoa di Blitar.

×