Artikel
Beranda » Megengan: Tradisi Warisan Leluhur Blitar dalam Menyambut Ramadan

Megengan: Tradisi Warisan Leluhur Blitar dalam Menyambut Ramadan

 

Megengan: Tradisi Warisan Leluhur Blitar dalam Menyambut Ramadan
(Foto: Fatimatuz Zahro)

Bicara Blitar– Halo Dulu! Ramadan tinggal menghitung hari lagi! Di Blitar, masyarakat masih melestarikan tradisi turun-temurun dalam menyambut bulan suci ini. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Megengan atau Punggahan, sebuah ritual yang menjadi simbol rasa syukur dan kebahagiaan menjelang Ramadan.

Makna Megengan atau Punggahan

Megengan berasal dari bahasa Jawa, yang berarti menahan, merujuk pada persiapan menjelang ibadah puasa. Sementara itu, Punggahan berasal dari kata unggah, yang berarti naik, mengisyaratkan momentum naik ke bulan suci dengan hati yang bersih dan penuh syukur.

Workshop “Etika dan Kampanye Media Digital Inklusif” dorong ruang digital yang lebih berkeadaban dan ramah kesehatan mental

Baca juga: Kesenjangan Sosial di Lingkungan Pondok Pesantren

Kedua istilah ini merujuk pada tradisi yang sama, yaitu mengingatkan bahwa sebentar lagi Ramadan akan tiba, bulan di mana umat Islam diwajibkan berpuasa dan menjauhi segala perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah. Megengan adalah bentuk rasa syukur masyarakat Blitar atas kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan.

Rangkaian Tradisi Megengan

Biasanya, masyarakat Blitar melakukan tiga kegiatan utama dalam tradisi ini:

Baru sebatas wisata religi, warga Lereng Kawi harap pemerintah garap potensi wisata alam yang terbengkalai

1. Ziarah ke Makam Keluarga

Mengunjungi makam leluhur dan mendoakan mereka.

2. Doa Bersama

35 Tahun di Lereng Kawi, Pak Saidi Ayam rasakan perubahan iklim dan kisahkan mata pencaharian warga

Mengadakan doa bersama dengan keluarga, tetangga, atau komunitas.

3. Berbagi Makanan dan Kue Apem

Masyarakat membagikan nasi lengkap dengan lauk pauk serta kue apem sebagai simbol permohonan maaf dan saling memaafkan sebelum memasuki Ramadan.

Lestarikan tradisi leluhur, warga kompak gelar Baritan di perempatan jalan setiap satu Suro

Kenapa Harus Ada Kue Apem?

Kue apem memiliki makna mendalam dalam tradisi ini. Kata apem berasal dari bahasa Arab afwun, yang berarti meminta maaf. Dengan berbagi kue apem, masyarakat secara simbolis menyampaikan permohonan maaf kepada sesama.

Selain kue apem, sajian khas lainnya yang biasa disajikan dalam Megengan meliputi serundeng, mie, sambal goreng, tahu bumbu kuning, dan ayam. Makanan ini biasanya ditata dalam marangan (wakul plastik) atau kotak nasi untuk dibagikan kepada keluarga dan tetangga.

Seiring waktu, sebagian masyarakat mengganti tradisi berbagi makanan siap saji dengan membagikan paket bahan makanan mentah, seperti beras, minyak, dan lauk pauk sebagai bentuk kepedulian sosial.

Aroma kopi menyambut di Ampelgading, tim Bicara Blitar soroti peran gerai KDMP untuk produk lokal

Menjaga Tradisi, Menjalin Silaturahmi

Setiap daerah mungkin memiliki cara berbeda dalam menyambut Ramadan, namun esensi dari Megengan tetap sama: membersihkan hati, mempererat tali silaturahmi, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Bagaimana dengan tradisi di rumah kamu? Apa pun bentuknya, yang terpenting adalah niat tulus untuk saling memaafkan dan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih. Selamat menyambut bulan suci Ramadan, semoga penuh berkah dan kedamaian!

20 tahun merantau ke Surabaya, Bu Landep pilih pulang dan berjualan pisang goreng di Kalimanis Doko

Berita Terkait

×