Artikel Soccer
Beranda » Jonathan Wilson: Formasi bukan tujuan, tapi alat

Jonathan Wilson: Formasi bukan tujuan, tapi alat

Foto: unsplash.com/id/@baraida

Banyak orang membicarakan sepak bola seolah formasi adalah segalanya. 4-3-3, 3-5-2, atau 4-2-3-1 sering diperlakukan seperti mantra. Padahal, seperti dijelaskan Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid, formasi hanyalah alat bantu untuk menjelaskan ide yang lebih besar.

Sepanjang sejarah sepak bola, formasi terus berubah karena permainan juga berubah. Aturan, kecepatan pemain, dan cara bertahan lawan memaksa pelatih beradaptasi. Tidak ada formasi yang benar secara abadi. Sistem yang berhasil hari ini bisa gagal total besok.

Wilson menekankan bahwa yang lebih penting dari angka di papan taktik adalah hubungan antarpemain. Jarak, sudut operan, dan timing pergerakan jauh lebih menentukan daripada susunan awal. Tim bisa terlihat bermain 4-3-3 saat menyerang, lalu berubah menjadi 4-5-1 ketika bertahan.

Fakta menarik sepak bola Blitar yang jarang Anda tahu

Kesalahan umum dalam membahas taktik adalah menghafal bentuk tanpa memahami fungsi. Sepak bola modern menunjukkan bahwa fleksibilitas lebih penting daripada kesetiaan pada satu sistem.

Pada akhirnya, tim yang sukses bukan yang punya formasi paling rumit, tetapi yang pemainnya memahami apa yang harus dilakukan di setiap situasi.

Sumber: Jonathan Wilson, Inverting the Pyramid: The History of Football Tactics (Orion Books, 2008).

Arsenal kukuhkan 2 besar Liga Champions Eropa, City terseret di lingkar Arktik

×