Blitar – Gemuruh doa “Ya Hayyu Ya Qayyum” membahana, membelah langit Stadion Supriadi, Kota Blitar, Sabtu, 24 Januari 2026.
Puluhan ribu warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) memutihkan stadion sejak pagi buta dalam gelaran Istighotsah Kubro memperingati satu abad organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Kegiatan ini bukan sekadar seremonial ratusan tahun, melainkan sebuah respons spiritual mendesak terhadap carut-marut kondisi moral bangsa yang kian mengkhawatirkan.
Kegelisahan terhadap situasi nasional menjadi pemantik utama kekhusyukan acara ini.
Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, K.H. Muhammad Ardani Ahmad, dalam iftitahnya secara tajam menyoroti degradasi akhlak yang tengah mengepung Indonesia.
Ia menegaskan bahwa ketika logika dan kebijakan publik buntu, jalan langit melalui munajat massal menjadi benteng pertahanan terakhir.
”Untuk Indonesia yang sekarang namanya darurat miras, darurat hubungan bebas, darurat-darurat yang lain, termasuk akhlakul karimah. Monggo kita merasa dzullah (hina), merasa asor (rendah) di hadapan Allah untuk memohon pertolongan bagi keselamatan bangsa,” ujar Kiai Ardani dengan suara bergetar yang langsung disambut tangis haru ribuan jemaah.
Senada dengan semangat perbaikan moral, patriotisme juga menjadi denyut nadi dalam perhelatan ini.
Ketua PCNU Kabupaten Blitar, Kiai Muqarabin, mengingatkan jemaah bahwa republik ini tidak berdiri hanya dengan bambu runcing, melainkan juga tirakat para ulama.
Ia menekankan bahwa menjaga NKRI adalah mandat sejarah yang tidak boleh dikhianati oleh kaum santri.
”Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah hasil jerih payah, warisan yang penuh berkah dari para ulama. Hari ini bukan zamannya berperang fisik, tapi kewajiban membela negara tetap melekat,” tegas Muqarabin disambut pekik merdeka yang menggema di seluruh tribun stadion.
Rekam jejak sejarah inilah yang ditegaskan kembali oleh Wakil Rais PWNU Jawa Timur, K.H. Muhammad Husnan Dimyati.
Dalam mauidhoh hasanah-nya, ia menggarisbawahi konsistensi NU sebagai penyangga negara yang anti-radikalisme.
Menurutnya, umur panjang NU hingga satu abad adalah bukti ‘berkah’ dari sikap moderat yang selalu diambil para kiai.
”Satu-satunya organisasi sosial keagamaan mulai lahir sampai hari ini sing ora duwe cacat (yang tidak punya cacat), yo ora radikalisme, yo ora bughot (pembangkang), tapi benar-benar berbicara kebangsaan dan negara itu sing selamat tekan saiki: Nahdlatul Ulama,” ungkap Kiai Husnan membedah rahasia ketahanan NU.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, yang hadir mengenakan seragam Banser, mengamini peran krusial tersebut.
Ia mengakui bahwa pemerintah membutuhkan dukungan spiritual kaum sarungan untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian zaman.
“Jika bangsa ini sedang memanggil, jika bangsa ini sedang kacau, maka kita duduk di sini melakukan istighotsah. Mudah-mudahan bangsa ini makmur,” pungkasnya. (Ke/ha)

