Setelah Mu’awiyah wafat, kekuasaan berpindah ke anaknya, Yazid bin Mu’awiyah. Inilah momen penting, karena untuk pertama kalinya kepemimpinan Islam berpindah secara turun-temurun. Sebagian umat menerima. Sebagian lain menolak, bukan semata karena pribadi Yazid, tapi karena cara pengangkatannya.
Beberapa tokoh penting menolak membaiat Yazid. Di antaranya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW. Husain tidak mengangkat senjata. Ia juga tidak menggalang perang. Sikapnya sederhana: tidak ingin mengesahkan kepemimpinan yang menurutnya bermasalah secara moral dan prosedur. Penolakan ini membuat situasi tegang.
Husain menerima banyak surat dari penduduk Kufah. Isinya dukungan dan janji perlindungan jika ia datang ke sana untuk memimpin. Setelah mempertimbangkan, Husain berangkat dari Mekah menuju Kufah bersama keluarga dan pengikut dalam jumlah kecil.
Ini bukan rombongan perang. Namun situasi di Kufah berubah cepat. Gubernur baru yang ditunjuk Yazid menekan pendukung Husain. Dukungan yang dijanjikan menghilang.
Di tengah perjalanan, rombongan Husain dihadang pasukan Umayyah. Mereka diarahkan ke sebuah tempat bernama Karbala. Jumlah pasukan tidak seimbang. Husain dan rombongannya hanya puluhan orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Akses air dibatasi. Situasi ini jelas bukan negosiasi setara.
Pilihan yang Tidak Mudah
Husain diberi opsi untuk berbaiat kepada Yazid. Ia menolak. Penolakan ini bukan soal ambisi kekuasaan. Ini soal prinsip: ia tidak ingin mengesahkan kepemimpinan yang menurutnya menyimpang. Pilihan Husain jelas sejak awal, meski risikonya juga jelas.
Ketegangan di Karbala terus meningkat. Tidak ada jalan pulang. Tidak ada bala bantuan. Tragedi besar tinggal menunggu waktu.
Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

