Artikel
Beranda » 5 fakta mengejutkan tentang Blitar yang jarang diketahui

5 fakta mengejutkan tentang Blitar yang jarang diketahui

Gapura masuk Kota Blitar.
Gapura masuk Kota Blitar. (Foto: Pemkot Blitar)

Blitar – Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama “Blitar” hampir selalu identik dengan satu hal: Makam Bung Karno. Kota ini memang memegang peranan penting sebagai tempat peristirahatan terakhir Sang Proklamator, menjadikannya destinasi ziarah kebangsaan yang utama. Identitas historis ini begitu kuat melekat sehingga sering kali menutupi wajah Blitar yang sesungguhnya.

Namun, di balik citra monumental ini, Blitar menyimpan kompleksitas yang jarang terungkap. Ia bukanlah entitas tunggal, melainkan sebuah kawasan dengan beragam identitas geografis, administrasi, dan sosial-ekonomi yang unik.

Jauh dari sekadar sebuah kota bersejarah, Blitar adalah sebuah mozaik wilayah yang ceritanya jauh lebih kaya dari yang kita bayangkan. Artikel ini akan mengungkap lima fakta mengejutkan yang akan mengubah cara Anda memandang Blitar, dari struktur pemerintahannya hingga potensi masa depannya.

Istighotsah Kubro satu abad NU Blitar Raya, jadi tirakat langit halau krisis moral bangsa

1. Ternyata, Ada “Dua Blitar” yang Berbeda Secara Administratif

Fakta fundamental pertama yang sering kali luput dari perhatian adalah bahwa Blitar bukanlah satu kesatuan wilayah administratif. Secara resmi, ada dua entitas yang berbeda: Kota Blitar dan Kabupaten Blitar. Keduanya merupakan daerah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri.

Secara geografis, Kota Blitar adalah sebuah enklave yang seluruh wilayahnya berada di dalam teritori Kabupaten Blitar. Akibatnya, sistem pemerintahan mereka pun terpisah. Kota Blitar dipimpin oleh seorang Walikota, sementara Kabupaten Blitar dipimpin oleh seorang Bupati.

Jadwal CGV Blitar hari ini dan harga tiket Januari 2026

Perbedaan ini juga tercermin dalam fokus ekonomi masing-masing. Kota Blitar, sebagai pusat urban yang lebih kecil dan padat, didominasi oleh sektor perdagangan dan jasa. Sebaliknya, Kabupaten Blitar yang memiliki wilayah jauh lebih luas, bertumpu pada sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonominya. Memahami dualisme ini adalah kunci pertama untuk melihat Blitar secara utuh, bukan hanya sebagai sebuah kota, tetapi sebagai sebuah kawasan yang dinamis.

2. Sungai Brantas Membelah Blitar Menjadi “Utara” dan “Selatan”

Jika pembagian administrasi memisahkan kota dan kabupaten, maka Sungai Brantas menciptakan pembelahan geografis yang signifikan di dalam wilayah Kabupaten Blitar itu sendiri. Aliran sungai yang membentang dari timur ke barat ini secara alami membagi kabupaten menjadi dua kawasan yang dikenal sebagai Blitar Utara dan Blitar Selatan, dengan karakteristik yang sangat berbeda.

Panduan lengkap membeli tiket kereta api lokal Blitar: commuter line Dhoho dan Penataran

Blitar Utara, yang terdiri dari 15 kecamatan di wilayah kabupaten (di luar tiga kecamatan yang membentuk Kota Blitar), merupakan wilayah dataran rendah dan tinggi pada ketinggian 105–349 meter di atas permukaan laut. Kedekatannya dengan Gunung Kelud yang masih aktif menjadikan tanah di kawasan ini sangat subur berkat material vulkanik, sehingga ideal untuk pertanian.

Sebaliknya, Blitar Selatan yang mencakup 7 kecamatan, memiliki topografi pesisir dan pegunungan berbatu dengan ketinggian 150–420 meter. Struktur tanahnya cenderung kurang subur. Empat dari tujuh kecamatan di selatan (Wates, Panggungrejo, Wonotirto, dan Bakung) bahkan memiliki garis pantai yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Perbedaan alamiah ini menjadi dasar bagi terbentuknya dua lanskap geo-ekonomi dan sosial yang kontras dalam satu wilayah kabupaten.

3. Ibukota Kabupaten Blitar Bukan di Kota Blitar

Fakta mengejutkan stasiun kereta api di Blitar yang jarang diketahui

Dengan adanya sebuah kota yang bernama sama di tengah-tengah wilayahnya, banyak orang secara logis akan berasumsi bahwa pusat pemerintahan atau ibukota Kabupaten Blitar terletak di Kota Blitar. Namun, asumsi ini keliru.

Faktanya, pusat pemerintahan Kabupaten Blitar tidak berada di Kota Blitar. Seluruh kegiatan administrasi dan perkantoran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar berpusat di Kecamatan Kanigoro. Fakta ini, meski sering diabaikan, merupakan penegasan krusial atas otonomi dan identitas administratif Kabupaten Blitar yang sepenuhnya terpisah dari kota yang dikelilinginya.

4. Skala Wilayah yang Tak Terduga: Satu Kecamatan Bisa Lebih Luas dari Seluruh Kota

Komite Ekraf Blitar siapkan creative hub bagi kreator lokal

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang perbedaan skala antara dua Blitar, mari kita lihat datanya. Kabupaten Blitar terdiri dari 22 kecamatan dengan total luas wilayah mencapai 1.588,79 km². Sementara itu, Kota Blitar digambarkan sebagai wilayah yang “jauh lebih kecil”.

Perbandingan ini menjadi semakin ekstrem ketika kita melihat ukuran kecamatan terluas di Kabupaten Blitar, yaitu Kecamatan Wonotirto, yang memiliki luas 164,54 km². Artinya, satu kecamatan saja—Wonotirto—memiliki wilayah yang secara definitif lebih luas daripada keseluruhan area Kota Blitar. Perbedaan skala yang masif ini memperkuat karakter yang berbeda dari keduanya: Kota Blitar sebagai pusat urban yang padat dan Kabupaten Blitar sebagai hamparan pedesaan dan alam yang sangat luas.

5. Ada Wacana Lahirnya “Blitar Ketiga”

PGSD UNU Blitar gelar Sendra Tari, tampilkan 12 tarian budaya khas kota dan Kabupaten Blitar

Perbedaan mendalam antara wilayah utara dan selatan Kabupaten Blitar tidak hanya berhenti pada aspek geografis, tetapi juga telah memicu wacana politik yang signifikan. Saat ini, terdapat sebuah diskursus atau usulan aktif untuk membentuk daerah otonomi baru bernama Kabupaten Blitar Selatan.

Wacana pemekaran ini mengusulkan agar tujuh kecamatan yang berada di sisi selatan Sungai Brantas—Wates, Binangun, Panggungrejo, Sutojayan (Lodoyo), Kademangan, Bakung, dan Wonotirto—memisahkan diri untuk membentuk kabupaten baru. Dalam usulan tersebut, Lodoyo (Kecamatan Sutojayan) direncanakan menjadi pusat pemerintahannya.

Signifikansi usulan ini diperkuat oleh data: calon kabupaten baru ini akan mencakup 43,42% (689,85 km²) dari total luas wilayah dan menaungi 24,80% (307.650 jiwa) dari total populasi Kabupaten Blitar saat ini. Gagasan ini bukan sekadar wacana politik, melainkan sebuah aspirasi yang harus menempuh jalur birokrasi yang panjang dan rumit, dari musyawarah di tingkat desa hingga persetujuan di tingkat provinsi dan pusat, sesuai amanat undang-undang.

3.132 sertipikat redistribusi tanah PPTPKH tahap II diserahkan di Kabupaten Blitar

Munculnya gagasan ini adalah bukti paling nyata bahwa perbedaan kondisi geografis dan ekonomi antara utara dan selatan telah menciptakan aspirasi untuk menempuh jalur pembangunan yang terpisah.

Conclusion: Blitar, Sebuah Identitas yang Terus Bergerak

Kelima fakta di atas menunjukkan bahwa Blitar adalah sebuah nama yang mewakili realitas yang jauh lebih kompleks daripada sekadar Makam Bung Karno. Ia adalah sebuah kawasan dengan identitas berlapis: dualisme administrasi antara kota dan kabupaten, pembelahan geografis antara utara dan selatan, serta dinamika sosial-politik yang terus berkembang.

Hebat! Michelino, bocah asli Blitar ini raih Putra Cilik Jawa Timur 2025

Blitar bukanlah entitas yang statis, melainkan sebuah identitas yang terus bergerak dan bernegosiasi dengan dirinya sendiri.

Pertanyaannya kini, akankah aspirasi ini terwujud dan memaksa kita untuk kembali mendefinisikan ulang peta dan masa depan Blitar Raya?

×