Di balik nama “Blitar” yang akrab didengar sehari-hari, tersimpan cerita sejarah panjang yang ternyata masih diperdebatkan para ahli hingga kini. Setidaknya ada dua versi utama yang beredar mengenai asal-usul penamaan wilayah di selatan Jawa Timur ini, masing-masing dengan latar sejarah yang sama-sama menarik untuk ditelusuri.
Versi Pertama: Kisah “Bali Tartar”
Cerita rakyat yang paling populer menyebut nama Blitar berasal dari frasa “Bali Tartar”, yang secara harfiah berarti “kembalinya orang Tartar”. Kisah ini bermula dari peristiwa pengusiran pasukan Mongol atau Tartar oleh Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, pada akhir abad ke-13. Setelah bersekutu sementara dengan pasukan Tartar untuk mengalahkan Jayakatwang dari Kediri, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutunya sendiri, memaksa mereka mundur kembali ke negeri asal. Frasa “Bali Tartar” lambat laun mengalami penyederhanaan fonetik menjadi “Balitar”, lalu akhirnya menjadi “Blitar” seperti yang dikenal sekarang.
Versi lain dari cerita rakyat menyebut peristiwa ini terjadi pada 1293 Saka, ketika sosok bernama Nilasuwarna diperintahkan Majapahit menumpas sisa pasukan Tartar yang bersembunyi di hutan selatan. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar I dan diberi wewenang mengelola wilayah tersebut.
Versi Kedua: Jejak dalam Prasasti dan Naskah Kuno
Sementara itu, sejumlah pemerhati sejarah dan pihak Pemerintah Kota Blitar lebih merujuk pada bukti tertulis yang lebih kuat secara filologis. Nama “Balitar” ternyata sudah tercatat dalam naskah Desawarnana atau Kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca, yang mengisahkan perjalanan Raja Hayam Wuruk berziarah ke Candi Palah (kini dikenal sebagai Candi Penataran) lalu berkunjung ke Balitar. Catatan ini menunjukkan nama Balitar sudah eksis sejak era Majapahit, jauh sebelum istilah “Bali Tartar” populer sebagai cerita rakyat.
Ada pula interpretasi yang mengaitkan nama Blitar dengan istilah “bale altar”, merujuk pada kelengkapan bangunan Candi Palah yang memiliki bale hingga altar untuk peribadatan. Meski begitu, hingga kini belum ada kesepakatan tunggal di kalangan sejarawan mengenai versi mana yang paling akurat.
Kekayaan Sejarah yang Terus Diwariskan
Terlepas dari perdebatan mengenai asal katanya, keberadaan berbagai versi cerita ini justru menunjukkan betapa kayanya khazanah sejarah dan budaya yang dimiliki Blitar. Setiap versi cerita, baik yang bersumber dari legenda rakyat maupun catatan tertulis kuno, sama-sama menegaskan bahwa wilayah ini telah memainkan peran penting sejak era kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur.
Bagi generasi muda Blitar, mengenal berbagai versi sejarah nama daerahnya sendiri bisa menjadi cara sederhana untuk lebih menghargai identitas dan warisan budaya lokal, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap tanah kelahiran yang ternyata menyimpan begitu banyak kisah menarik di baliknya.
Diperkuat lewat Berbagai Naskah Kuno
Selain Nagarakretagama, nama “Balitar” juga disebut dalam naskah perjalanan Bujangga Manik menuju Rabut Palah yang ditulis sekitar abad ke-16. Kemunculan nama ini di berbagai sumber tertulis kuno yang berbeda-beda semakin menguatkan dugaan bahwa wilayah Balitar sudah dikenal luas jauh sebelum era kolonial, bahkan sejak masa Mataram Kuno menurut sejumlah pemerhati sejarah setempat.
Keberadaan berbagai versi cerita rakyat maupun bukti filologis ini pada akhirnya menjadi kekayaan tersendiri bagi Blitar, di mana setiap generasi bisa menafsirkan dan mewariskan kisah asal-usul daerahnya dengan caranya masing-masing, tanpa menghilangkan esensi kebanggaan terhadap sejarah panjang yang melekat pada nama Blitar itu sendiri.

