Artikel Opini
Beranda » Pembelajaran Bahasa Jawa sebagai upaya melestarikan budaya sejak dini

Pembelajaran Bahasa Jawa sebagai upaya melestarikan budaya sejak dini

Pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa UNU Blitar. (Dok. Pribadi)

Ditulis oleh: Dimas Maulana Ibnu Sabil(1), Asvia Rachmawati(2), Fadia Auralivia(3), Savina Ivadatul Khusna(4), Leo Andika Jaya(5) 

Bahasa Jawa merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai luhur dalam kehidupan masyarakat. Tidak hanya sebagai alat komunikasi, Bahasa Jawa juga mengajarkan sopan santun, tata krama, serta nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter seseorang.

Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian budaya daerah. Di sekolah dasar, khususnya kelas VI, pembelajaran Bahasa Jawa memiliki tantangan tersendiri. Banyak siswa yang mulai jarang menggunakan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari karena lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing.

Evaluasi UAS di SDN 01 Bendogerit Blitar: Lebih dari sekadar Angka di rapor

Selain itu, perkembangan teknologi juga memengaruhi cara anak berkomunikasi. Kondisi ini menuntut guru untuk lebih kreatif agar pembelajaran Bahasa Jawa tetap menarik dan bermakna bagi siswa.Pembelajaran Bahasa Jawa yang baik dimulai dari perencanaan yang matang. Guru perlu menyiapkan tujuan pembelajaran, materi, metode, serta media yang sesuai dengan karakter siswa.

Pemilihan materi seperti cerita tradisional Jawa menjadi strategi yang tepat karena dekat dengan kehidupan siswa dan mengandung pesan moral. Dengan materi yang kontekstual, siswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga memahami nilai budaya dan karakter.

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran Bahasa Jawa dapat dilakukan secara interaktif dan menyenangkan. Guru membuka pembelajaran dengan salam, doa, dan apersepsi agar siswa siap belajar.

Istighotsah Kubro satu abad NU Blitar Raya, jadi tirakat langit halau krisis moral bangsa

Selama proses pembelajaran, siswa diajak berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan pendapat. Penggunaan media seperti tayangan visual melalui layar membantu siswa memahami cerita dengan lebih mudah dan membuat suasana kelas menjadi lebih hidup.

Model pembelajaran yang mendorong siswa aktif, seperti discovery inquiry, juga sangat efektif diterapkan. Melalui model ini, siswa dilatih untuk menemukan makna cerita, nilai moral, serta pesan budaya secara mandiri. Dengan cara ini, siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga belajar berpikir kritis dan bekerja sama dengan teman.

Penilaian pembelajaran tidak hanya dilakukan di akhir kegiatan, tetapi juga selama proses berlangsung. Guru mengamati keaktifan siswa, sikap, serta kemampuan mereka dalam memahami materi. Setelah itu, guru memberikan umpan balik agar siswa mengetahui kelebihan dan hal yang perlu diperbaiki. Tugas lanjutan juga diberikan sebagai bentuk penguatan pemahaman siswa.

Jadwal CGV Blitar hari ini dan harga tiket Januari 2026

Pengelolaan kelas yang baik turut mendukung keberhasilan pembelajaran. Guru menjaga suasana kelas tetap tertib dan nyaman, serta sesekali melakukan kegiatan penyegar seperti menyanyikan tembang daerah. Kegiatan ini tidak hanya menghilangkan kejenuhan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya Jawa.

Interaksi yang positif antara guru dan siswa menjadi kunci utama dalam pembelajaran. Sikap guru yang ramah, sabar, dan menghargai pendapat siswa membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri. Dengan interaksi yang baik, pembelajaran Bahasa Jawa tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa, tetapi juga membentuk karakter siswa yang santun dan berbudaya.

Secara keseluruhan, pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar memiliki peran penting dalam pendidikan dan pelestarian budaya. Jika direncanakan dan dilaksanakan dengan baik, pembelajaran ini dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai budaya, membangun karakter, serta menumbuhkan rasa cinta siswa terhadap bahasa dan budaya daerahnya. (Ke/blt)

Panduan lengkap membeli tiket kereta api lokal Blitar: commuter line Dhoho dan Penataran

×