Artikel Berita
Beranda » Sekretaris PC PMII Blitar bekali DEMA dan PMII STITMA “Rule of The Game” persidangan organisasi mahasiswa

Sekretaris PC PMII Blitar bekali DEMA dan PMII STITMA “Rule of The Game” persidangan organisasi mahasiswa

Sekretaris PC PMII Blitar, Alex Cahyono, S.H. menyampaikan materi Teknik Persidangan. Dok. Dema STITMA Blitar.

Blitar – Di tengah rendahnya kualitas forum-forum pengambilan keputusan mahasiswa yang kerap berujung gaduh dan prosedural semata, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Misbahudin Ahmad (STITMA) Blitar bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Pusat STITMA Blitar menggelar Kelas Persidangan bertajuk “The Art of Assembly: Cara Jadi Peserta Sidang yang Cerdas & Kritis”, Minggu 1 Februari 2026.

Bertempat di Aula Kampus STITMA, Sumberjo, Sanankulon, Kabupaten Blitar, kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai pelatihan teknis, melainkan sebagai ikhtiar intelektual untuk mengembalikan sidang organisasi pada marwahnya yakni mengedepankan ruang rasionalitas, etika serta keputusan yang sah secara moral maupun struktural sesuai pedoman organisasi.

Materi utama disampaikan oleh Sekretaris Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Blitar, Alex Cahyono, S.H., yang dikenal konsisten menggabungkan ketelitian hukum dengan pengalaman praktis berorganisasi. Di hadapan peserta, Alex menegaskan bahwa persidangan bukanlah arena adu suara, apalagi adu ego.

Audiensi PC PMII Blitar bersama Kejari Blitar, hal apa yang jadi pembahasan?

“Sidang adalah forum formal yang melahirkan keputusan mengikat. Hal ini menuntut ketertiban berpikir, tidak hanya soal tentang keberanian bicara. Tanpa  menjunjung tinggi aturan, sidang berubah menjadi kerumunan dengan tanpa etika, praktis Keputusan kehilangan legitimasi,” ujar Alex.

Dalam pemaparannya lulusan Fakultas Hukum Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar ini, mengurai secara sistematis mulai dari definisi persidangan, aturan umum, istilah-istilah penting hingga tata tertib yang menjadi fondasi forum musyawarah.

Ia menjelaskan secara detail posisi dan hak peserta sidang, peran strategis pimpinan sidang atau presidium serta sikap yang wajib dimiliki presidium yakni harus simpatik, adil, disiplin serta peka terhadap dinamika forum.

PC PMII Blitar soroti lonjakan kriminalitas hingga tambang ilegal saat audiensi dengan Kapolres Blitar Kota

Yang menarik perhatian peserta adalah cara Alex menjelaskan hal teknis dengan bahasa yang jernih dan sederhana. Aturan ketukan palu misalnya, tidak diperlakukan sebagai simbol kekuasaan dari pimpinan sidang, melainkan sebagai instrumen etika Keputusan. Satu ketukan untuk pengesahan sementara, dua ketukan untuk skorsing, dan tiga ketukan sebagai penanda keputusan final.

“Fungsi palu itu bukan alat menakut-nakuti peserta. Ini adalah sebuah simbol tanggung jawab. Sekali diketuk, ada konsekuensi moral dan organisatoris yang tidak bisa ditarik kembali sembarangan,” kata Alex.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan jenis-jenis persidangan seperti sidang pleno, komisi sampai paripurna serta mekanisme quorum dan pengambilan keputusan, mulai dari musyawarah mufakat, lobi, hingga voting sebagai jalan terakhir. Alex juga menguraikan berbagai bentuk interupsi, dari point of order hingga point of privilege, agar peserta mampu bersuara secara tepat tanpa merusak alur sidang.

Beberapa kemungkinan yang timbul dalam jalannya persidangan Peradilan Perdata

Menutup pemaparannya, Alex mengutip adagium hukum Latin yang menjadi penegasan filosofis kelas tersebut: “Cum adsunt testimonia rerum, quid opus est verbis” yang artinya saat fakta sudah berbicara, apa gunanya kata-kata.

Kelas persidangan ini tidak didesain  sebagai forum diskusi semata. DEMA STITMA Blitar secara strategis menjadikannya bekal utama pelaksanaan Musyawarah Mahasiswa (MUSMA), sementara PMII STITMA menggunakannya sebagai fondasi Rapat Tahunan Komisariat (RTK). Dengan demikian, pelatihan ini langsung teruji dalam praktik demokrasi kampus.

Bagi peserta, kehadiran Alex tidak hanya sebagai pemateri, melainkan representasi tipe pemimpin muda yang jarang ditemui. Pikirannya runtut, berbicara seperlunya serta memahami kuasa aturan tanpa harus meninggikan suara.

Pelantikan Raya PMII Madjapahit UNISBA Blitar 2025-2026, tegaskan pergerakan yang lebih progresif

Seperti yang kita ketahui ruang sidang yang kerap panas oleh emosi, sosok seperti ini justru menghadirkan keteduhan dan mungkin, bagi sebagian yang hadir, daya tarik intelektual yang sulit diabaikan.

Berita Terbaru

×