Perkembangan taktik sepak bola bermula saat orang menyadari satu hal sederhana: tidak semua pemain harus mengejar bola.
Jonathan Wilson menjelaskan bahwa kesadaran ini muncul perlahan, lewat percobaan, kekalahan, dan adaptasi aturan.
Perubahan besar dipicu oleh revisi aturan offside pada awal abad ke-20. Aturan lama memaksa penyerang selalu sejajar dengan bek terakhir, membuat permainan macet. Ketika aturan dilonggarkan, ruang di lapangan terbuka, dan kebutuhan akan struktur pertahanan menjadi mendesak.
Jawabannya adalah sistem WM, yang diperkenalkan Herbert Chapman di Arsenal. Formasi ini membagi tim menjadi tiga lini jelas: bek, gelandang, dan penyerang. Untuk pertama kalinya, sepak bola punya keseimbangan yang masuk akal. Bertahan bukan lagi reaksi panik, tetapi bagian dari rencana.
Dari sini, peran pemain mulai spesifik. Bek tidak lagi sekadar penghalau bola. Gelandang bertugas mengatur tempo. Penyerang tak hanya menunggu bola, tetapi mencari ruang. Sepak bola mulai menyerupai permainan catur bergerak.
Wilson menekankan bahwa inovasi taktik hampir selalu lahir dari masalah. Bukan dari teori indah, tapi dari kebutuhan untuk bertahan hidup di lapangan. Tim yang gagal beradaptasi akan tertinggal, tak peduli seberapa berbakat pemainnya.
Sumber: Jonathan Wilson, Inverting the Pyramid: The History of Football Tactics (Orion Books, 2008).

