Oleh: Kharisma Hikmatul Maula, Shafania Nihayatul Khusna, Trio Yudistira, Naura Septa Nurkania, Ika Fitri Nur Aini.
Setiap menjelang Ujian Akhir Semester (UAS), suasana sekolah dasar hampir selalu berubah. Kelas menjadi lebih tenang, guru terlihat lebih serius, dan siswa mulai akrab dengan lembar soal serta jadwal ujian. Bagi sebagian orang, UAS hanyalah rutinitas tahunan yang harus dilalui.
Namun jika dicermati lebih dalam, proses evaluasi pembelajaran menjelang UAS sesungguhnya menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar penentuan nilai rapor.
Evaluasi pembelajaran di sekolah dasar idealnya tidak dipahami sebagai kegiatan menguji hafalan semata. Ia adalah cermin dari proses belajar yang telah berlangsung selama satu semester.
Dari evaluasi, guru dapat membaca sejauh mana materi dipahami siswa, metode mana yang efektif, serta bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Dengan kata lain, evaluasi bukan hanya alat ukur hasil belajar siswa, tetapi juga sarana refleksi bagi guru.
Pengalaman langsung di ruang kelas SDN 01 Bendogerit, Kota Blitar, menunjukkan bahwa evaluasi yang dipersiapkan dengan baik mampu menciptakan suasana belajar yang lebih sehat. Ketika guru menjelaskan tujuan evaluasi, tata cara pengerjaan, serta memberi penguatan sebelum ujian dimulai, siswa cenderung lebih tenang dan percaya diri.
Kesiapan mental ini sering kali luput dari perhatian, padahal sangat menentukan kualitas hasil belajar. Anak-anak yang merasa aman dan dipahami akan lebih mampu menunjukkan potensi terbaiknya saat mengerjakan soal.
Sayangnya, praktik evaluasi di lapangan masih kerap dipersempit maknanya. Fokus utama sering kali hanya tertuju pada nilai kognitif, sementara aspek sikap, kedisiplinan, kejujuran, dan ketahanan belajar kurang mendapat tempat yang seimbang.
Padahal, selama proses evaluasi berlangsung, guru sebenarnya dapat mengamati banyak hal: bagaimana siswa mengelola waktu, bagaimana mereka bersikap jujur, hingga bagaimana mereka bertahan menyelesaikan tugas sampai akhir. Semua itu merupakan bagian penting dari pendidikan karakter.
Evaluasi yang menyeluruh juga memberikan keuntungan jangka panjang bagi proses pembelajaran. Hasil evaluasi dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan pendampingan tambahan bagi siswa yang belum tuntas, sekaligus pengayaan bagi siswa yang sudah melampaui target pembelajaran.
Dengan demikian, evaluasi tidak berhenti pada pemberian nilai, tetapi berlanjut pada upaya perbaikan yang nyata dan berkesinambungan.
Dalam konteks Kurikulum Merdeka dan wacana pembelajaran yang lebih berpihak pada murid, evaluasi pembelajaran seharusnya semakin humanis. UAS tetap penting sebagai alat ukur capaian belajar, tetapi pelaksanaannya perlu ditempatkan dalam kerangka mendukung tumbuh kembang siswa secara utuh.
Guru bukan sekadar pengawas ujian, melainkan pendamping yang membantu siswa melewati proses evaluasi dengan pengalaman belajar yang bermakna.
Pada akhirnya, Ujian Akhir Semester di SDN 01 Bendogerit—dan sekolah dasar pada umumnya—seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Bagi siswa, UAS adalah sarana belajar menghadapi tantangan dengan jujur dan percaya diri. Bagi guru, evaluasi adalah bahan cermin untuk terus memperbaiki praktik pembelajaran.
Dan bagi sekolah, evaluasi adalah pijakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan. Jika makna ini benar-benar dipahami, maka evaluasi pembelajaran tidak lagi menakutkan, melainkan menjadi bagian alami dari proses belajar yang mendidik dan memanusiakan. (Ke/blt)

