Artikel
Beranda » Menanamkan jiwa Pancasila pada anak SD: Tantangan dan strategi pembelajaran PKn yang menyenangkan

Menanamkan jiwa Pancasila pada anak SD: Tantangan dan strategi pembelajaran PKn yang menyenangkan

Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. (Dok. Pribadi)

Ditulis oleh: Jessica Putri Ramadhani(1) , Shofi Nur Amalia M.PD.(2),

Falkutas Ilmu Pendidikan dan Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Email: BlitarJessicaput711@gmail.com(1), shofinur94@gmail.com(2)

Abstrak

Pancasila bukan sekadar hafalan lima sila yang dibacakan setiap upacara. Bagi anak sekolah dasar, Pancasila seharusnya menjadi panduan hidup yang dipahami dan dipraktikkan sehari-hari.

Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan karakter siswa melalui pembelajaran PKn di SD

Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pembelajaran PKn di sekolah dasar bisa mengubah Pancasila dari teks yang abstrak menjadi nilai hidup yang nyata.

Melalui kajian pustaka terhadap berbagai literatur pendidikan, ditemukan bahwa kunci keberhasilan terletak pada tiga hal: guru yang menjadi teladan hidup, metode belajar yang menyentuh pengalaman anak, dan lingkungan yang mendukung.

Kendala utama yang masih dihadapi adalah pembelajaran yang terlalu teoritis dan kurang menyentuh dunia anak. Artikel ini menawarkan perspektif baru bahwa mengajarkan Pancasila kepada anak SD harus dimulai dari hal-hal kecil di sekitar mereka, bukan dari konsep besar yang sulit dipahami.

Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Blitar Ikuti Rangkaian Hari Lahir Pancasila: Arak-Arak Bersejarah, Jaranan, dan Pawai Lampion 

Kata kunci: Pancasila, PKn SD, Pembelajaran Nilai, Karakter Anak, Pendidikan Dasar

Abstract

Pancasila is not merely a memorization of the five principles recited at every school ceremony. For elementary school students, Pancasila should serve as a life guide that is understood and practiced in daily activities.

This study explores how Civic Education (PKn) learning in elementary schools can transform Pancasila from an abstract text into living and meaningful values. Through a literature review of various educational sources, the study finds that the key to success lies in three main aspects: teachers who act as living role models, learning methods that connect with children’s real-life experiences, and a supportive environment.

The main challenge that remains is learning that is too theoretical and does not adequately relate to children’s world. This article offers a new perspective that teaching Pancasila to elementary school students should begin with small, everyday practices around them, rather than with large concepts that are difficult to understand.

Keywords: Pancasila, Elementary Civic Education, Values Learning, Child Character, Basic Education

Pendahuluan

Bayangkan seorang anak kelas tiga SD yang hafal di luar kepala lima sila Pancasila. Lancar ia ucapkan dari sila pertama hingga kelima. Tapi ketika temannya yang beragama lain sedang beribadah, ia justru mengejek.

Ketika ada teman yang kesulitan, ia acuh tak acuh. Inilah ironi yang sering terjadi dalam pembelajaran PKn kita: anak-anak pandai menghafal, tapi gagal memahami maknanya.

Sekolah dasar sebenarnya adalah waktu emas untuk menanamkan nilai. Di usia ini, karakter anak masih seperti tanah liat yang mudah dibentuk. Nilai-nilai baik yang tertanam kuat di masa ini akan menjadi fondasi kepribadian mereka hingga dewasa.

Pancasila dengan lima silanya menawarkan nilai-nilai luhur yang sangat relevan: toleransi, keadilan, persatuan, musyawarah, dan kepedulian sosial.

Namun kenyataan di lapangan bercerita lain. Pembelajaran PKn kerap terperangkap dalam metode konvensional yang membosankan. Guru ceramah di depan kelas, siswa mencatat, lalu ujian menghafal.

Pancasila dipelajari sebagai teori yang jauh dari kehidupan mereka. Akibatnya, anak-anak tahu apa itu Pancasila, tapi tidak paham bagaimana menghidupinya.

Penelitian ini hadir dengan semangat mencari solusi. Bagaimana sebenarnya cara terbaik menanamkan nilai Pancasila kepada anak SD? Metode apa yang efektif? Kendala apa yang harus ? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi fokus utama kajian ini.

Metode Penelitian

Penelitian ini ini menggunakan pendekatan studi pustaka, semacam riset perpustakaan yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber bacaan.

Bayangkan seperti seorang detektif yang mengumpulkan bukti-bukti dari berbagai saksi, bedanya di sini “saksi” kita adalah buku-buku, jurnal penelitian, dan artikel ilmiah tentang pendidikan karakter dan pembelajaran PKn.

Proses yang dilakukan cukup sederhana namun sistematis:

Pertama, mengumpulkan sebanyak mungkin literatur yang membahas tentang pembelajaran nilai Pancasila di sekolah dasar. Kedua, membaca dan memilah informasi yang relevan.

Ketiga, membandingkan berbagai pandangan dan temuan dari sumber-sumber tersebut.

Terakhir, menarik benang merah dan kesimpulan dari semua informasi yang didapat. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan kita mendapat gambaran menyeluruh dari berbagai perspektif para ahli pendidikan. Seperti melihat sebuah gunung dari berbagai sudut untuk memahami bentuknya secara utuh.

Hasil dan Pembahasan

3.1 Pancasila dalam Bahasa Anak: Dari Konsep Abstrak ke Tindakan Nyata

Mari kita jujur: bagi anak kelas satu atau dua SD, kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” atau “Keadilan Sosial” adalah kalimat yang asing dan sulit dipahami. Mereka belum bisa berpikir abstrak seperti orang dewasa. Dunia mereka adalah dunia yang konkret, yang bisa dilihat, disentuh, dan dialami.

Karena itu, mengajarkan Pancasila kepada anak SD harus diterjemahkan dalam bahasa yang mereka pahami. Sila pertama tentang Ketuhanan bisa dimulai dari hal sederhana: berdoa sebelum makan, menghormati teman yang sedang ibadah, tidak mengganggu ketika ada teman yang beribadah dengan cara berbeda. Sila kedua tentang kemanusiaan bisa diajarkan melalui: berbagi bekal dengan teman, menolong teman yang jatuh, tidak membully teman.

Sila ketiga tentang persatuan Indonesia? Ajak mereka bermain dan bekerja sama dengan teman dari berbagai suku dan daerah. Sila keempat tentang musyawarah? Latih mereka memutuskan sesuatu bersama, misalnya memilih permainan apa yang akan dimainkan saat istirahat. Sila kelima tentang keadilan sosial? Ajarkan untuk tidak pelit, berbagi, dan peduli pada teman yang kurang mampu.

Intinya, Pancasila harus turun dari langit konsep ke bumi kehidupan sehari-hari anak. Ketika Pancasila dekat dengan pengalaman mereka, barulah anak benar-benar paham.

3.2 Strategi Jitu: Belajar Pancasila yang Menyenangkan

Berdasarkan kajian literatur, ada beberapa strategi yang terbukti efektif dalam menanamkan nilai Pancasila kepada anak SD:

• Pertama, pembiasaan. Ini adalah kunci utama. Nilai tidak bisa diajarkan sekali dua kali lalu selesai. Nilai harus menjadi kebiasaan. Misalnya, setiap hari sebelum belajar, guru meminta anak untuk berdoa sesuai agama masing-masing sambil yang lain menghormati. Setiap ada konflik, diselesaikan dengan musyawarah. Setiap menemukan sampah, dibuang ke tempatnya. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini, jika dilakukan konsisten, akan membentuk karakter kuat.

• Kedua, keteladanan guru. Anak SD adalah peniru ulung. Mereka belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Guru yang setiap hari mengajarkan toleransi tapi kemudian mengejek guru lain di depan siswa, sama saja bohong. Guru yang mengajarkan kejujuran tapi sering terlambat tanpa alasan jelas, tidak kredibel. Keteladanan adalah metode paling ampuh dalam pendidikan nilai.

• Ketiga pembelajaran yang menyentuh hati. Ganti ceramah dengan cerita. Anak-anak suka cerita. Ceritakan kisah-kisah inspiratif tentang tokoh yang mempraktikkan nilai Pancasila. Gunakan dongeng, film pendek, atau bahkan pengalaman nyata. Setelah cerita, ajak mereka berdiskusi: “Kalau kamu jadi si tokoh, apa yang akan kamu lakukan?” Ini membuat mereka berpikir dan merasakan.

• Keempat, belajar sambil bermain. Gunakan permainan untuk mengajarkan nilai. Misalnya, permainan kelompok untuk mengajarkan kerja sama dan persatuan. Simulasi pemilihan ketua kelas untuk mengajarkan demokrasi. Role play (bermain peran) untuk mengajarkan empati dan kepedulian. Ketika belajar terasa seperti bermain, anak-anak menikmatinya dan nilai terserap dengan sendirinya.

• Kelima proyek sosial sederhana. Ajak anak-anak melakukan aksi nyata. Misalnya mengumpulkan buku bekas untuk disumbangkan ke sekolah yang membutuhkan, mengunjungi panti asuhan, atau membersihkan lingkungan sekolah bersama. Pengalaman langsung ini membuat mereka merasakan makna keadilan sosial dan kepedulian.

3.3 Hambatan yang Masih Mengganjal

Namun tidak semua berjalan mulus. Berdasarkan kajian literatur, ada beberapa kendala yang masih sering dihadapi:

• Pertama, kompetensi guru yang beragam. Tidak semua guru PKn memiliki pemahaman mendalam tentang cara mengajarkan nilai kepada anak SD. Ada yang masih terjebak dalam pola lama: hafalan dan teori. Mereka belum terbiasa dengan metode-metode kreatif dan inovatif.

• Kedua, keterbatasan media pembelajaran. Buku-buku PKn yang tersedia sering kali kurang menarik bagi anak. Gambarnya tidak menarik, bahasanya terlalu formal, contohnya tidak relevan dengan kehidupan mereka. Media digital yang interaktif masih jarang tersedia, apalagi di daerah-daerah terpencil.

• Ketiga, lingkungan yang tidak mendukung. Ini yang paling krusial. Apa gunanya sekolah mengajarkan toleransi kalau di rumah orang tua mengajarkan kebencian? Apa artinya sekolah menanamkan kejujuran kalau di masyarakat korupsi dianggap biasa? Lingkungan sosial yang tidak mendukung bisa menghancurkan semua usaha sekolah.

• Keempat, tekanan kurikulum. Guru sering terburu-buru mengejar target kurikulum. Akibatnya, pembelajaran nilai yang seharusnya pelan-pelan dan mendalam, jadi terburu-buru dan dangkal. Guru lebih fokus pada menyelesaikan materi daripada memastikan nilai benar-benar terserap.

Lalu bagaimana solusinya? Untuk kompetensi guru, diperlukan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Bukan pelatihan sekali lalu selesai, tapi pendampingan yang terus menerus. Untuk media, guru bisa kreatif membuat sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan di sekitar.

Untuk lingkungan, sekolah perlu melibatkan orang tua dan masyarakat. Adakan parenting class, undang orang tua untuk terlibat dalam kegiatan sekolah, jalin kerja sama dengan tokoh masyarakat. Untuk tekanan kurikulum, perlu ada kebijakan yang lebih fleksibel, yang mengutamakan kualitas pemahaman daripada kecepatan menyelesaikan materi.

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Mengajarkan Pancasila kepada anak SD bukan perkara mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil. Kuncinya ada tiga: mulai dari hal-hal kecil dan konkret yang dekat dengan dunia anak, gunakan metode yang menyenangkan dan menyentuh hati, dan pastikan ada keteladanan dan dukungan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, I. K. (2019). Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Cholisin. (2020). Ilmu Kewarganegaraan. Yogyakarta: Ombak.

Dewantara, J. A. (2018). Penanaman Nilai Pancasila dalam Pembelajaran PKn. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 31(2), 45-54.

Gunawan, H. (2017). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi. Bandung: Alfabeta..

Kaelan. (2018). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.

Lickona, T. (2016). Educating for Character. Jakarta: Bumi Aksara.

Muslich, M. (2019). Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Nugroho, P. (2020). Implementasi Nilai Pancasila di Sekolah Dasar. Jurnal Civic Education, 4(1), 12-21.

Raka, G. (2018). Pendidikan Karakter di Sekolah. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Santoso, B. (2019). Strategi Pembelajaran PKn Berbasis Nilai. Jurnal Pendidikan Dasar, 10(2), 78-89.

Saptono. (2017). Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter. Jakarta: Erlangga.

Suryadi, A. (2020). Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Winarno. (2018). Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan: Isi, Strategi, dan Penilaian. Jakarta: Bumi Aksara.

Zuriah, N. (2019). Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.

Narwanti, S. (2017). Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Familia


Catatan Redaksi: Artikel ini ditulis oleh Mahasiswa Program Studi PGSD UNU Blitar untuk memenuhi tugas kuliahnya. Tidak ada editorial dari tim redaksi, kesalahan penulisan, ejaan, dan validitas data sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

×