Ditulis oleh: Dzakiya Adwa Maitsa, Shofi Nur Amalia
Email : dzakiyaaaaa@gmail.com, shofinur94@gmail.com
Abstrak: Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki fungsi penting sebagai alat untuk pengembangan karakter bangsa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis cara penerapan nilai Pancasila dalam pembelajaran PKn untuk membentuk karakter siswa tingkat Sekolah Dasar (SD).
Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka (library research) dengan menganalisis 15 referensi dari buku dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai dilakukan melalui pengintegrasian kurikulum, penggunaan media pembelajaran yang inovatif, dan panutan dari guru. Tantangan utama yang ditemukan adalah dampak negatif dari media sosial yang membutuhkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa PKn yang efektif adalah yang mampu mengaitkan materi dengan perilaku nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Kata kunci: PKn SD, Nilai Pancasila, Pembentukan Karakter.
Abstrak: Civics Education (PKn) plays a crucial role as a tool for developing national character. The purpose of this study is to analyze how Pancasila values are applied in Civics learning to shape the character of elementary school students.
The method used was library research, analyzing 15 references from books and scientific journals. The results indicate that the application of values is carried out through curriculum integration, the use of innovative learning media, and teacher role models.
The main challenge identified is the negative impact of social media, which requires more contextual learning methods. This study concludes that effective Civics is one that is able to link material to students’ real-life behavior.
Keywords: Elementary School Civics, Pancasila Values, Character Building.
PENDAHULUAN
Pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) adalah periode penting untuk pembentukan karakter anak. Pada masa ini, nilai-nilai moral yang ditanamkan akan menjadi dasar bagi pola pikir dan tindakan siswa di masa mendatang.
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki tanggung jawab utama dalam kurikulum nasional untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki karakter sesuai dengan ideologi negara, yaitu Pancasila. Namun, di zaman yang serba global dan digital saat ini, anak-anak di sekolah dasar sangat dipengaruhi oleh budaya asing yang seringkali tidak sejalan dengan nilai-nilai mulia bangsa.
Fenomena seperti hilangnya etika, kurangnya rasa empati, dan perilaku perundungan (bullying) di sekolah menunjukkan bahwa pembelajaran PKn tidak boleh hanya befokus pada hafalan. Tantangan yang ada adalah bagaimana para guru bisa mengubah nilai-nilai Pancasila yang abstrak menjadi tindakan konkret yang dapat
dipahami oleh anak-anak berusia 7-12 tahun.
Artikel ini akan membahas strategi penerapan nilai Pancasila serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dalam konteks pendidikan dasar.
II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini mengambil pendekatan kualitatif dengan jenis Studi Pustaka (Library Research). Peneliti mengumpulkan informasi dari berbagai sumber primer dan sekunder, termasuk 5 buku teks pendidikan kewarganegaraan serta 10 artikel dari jurnal ilmiah yang terpercaya (total 15 sumber).
Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah analisis konten. Peneliti melakukan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan sintesis dari berbagai penemuan para ahli mengenai pendidikan karakter dan pembelajaran PKn di tingkat dasar.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Internalisasi Nilai Pancasila secara Tematik
Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar saat ini mengadopsi pendekatan yang tematik. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif anak:
• Sila Pertama (Ketuhanan): Diterapkan melalui kebiasaan doa sebelum dan sesudah kegiatan belajar, serta menghormati perbedaan keyakinan di antara teman sekelas. Ini membantu membangun sikap toleransi sejak usia dini.
• Sila Kedua (Kemanusiaan): Guru menyoroti pentingnya kasih sayang dan saling membantu. Contoh yang nyata adalah kebiasaan mengunjungi teman yang sakit atau berbagi alat tulis.
• Sila Ketiga (Persatuan): Diterapkan melalui aktivitas gotong royong untuk membersihkan kelas dan pelaksanaan upacara bendera. Ini melatih rasa bangga terhadap identitas sebagai bangsa.
• Sila Keempat (Kerakyatan): Murid diajarkan untuk berdiskusi dalam memilih ketua kelas atau membagi tugas kelompok, sehingga mereka terbiasa menghargai pendapat orang lain.
• Sila Kelima (Keadilan): Guru memberikan penilaian yang adil dan mengajarkan siswa tentang pentingnya antre dan menghormati hak orang lain.
3.2.Strategi Pembelajaran Inovatif
Agar materi PKn lebih menarik, beberapa strategi efektif telah diusulkan:
1. Metode Bermain Peran: Dengan berperan sebagai tokoh sejarah atau anggota masyarakat, siswa bisa merasakan langsung perasaan dan nilai-nilai moral dari cerita yang ada.
2. Media Audio dan Video: Penggunaan film pendek dengan tema kepahlawanan membantu siswa untuk lebih memahami dan merasakan nilai-nilai patriotisme dibanding hanya membaca teks.
3. Habituasi (Pembiasaan): Nilai-nilai tidak hanya diajarkan di dalam kelas, melainkan juga diterapkan di seluruh lingkungan sekolah melalui peraturan dan budaya sekolah yang konsisten.
3.3.Tantangan dan Solusi
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah adanya perbedaan antara nilai yang diajarkan di sekolah dan yang dilihat anak di media sosial. Solusi untuk masalah ini adalah guru berperan sebagai penyaring informasi.
Pembelajaran PKn seharusnya berbasis pada masalah nyata (Problem Based Learning), di mana siswa diajak untuk mendiskusikan fenomena yang mereka lihat dan mencari solusi dengan menggunakan sudut pandang Pancasila.
IV. PENUTUP
Kesimpulan: Pembentukan karakter melalui PKn di Sekolah Dasar dapat berhasil jika nilai-nilai Pancasila menjadi bagian penting dalam setiapkegiatan sekolah, bukan sekadar materi ujian. Keteladanan dari guru menjadi unsur paling penting dalam penerapan nilai-nilai ini.
Saran: Sekolah perlu meningkatkan literasi digital dalam kurikulum PKn untuk melindungi siswa dari pengaruh negatif internet, serta memperkuat kerjasama dengan orang tua agar karakter yang dibangun di sekolah dapat terus terpelihara di rumah.
V. DAFTAR PUSTAKA
Adha, I. (2021). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Ahmadi, Y. (2020). Strategi Pembelajaran PKn di Era Digital. Jurnal Pendidikan Dasar, 8(2).
Budimansyah, D. (2012). Dimensi-Dimensi Praktik Pendidikan Karakter. Bandung: Widya Aksara Press.
Darmadi, H. (2019). Pengantar Pendidikan Era Globalisasi. Bandung: Alfabeta.
Fajar, A. (2018). Reorientasi Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Kencana.
Hasan, S. (2021). Nilai-Nilai Pancasila bagi Anak Usia Dini. Jurnal Moralitas, 4(1).
Lickona, T. (2013). Character Matters (Persoalan Karakter). Terjemahan. Jakarta: Bumi Aksara.
Mulyasa, E. (2011). Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.
Nuryadi. (2020). Pancasila dalam Arus Sejarah Bangsa. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Raharjo. (2010). Pendidikan Karakter sebagai Upaya Menciptakan Berakhlak Mulia. Jurnal Pendidikan Pancasila, 5(3).
Santoso, G. (2022). Inovasi Pembelajaran PKn SD. Jakarta: Erlangga.
Suwardi. (2019). Psikologi Belajar Anak Sekolah Dasar. Remaja Rosdakarya: Bandung.
Wahab, A. K. (2011). Media Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Winarno. (2014). Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi Aksara.
Zuriah, N. (2015). Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.
Catatan Redaksi: Artikel ini ditulis oleh Mahasiswa UNU Blitar untuk memenuhi tugas kuliahnya. Tidak ada editorial dari tim redaksi, kesalahan penulisan, ejaan, dan validitas data sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

