SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan makanan yang berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur, terus meluas. Hingga awal September 2026, akumulasi korban yang terdampak dilaporkan telah mencapai 748 orang. Mayoritas korban merupakan para santri di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Ratusan santri merasakan gejala seperti mual, muntah, pusing, hingga diare selang beberapa jam setelah menyantap hidangan MBG. Lonjakan jumlah korban ini memaksa puluhan ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi para santri ke sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan medis darurat.
Insiden massal ini memicu tanggapan keras dari berbagai pihak, bahkan hingga ke wilayah luar daerah. Stemen Abdullah Maulana Yahya, selaku Sekretaris Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kartoharjo, Magetan, turut menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus teguran keras atas kejadian fatal yang menimpa ratusan santri di Sidoarjo tersebut.”Harusnya Kepala SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dan Ahli Gizi jauh lebih berhati-hati dalam mengolah dan menyajikan makanan untuk para siswa maupun santri penerima program MBG. Ini menyangkut keselamatan dan kesehatan anak-anak kita,” tegas Stemen Abdullah Maulana Yahya.
Melihat dampak luar biasa dari insiden ini, Stemen secara tegas menuntut adanya tindakan disiplin dan evaluasi total terhadap jajaran pengelola program di tingkat unit operasional. Ia mendesak agar Kepala SPPG dan Ahli Gizi yang bertanggung jawab atas pengolahan menu tersebut segera diberhentikan dari jabatannya.
Hingga saat ini, pihak berwenang dan Dinas Kesehatan setempat masih terus memantau pemulihan para korban serta melakukan investigasi mendalam terkait sampel makanan dari SPPG untuk memastikan penyebab pasti dari dugaan keracunan massal ini.

