Artikel Feature
Beranda » Dunia Islam pasca Karbala: Kekuasaan berjalan, luka tetap ada

Dunia Islam pasca Karbala: Kekuasaan berjalan, luka tetap ada

Battle Of Karbala karya Abbas Al-Musavi. (Foto: Wikipedia)

Setelah tragedi Karbala, kekuasaan Dinasti Umayyah tidak langsung runtuh. Secara politik, pemerintahan tetap berjalan. Secara sosial, kepercayaan umat mulai retak. Peristiwa Karbala menjadi titik balik: umat Islam sadar bahwa kekuasaan bisa berjalan tanpa legitimasi moral yang kuat.

Setelah Karbala, Yazid masih memegang kendali. Namun posisinya tidak lagi solid. Banyak wilayah mulai menunjukkan penolakan terbuka. Bukan hanya karena simpati pada Husain, tapi karena cara kekuasaan dijalankan dianggap berlebihan.

Kritik tidak selalu berupa pemberontakan. Sebagian muncul sebagai sikap diam, penarikan dukungan, dan pembangkangan pasif.

Konsolidasi Dinasti Umayyah: Stabilitas yang dibangun dari kontrol ketat

Di Kufah, muncul kelompok Tawwabin atau “orang-orang yang menyesal”. Mereka mengakui kesalahan karena tidak menolong Husain. Gerakan ini tidak terorganisir dengan rapi dan akhirnya kalah secara militer. Namun secara moral, mereka menunjukkan satu hal penting: Karbala meninggalkan rasa bersalah kolektif.

Setelah Yazid wafat, Dinasti Umayyah menghadapi gelombang perlawanan baru. Abdullah bin Zubair mendirikan kekuasaan tandingan di Mekah. Wilayah Islam terbelah: Umayyah di Syam, Zubairiyah di Hijaz, wilayah lain dalam posisi abu-abu. Karbala mempercepat fragmentasi ini.

Pasca Karbala, umat Islam tidak lagi melihat kekhalifahan sebagai: pemimpin moral semata, melainkan juga struktur politik yang bisa dikritik. Ini perubahan besar. Kekuasaan tidak lagi dianggap selalu benar hanya karena membawa simbol agama.

Tragedi Karbala dan dampaknya bagi sejarah Islam

Efek Karbala terasa hingga generasi berikutnya: meningkatnya kritik terhadap dinasti, munculnya narasi keadilan dan perlawanan, menguatnya identitas kelompok-kelompok tertentu. Sejarah Islam setelah ini tidak lagi sederhana.

Dari fase pasca Karbala: stabilitas politik tidak sama dengan ketenangan sosial,luka kolektif bisa bertahan lama, kekuasaan yang mengabaikan etika akan terus dipersoalkan. Islam tetap berkembang. Tapi hubungan umat dengan penguasa berubah.

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

Pemerintahan Yazid dan jalan menuju Tragedi Karbala

×