Artikel Berita

Ini cara pandang keliru negara saat ini, disampaikan dalam diskusi di Blitar

Diskusi publik yang membedah buku Reset Indonesia digelar di Warung Pecel Tegal Sengon, Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Selasa (23/12/2025). (Foto: Ahmad/Bicarablitar.com)

Blitar – Dandhy Laksono mengkritik cara negara memandang wilayah dan rakyatnya.

Ia menilai alasan Indonesia sebagai negara kepulauan kerap digunakan untuk membenarkan buruknya pelayanan publik, namun tidak berlaku ketika menyangkut eksploitasi sumber daya alam.

“Kita sering diminta memaklumi, katanya negara ini besar, pulau-pulau jauh. Tapi anehnya, kalau urusannya pengerukan sumber daya, sampai ke wilayah paling ujung pun didatangi,” ujar Dandhy, Selasa, 23 Desember 2025.

Cerita usaha gula jawa di Semen, Gandusari yang bertahan sejak 1991

Menurutnya, terdapat standar ganda dalam kebijakan negara. Ketika berkaitan dengan pelayanan masyarakat, jarak dan luas wilayah dijadikan alasan.

Namun ketika menyangkut kepentingan ekonomi dan eksploitasi, hambatan geografis seolah tidak pernah menjadi masalah.

Ia juga menyoroti penetapan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilainya tidak sejalan dengan kepentingan publik. Dandhy mencontohkan proyek properti di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, yang justru ditetapkan sebagai PSN.

Mahasiswa UNU Blitar dorong promosi wisata Semen lewat Citizen Journalism dan konten kreatif

“Proyek properti skala kecil bisa disebut proyek strategis nasional, sementara bencana dengan jutaan pengungsi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak pernah disebut sebagai bencana nasional,” katanya.

Dandhy menilai kondisi tersebut bertentangan dengan semangat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Menurutnya, yang terjadi justru sebaliknya, kekayaan alam dikelola negara, sementara dampak bencana dan kerusakan ditanggung rakyat.

5th BEN Carnival digelar 22 Agustus 2026 malam dengan format baru, rute lebih panjang, dan bidik masuk Kharisma Event Nusantara

Ia menyampaikan bahwa kritik tersebut lahir dari pengalaman lapangan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, hingga Papua. Dalam ekspedisi terakhir, timnya merekam kondisi Papua dari sudut pandang generasi muda setempat. (ke/blt)

Lihat Semua Artikel Bicara Blitar
×