Saya dulu selalu mengandaikan bahwa ketika menjadi mahasiswa itu berarti siap dicurigai. Dicurigai dosen, dicurigai birokrasi, dicurigai negara. Hari ini, menjadi mahasiswa justru berarti berusaha keras agar tidak dicurigai siapa pun. Aman di kelas, aman di organisasi, aman di media sosial, aman di masa depan. Semuanya aman, kecuali satu hal yang perlahan menghilang yakni keberanian.
Mahasiswa hari ini saya kira semuanya tidak kekurangan kecerdasan. IPK mereka tinggi, presentasi rapi, referensi pun banyak mengutip jurnal internasional. Mereka tahu cara menjawab soal, tahu cara menyusun proposal, tahu cara menulis yang baik. Tapi ketika ketidakadilan berdiri di depan mata, nyali mendadak jadi variabel yang sulit ditemukan di transkrip nilai.
Tidak karena mereka tidak paham. Justru sebaliknya. Mereka terlalu paham resikonya. Terlalu sadar bahwa satu sikap bisa mengganggu reputasi, satu suara bisa menghambat rekomendasi, satu unggahan bisa menutup pintu peluang. Maka keberanian tidak lagi dianggap kebajikan, melainkan gangguan yang harus dikelola.
Di kampus, mahasiswa tidak hanya dilatih untuk unggul, tapi juga dilatih untuk menjadi patuh. Mereka diajari berpikir kritis, tapi hanya sejauh tidak mengganggu sistem penilaian. Diskusi boleh panas, asal berhenti di ruang kelas. Kritik boleh tajam, asal tidak keluar dari standar pedoman yang ditetapkan. Semua dikemas rapi agar tidak ada yang benar-benar terganggu.
IPK tinggi lalu berubah fungsi bukan lagi hanya sebagai ukuran akademik, melainkan sertifikat bahwa seseorang tahu cara bermain aman. Tahu kapan bicara. Tahu kapan diam. Tahu isu mana yang boleh disentuh dan mana yang sebaiknya dihindari. Nilai menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menyesuaikan diri dengan ekosistem, bukan menantangnya.
Organisasi mahasiswa yang seharusnya menjadi ruang latihan keberanian pun sering kali ikut menyempurnakan situasi ini. Kaderisasi sibuk mengajarkan kepemimpinan, manajemen konflik, atau bahkan komunikasi efektif, tetapi jarang mengajarkan satu hal paling mendasar yakni bagaimana tetap berdiri ketika sikap membuatmu tidak disukai.
Akibatnya, lahirlah generasi yang fasih berbicara tentang perubahan, tapi gugup ketika perubahan menuntut resiko. Demonstrasi tetap ada, tapi rapi dan selalu terukur. Kritik tetap disampaikan, tapi tidak menggunakan bahasa yang frontal. Tidak ada yang benar-benar salah, namun juga akhirnya tidak ada yang benar-benar mengancam siapa pun yang berkuasa.
Ketidakadilan diperlakukan seperti bahan diskusi, bukan panggilan perjuangan. Hal ini dibahas, dianalisis, dipresentasikan lalu ditinggalkan. Cukup dekat untuk menunjukkan kepedulian, cukup jauh untuk tidak merepotkan diri sendiri. Dalam kondisi seperti ini, diam bukan lagi tanda ketidaktahuan, melainkan strategi bertahan hidup.
Yang paling ironis, semua ini sering dibungkus dengan narasi kedewasaan. Seolah keberanian adalah fase remaja yang wajar ditinggalkan. Seakan idealisme memang harus dikorbankan demi masa depan yang stabil. Seolah mahasiswa yang baik adalah mereka yang tahu cara menahan diri, bukan mereka yang berani melawan arus.
Padahal sejarah tidak pernah bergerak karena orang-orang yang paling aman. Sejarah bergerak karena mereka yang bersedia terlihat ceroboh, keras kepala serta tidak rapi tampilannya. Mereka yang nilainya mungkin biasa saja, tapi nyalinya cukup untuk membuat keadaan tidak nyaman.
Tulisan ini lebih mirip pengakuan pahit dari dalam renung hati, saat kita sedang membesarkan generasi yang terlalu pintar untuk nekat, tapi terlalu takut untuk jujur. Generasi yang unggul dalam kompetensi, tapi rapuh dalam konfrontasi.
Jika hari ini kampus terasa tenang, jangan buru-buru menganggap masalah selesai. Bisa jadi ketenangan itu dibeli dengan harga yang mahal dengan sebuah keberanian yang disimpan terlalu rapi, agar tidak mengganggu siapa pun, kecuali nurani sendiri.
Mungkin pertanyaannya tidak lagi tentang apa yang salah dengan mahasiswa hari ini. Melainkan sampai kapan kita menganggap nyali sebagai resiko, bukan tanggung jawab kita sebagai manusia?.

