Berita

Ketua PC PMII Ngawi Serukan Muktamar NU ke-35 Menjadi Momentum Refleksi dan Kembali pada Khittah 1926

Foto: Anggota PMII Ngawi 2025-2026

Ngawi, 24 Agustus 2026 — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Ngawi menyerukan kepada seluruh warga Nahdliyyin dan Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di setiap tingkatan agar memaknai Muktamar NU ke-35 di Jombang bukan sekadar sebagai forum pergantian kepemimpinan, melainkan sebagai momentum refleksi dan evaluasi bersama untuk menentukan arah perjuangan NU menuju abad kedua.

Digelarnya Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, memiliki makna historis yang sangat kuat. Pesantren tersebut merupakan salah satu basis penting sejarah NU dan didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU. Karena itu, PC PMII Ngawi menilai pelaksanaan muktamar di Tambakberas semestinya menjadi pengingat bagi seluruh warga NU untuk kembali menggali semangat awal berdirinya NU.

“Momentum Muktamar ke-35 di Tambakberas harus menjadi ruang refleksi untuk mengembalikan NU pada semangat khittah 1926. NU harus tetap kokoh sebagai organisasi keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan yang berpihak kepada kepentingan umat dan masyarakat,” PC PMII Ngawi.

BMKG ingatkan El Nino sangat kuat picu puncak karhutla

Foto: Anggota PMII Ngawi 2025-2026

Menurut Ketua PC PMII Ngawi, NU harus mampu menjaga independensi organisasi serta tidak terjebak dalam relasi kekuasaan yang berpotensi melemahkan daya kritis dan keberpihakan terhadap masyarakat. Kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh membuat NU kehilangan keberanian untuk menyampaikan kritik, melakukan advokasi, maupun mengoreksi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.

Prabowo tambah helikopter water bombing karhutla Kalteng

NU memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan masyarakat sipil yang turut memperjuangkan kemaslahatan bangsa. Oleh sebab itu, di abad keduanya NU harus semakin berani mengambil posisi strategis dalam mengawal persoalan kebangsaan, memperjuangkan keadilan sosial, membela kelompok masyarakat yang lemah, serta memastikan kebijakan negara benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.

“NU tidak boleh hanya menjadi penonton dalam berbagai persoalan bangsa. Ketika ada kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat, NU harus hadir untuk mengkritik, mengadvokasi, dan memberikan solusi. Independensi dan keberpihakan kepada masyarakat harus menjadi ruh perjuangan NU,” lanjutnya.

Ketua PC PMII Ngawi berharap Muktamar NU ke-35 mampu melahirkan kepemimpinan yang progresif, visioner, berintegritas, dan memiliki keberanian moral untuk membawa NU menjadi lebih baik dan maju di abad kedua.

Etika Kepemimpinan: Menyoal strukturalisme asal usul

Lebih dari sekadar memilih pemimpin, Muktamar NU ke-35 diharapkan mampu menghasilkan gagasan dan rekomendasi strategis yang menjawab berbagai tantangan bangsa, sekaligus memperkuat peran NU sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang kritis, mandiri, dan berpihak kepada masyarakat.

“Semoga Muktamar ke-35 melahirkan pemimpin yang mampu membawa NU memasuki abad kedua dengan lebih baik, maju, dan berdaya. Terlebih, pemimpin yang berani bersuara untuk kepentingan masyarakat Indonesia, bukan pemimpin yang takut terhadap hegemoni kekuasaan,” pungkas Ketua PC PMII Ngawi.

Kabut asap karhutla Indonesia ancam gelaran F1 Singapura
Lihat Semua Artikel Bicara Blitar
×