Artikel Feature
Beranda » Perang Nahrawan dan akhir kepemimpinan Ali bin Abi Thalib

Perang Nahrawan dan akhir kepemimpinan Ali bin Abi Thalib

Kakbah di Saudi Arabia. (Foto: Internet)

Setelah Perang Shiffin dan peristiwa tahkim, masalah Ali bin Abi Thalib belum selesai. Justru bertambah. Kelompok Khawarij yang awalnya bagian dari pasukannya berubah menjadi ancaman serius.

Khawarij tidak sekadar berbeda pendapat. Mereka menganggap Ali, Mu’awiyah, dan siapa pun yang menerima tahkim sebagai pihak yang salah. Masalahnya, mereka mulai: menyerang warga sipil, menghalalkan darah sesama muslim, menciptakan ketakutan di wilayah Irak. Ali tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.

Sebelum bertindak militer, Ali mencoba pendekatan damai. Ia mengajak mereka berdialog dan memberi kesempatan untuk kembali. Sebagian memang mundur. Tapi kelompok inti tetap keras. Akhirnya, pertempuran tidak terhindarkan.

Konsolidasi Dinasti Umayyah: Stabilitas yang dibangun dari kontrol ketat

Pertempuran terjadi di Nahrawan. Secara militer, pasukan Ali menang telak. Sebagian besar Khawarij tewas. Namun kemenangan ini tidak membawa ketenangan. Sisa-sisa Khawarij menyebar dan menyimpan dendam. Ali menang perang, tapi kehilangan stabilitas.

Setelah Nahrawan, dukungan politik Ali melemah. Banyak pendukung lelah dengan konflik tanpa akhir. Sementara itu, Mu’awiyah justru memperkuat posisinya di Syam. Ali kesulitan mengonsolidasikan kekuatan untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Pada tahun 40 Hijriah, Ali ditikam oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Peristiwa itu terjadi saat Ali hendak memimpin shalat Subuh di Kufah. Ali wafat dua hari kemudian akibat luka tersebut. Ia meninggal bukan di medan perang besar, melainkan akibat konflik internal yang tidak pernah benar-benar padam.

Dunia Islam pasca Karbala: Kekuasaan berjalan, luka tetap ada

Wafatnya Ali menandai berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin. Setelah itu, kepemimpinan Islam memasuki bentuk baru yang lebih terpusat dan politis. Bukan berarti lebih buruk atau lebih baik. Tapi jelas berbeda.

Dari akhir kepemimpinan Ali: niat baik tidak selalu cukup, konflik internal bisa melemahkan pemimpin paling tulus sekalipun, persatuan jauh lebih rapuh daripada yang dibayangkan. Ali bukan pemimpin gagal. Ia pemimpin yang menghadapi kondisi paling sulit.

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

Tragedi Karbala dan dampaknya bagi sejarah Islam

×