Setelah masa kacau pasca Karbala dan wafatnya Yazid, Dinasti Umayyah sempat goyah. Ada pergantian kekuasaan yang cepat dan konflik di banyak wilayah. Namun perlahan, Umayyah kembali menata diri. Fokusnya satu: menjaga kekuasaan tetap utuh.
Pemimpin Baru, Pendekatan Lebih Keras
Di fase konsolidasi ini, Umayyah dipimpin oleh figur-figur yang lebih tegas dalam urusan politik dan militer. Pendekatan kompromi mulai ditinggalkan. Pemberontakan ditangani cepat.
Wilayah yang membangkang ditekan. Tujuannya bukan dialog panjang, tapi stabilitas. Cara ini efektif secara jangka pendek.
Umayyah memperkuat sistem pemerintahan: pajak ditata lebih rapi, birokrasi dipusatkan, bahasa Arab dijadikan bahasa administrasi. Langkah ini membuat pemerintahan berjalan lebih seragam di wilayah luas. Negara menjadi lebih terkontrol.
Di sisi lain, kebijakan ini membuat jarak antara penguasa dan masyarakat semakin lebar. Kekhalifahan terasa seperti negara kekuasaan, bukan lagi kepemimpinan umat. Keluhan tetap ada, tapi tidak selalu bisa disuarakan terbuka. Stabil, tapi kaku.
Militer menjadi alat utama menjaga ketertiban. Keamanan bergantung pada loyalitas pasukan. Selama militer solid, kekuasaan aman. Begitu ada celah, masalah muncul. Ini membuat politik Umayyah sangat bergantung pada kekuatan senjata.
Meski politiknya keras, wilayah Islam terus meluas. Ekspansi ke Afrika Utara dan Asia Tengah berlanjut. Namun penyebaran Islam tidak selalu dibarengi dengan pemerataan kesejahteraan. Ketimpangan sosial mulai terasa, terutama antara Arab dan non-Arab.
Dari fase konsolidasi Umayyah: stabilitas bisa dicapai dengan kontrol kuat, tapi kontrol kuat punya batas, ketidakpuasan yang ditekan tidak hilang, hanya tertunda. Masalah-masalah lama tidak benar-benar selesai.
Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

