Artikel Opini
Beranda » Menyoal argumentasi idealis dalam pengkaderan PMII

Menyoal argumentasi idealis dalam pengkaderan PMII

Kader PMII Blitar, Alex Cahyono. Dok. Pribadi.

Ada sesuatu yang belakangan membuat saya cukup jengkel ketika melihat kehidupan organisasi mahasiswa, khususnya di PMII secara keseluruhan.

UKM Sholawat STIT Al-Muslihuun gelar majelis rutin sekaligus doa bersama pelepasan mahasiswa KKN

Bukan karena PMII tidak berkembang. Justru sebaliknya, kader-kadernya semakin banyak masuk ke berbagai ruang.

Ada yang masuk pemerintahan, lembaga politik, dunia usaha, organisasi profesi, lembaga sosial hingga berbagai program pemerintah. Secara kasat mata, ini bisa disebut sebagai keberhasilan kaderisasi.

Tetapi pertanyaannya sederhana, apakah semakin banyak kader yang mendapatkan posisi otomatis berarti semakin berhasil pula pengkaderan PMII?.

Dorong generasi yang bijak bermedia, mahasiswa Universitas Negeri Malang gelar sosialisasi literasi media perspektif UU ITE

Saya justru mulai ragu sebab ada perbedaan besar antara kader yang tumbuh karena ditempa organisasi dengan kader yang menjadikan organisasi sebagai kendaraan untuk mencapai sesuatu.

Dua-duanya mungkin sama-sama pernah mengikuti kaderisasi. Sama-sama memakai identitas PMII. Sama-sama pernah duduk dalam forum organisasi. Tetapi orientasinya bisa sangat berbeda.

Di titik inilah saya melihat persoalan yang lebih serius, pragmatisme mahasiswa mulai dipuja sebagai sesuatu yang normal, bahkan dianggap sebagai ukuran keberhasilan.

PMII Pusat STITMA Blitar cetak kader next level lewat pelatihan public speaking, siapkan generasi pergerakan modern berbasis pesantren

Mahasiswa hari ini sering kali didorong untuk berpikir, “Setelah lulus mau jadi apa?”, “Organisasi ini bisa memberikan apa?”, “Siapa yang bisa membuka akses?”, “Siapa yang bisa mengantarkan saya ke institusi tertentu?”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya tidak salah.

Menjadi masalah adalah ketika hampir seluruh orientasi organisasi berhenti di sana.

PMII dalam forum kepemudaan: Peran PMII dalam pergulatan dengan KNPI

Ketika PMII tidak lagi dipandang sebagai ruang untuk membangun gagasan, melatih keberanian intelektual, membentuk karakter sekaligus mewariskan nilai perjuangan, melainkan hanya sebagai batu loncatan menuju karier, maka kita sebenarnya sedang menyaksikan perubahan watak organisasi. Perubahan itu tidak boleh terus-menerus dianggap sebagai kewajaran.

Ketika PMII Hanya Menjadi Batu Loncatan

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kader PMII tidak boleh sukses secara karier. Justru organisasi harus mampu melahirkan kader yang profesional dan mampu mengambil peran di berbagai bidang.

Menelisik sejarah gagasan perubahan nama PMII menjadi PMRI pada kongres IX Surabaya 1988

Tetapi setelah mendapatkan posisi, apa yang diberikan kembali kepada organisasi dan masyarakat?. Jangan sampai PMII hanya ramai ketika seseorang masih membutuhkan organisasi.

Ketika membutuhkan jaringan, datang. Ketika membutuhkan legitimasi sosial, datang. Ketika membutuhkan pengalaman organisasi, datang. Ketika membutuhkan akses politik, datang. Ketika membutuhkan rekomendasi, datang.

Tetapi ketika organisasi membutuhkan tenaga, pikiran, gagasan bahkan hanya kehadiran untuk mengurus kaderisasi tiba-tiba semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.

KOPRI PC PMII Blitar bekali kader bangun narasi perempuan lewat “Women’s Narrative School”

Kalau pola semacam ini terus dipelihara, PMII bukan lagi menjadi rumah perjuangan. Namun berubah menjadi semacam terminal keberangkatan karier.

Datang sebagai mahasiswa, mendapatkan pengalaman, membangun jaringan, memperoleh akses kemudian pergi ketika kesempatan terbuka.

Hal yang lebih menyedihkan, fenomena semacam ini terkadang justru mendapatkan pembenaran dari lingkungan organisasi sendiri.

Sinkronkan program kerja, KOPRI PC PMII Blitar gelar konsolidasi berkala bersama pengurus KOPRI komisariat dan rayon

Kader yang sukses secara karier dianggap sebagai “produk kaderisasi”, tetapi jarang ditanya apakah kesuksesan tersebut juga membawa konsekuensi tanggung jawab terhadap organisasi dan masyarakat.

Padahal kaderisasi seharusnya tidak hanya menghasilkan orang-orang yang mampu menduduki jabatan. Kaderisasi harus menghasilkan manusia yang tahu untuk apa jabatan itu digunakan.

Pengkaderan Bukan Pabrik Pencetak Jabatan

Bahaya “Logical Fallacy” dalam memahami massa aksi, ketika demonstrasi kehilangan substansi

Di sinilah argumentasi tentang idealisme pengkaderan perlu dibongkar kembali.

Kita terlalu sering berbicara tentang kaderisasi sebagai proses mencetak kader yang “siap berkompetisi”.

Kalimat tersebut terdengar bagus, tetapi jika tidak disertai fondasi ideologis, dapat berpotensi mengubah organisasi menjadi arena kompetisi individual.

Kader akhirnya belajar bahwa organisasi adalah tempat mengumpulkan modal sosial. Senior menjadi jaringan. Forum menjadi portofolio.

Jabatan organisasi menjadi curriculum vitae. Kegiatan menjadi dokumentasi. Relasi menjadi akses. Idealisme menjadi jargon yang hanya diucapkan ketika forum kaderisasi berlangsung.

Kalau sudah begini, jangan heran apabila setelah kader mendapatkan kesempatan yang lebih besar di luar organisasi, perhatian terhadap organisasi semakin kecil.

Sebab sejak awal organisasi memang tidak pernah benar-benar ditempatkan sebagai ruang pengabdian, melainkan sebagai instrumen mobilitas sosial. Hal ini bukan hanya persoalan individu. Namun persoalan kultur.

Godaan Menjadi “Orang Dalam”

Keterlibatan kader dalam berbagai program pemerintah, termasuk ruang-ruang yang berkaitan dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), menurut saya tidak otomatis merupakan sesuatu yang salah.

Justru kader mahasiswa memang harus mampu masuk ke ruang-ruang strategis negara.

Masalahnya muncul ketika keterlibatan tersebut hanya dipahami sebagai kesempatan memperoleh posisi, proyek, jaringan atau akses.

Kita harus berani membedakan antara kader yang masuk ke dalam sistem untuk memperbaiki sistem dengan kader yang masuk ke dalam sistem karena ingin mendapatkan keuntungan dari sistem. Perbedaannya mungkin tipis secara kasat mata, tetapi sangat besar secara moral.

Kalau kader PMII masuk ke program pemerintah lalu bekerja secara profesional, kritis terhadap kebijakan yang bermasalah, memastikan program berjalan sesuai kepentingan masyarakat serta tetap membawa nilai-nilai pengabdian, saya kira tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Tetapi kalau identitas PMII hanya dipakai sebagai tiket untuk masuk, sementara setelah berada di dalam sistem ia kehilangan keberanian untuk bersikap kritis, maka kita patut bertanya, apa sebenarnya yang diwariskan oleh pengkaderan?.

MBG dan KDMP hanyalah contoh kecil dari ruang yang semakin luas yang dapat dimasuki kader. Masih banyak sektor lain di politik, pemerintahan, perusahaan, lembaga profesi, birokrasi, organisasi masyarakat bahkan lembaga-lembaga yang dahulu sering menjadi objek kritik gerakan mahasiswa.

Masuk ke sana bukan masalah. Hal yang menjadi masalah adalah ketika kader tidak lagi membawa nilai organisasi, tetapi justru organisasi yang dibawa sebagai akses untuk mendapatkan posisi.

Ironi Kader PMII di Tengah Pemilu

Persoalan yang sama juga terlihat dalam momentum politik elektoral. Saya tidak sedang mempermasalahkan kader PMII yang terlibat dalam Pemilu.

Kader organisasi mahasiswa tentu memiliki hak politik sebagai warga negara. Bahkan keterlibatan mahasiswa dalam demokrasi merupakan sesuatu yang penting.

Tetapi saya justru khawatir ketika kader aktif lebih tertarik menjadi bagian dari euforia penyelenggaraan Pemilu daripada menjalankan fungsi kritis sebagai kelompok masyarakat sipil.

Kita terlalu mudah bangga ketika ada kader yang masuk dalam pusaran politik. Namun kita jarang bertanya siapa yang mengawasi? Siapa yang mengkritisi? Siapa yang memastikan instrumen demokrasi berjalan sebagaimana mestinya? Siapa yang berani mempersoalkan ketika ada penyelenggaraan yang bermasalah?.

Jangan sampai kader aktif lebih sibuk menjadi bagian dari pesta politik daripada memastikan pesta itu berlangsung secara demokratis.

Lebih ironis lagi jika kader organisasi mahasiswa justru kehilangan jarak kritis terhadap kekuasaan karena merasa memiliki kedekatan dengan aktor politik tertentu.

Di situlah identitas sebagai kader pergerakan menjadi problematis. Sebab pergerakan mahasiswa seharusnya tidak hanya hadir ketika ada kepentingan politik, tetapi justru paling dibutuhkan ketika kekuasaan membutuhkan pengawasan.

Reorganisasi dan Penyakit Transaksional

Kalau ingin mencari akar masalah, kita sebenarnya tidak perlu terlalu jauh. Lihat saja bagaimana sebagian proses reorganisasi berlangsung.

Idealnya, reorganisasi adalah mekanisme untuk memastikan keberlanjutan organisasi. Orang yang dipilih seharusnya adalah mereka yang dianggap memiliki kapasitas, integritas, gagasan serta komitmen untuk membawa organisasi ke arah yang lebih baik.

Tetapi bagaimana jika reorganisasi justru berubah menjadi arena transaksi? Bagaimana jika dukungan politik organisasi dibangun melalui barter kepentingan? Bagaimana jika jabatan dipandang sebagai investasi?.

Hal yang paling menyakitkan, bagaimana jika money politic mulai dianggap sebagai sesuatu yang biasa dalam organisasi mahasiswa?.

Kalau itu benar-benar terjadi, maka jangan salahkan kader apabila akhirnya belajar bahwa segala sesuatu dapat dibeli.

Hari ini membeli dukungan dalam pemilihan internal. Besok membeli akses politik. Lusa membeli posisi. Setelah itu kita masih berbicara tentang idealisme? Rasanya lucu.

Kita tidak bisa mengajari kader tentang integritas di forum kaderisasi, sementara praktik organisasi sehari-hari justru memberikan pelajaran sebaliknya.

Kader belajar bukan hanya dari materi yang disampaikan senior. Kader belajar terutama dari apa yang mereka lihat dilakukan senior.

Jangan Mengajarkan Idealisme dengan Praktik yang Pragmatis

Menurut saya, ini adalah kontradiksi terbesar dalam pengkaderan PMII. Kita sering berbicara tentang Aswaja, independensi, keberpihakan kepada masyarakat, tradisi intelektual, kepemimpinan, pengabdian, dan keberanian memperjuangkan kebenaran.

Tetapi di sisi lain, kader melihat seniornya sibuk mengejar jabatan. Kader melihat organisasi diperebutkan. Kader melihat kepentingan politik masuk ke dalam forum. Kader melihat jabatan diperlakukan sebagai komoditas.

Kader melihat orang yang aktif di organisasi justru meninggalkan organisasi ketika kariernya mulai berkembang.

Lalu kita bertanya mengapa mahasiswa hari ini semakin tidak tertarik dengan organisasi Jawabannya mungkin sangat sederhana.

Mereka tidak lagi melihat sesuatu yang menarik untuk diwariskan.

Organisasi mahasiswa kehilangan daya tarik bukan hanya karena mahasiswa semakin pragmatis. Bisa jadi organisasi itu sendiri yang secara tidak sadar telah mengajarkan pragmatisme.

Kita mengeluh mahasiswa hanya mencari sertifikat dan ijazah. Tetapi bukankah sebagian organisasi juga terlalu sibuk mengumpulkan dokumentasi kegiatan?.

Kita mengeluh mahasiswa hanya mengejar karier. Tetapi bukankah sebagian senior justru mempertontonkan bahwa karier adalah tujuan akhir dari berorganisasi?.

Kita mengeluh mahasiswa tidak mau berproses. Tetapi bukankah kultur organisasi kadang lebih menghargai siapa yang punya akses daripada siapa yang punya gagasan?.

PMII Harus Mengembalikan Makna “Pewarisan Nilai”

PMII tidak boleh berkutat pada konsep regenerasi. Regenerasi hanya berarti mengganti orang. Sementara pengkaderan seharusnya berarti mewariskan nilai.

Ada sesuatu yang harus berpindah dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya yakni keberanian berpikir, keberanian berbeda, keberanian mengkritik, keberanian membela kelompok yang lemah, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, dan kesediaan mengabdi tanpa selalu menghitung keuntungan pribadi.

Jika yang diwariskan hanya jaringan dan jabatan, maka PMII sedang kehilangan ruhnya.

Kita membutuhkan kader yang mampu mengatakan “tidak” ketika semua orang mengatakan “iya”.

Kita membutuhkan kader yang berani mengkritik seniornya sendiri. Kita membutuhkan kader yang tidak merasa bersalah ketika harus berseberangan dengan kekuasaan.

Kita membutuhkan kader yang mampu masuk ke pemerintahan tanpa kehilangan daya kritis.

Kita membutuhkan kader yang mampu masuk ke dunia politik tanpa menjadikan organisasi sebagai kendaraan politik pribadi.

Hal yang paling penting, kita membutuhkan kader yang ketika sudah sukses masih merasa memiliki utang moral terhadap proses yang pernah membesarkannya.

Jangan Takut Menjadi Idealis

Mungkin zaman sekarang idealisme dianggap naif. Orang yang terlalu idealis dianggap tidak realistis. Orang yang terlalu kritis dianggap tidak tahu cara bermain.

Orang yang menolak transaksi dianggap tidak paham politik. Orang yang tidak mengejar jabatan dianggap tidak memiliki ambisi.

Kalau memang demikian, saya justru ingin mengatakan jangan takut menjadi idealis.

Sebab organisasi mahasiswa tanpa idealisme hanyalah organisasi biasa. PMII tanpa keberanian intelektual hanya menjadi kumpulan orang yang memiliki identitas organisasi.

Kader tanpa nilai hanya menjadi individu yang kebetulan pernah berproses di PMII.

Kita tidak membutuhkan kader yang hanya pintar mencari posisi. Kita membutuhkan kader yang ketika memperoleh posisi masih mampu bertanya, untuk siapa posisi itu digunakan?.

PMII Bukan Lembaga Penyalur Karier

Saya kira kita juga perlu berhenti menjadikan keberhasilan karier kader sebagai satu-satunya parameter keberhasilan pengkaderan.

Kader yang menjadi pejabat bukan otomatis lebih berhasil daripada kader yang tetap menjadi aktivis sosial.

Kader yang masuk perusahaan besar bukan otomatis lebih berhasil daripada kader yang memilih menjadi pendamping masyarakat.

Kader yang memiliki jabatan politik bukan otomatis lebih berhasil daripada kader yang tetap menjadi akademisi, advokat, jurnalis, petani, pengusaha, atau pekerja profesional yang independen.

Ukuran keberhasilan kaderisasi seharusnya bukan sekadar “dia sekarang menjadi apa?”.

Tetapi juga, “Nilai apa yang masih ia pegang setelah menjadi siapa-siapa?” Sebab sangat mudah menjadi idealis ketika belum memiliki apa-apa.

Hal yang jauh lebih sulit adalah tetap idealis ketika sudah memiliki jabatan, kekuasaan, uang, jaringan dan kesempatan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Di situlah kualitas kader sesungguhnya diuji.

Kalau Pengurus Sibuk Mengejar Karier, Siapa yang Mengurus Pergerakan? Ada ironi yang semakin sulit disembunyikan.

Orang-orang yang seharusnya memikirkan arah organisasi justru mulai sibuk memikirkan arah karier masing-masing.

Pengurus yang seharusnya menjadi penggerak kaderisasi sibuk membangun personal branding.

Orang yang seharusnya mengurus basis kader sibuk mencari posisi.

Forum yang seharusnya menjadi ruang perdebatan gagasan berubah menjadi arena konsolidasi kepentingan.

Akhirnya organisasi tetap berjalan secara administratif, tetapi kehilangan energi pergerakan. Program tetap ada. Rapat tetap ada. Pelantikan tetap ada. Seminar tetap ada. Peringatan hari besar tetap ada.

Namun pertanyaan yang lebih penting justru hilang, “Sebenarnya kita bergerak untuk apa?”

Kalau pertanyaan itu tidak lagi penting, mungkin kita memang tidak sedang membangun pergerakan. Kita hanya sedang mengelola organisasi.

Krisis Idealisme Adalah Krisis Masa Depan Organisasi

Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan romantisme bahwa masa lalu PMII selalu ideal. Tidak. Organisasi sebesar PMII tentu selalu memiliki persoalan, konflik, kepentingan serta dinamika politik.

Tetapi justru karena itulah idealisme harus terus diperjuangkan. Idealisme bukan berarti menolak realitas.Idealisme berarti memiliki prinsip ketika berhadapan dengan realitas.

Pragmatisme juga bukan selalu sesuatu yang buruk. Dalam politik dan organisasi, kemampuan membaca situasi adalah kebutuhan.

Tetapi pragmatisme menjadi penyakit ketika kepentingan pribadi mulai mengalahkan nilai yang seharusnya diperjuangkan.

PMII harus berani mengoreksi dirinya sendiri. Bukan hanya mengkritik pemerintah. Bukan hanya mengkritik DPR. Bukan hanya mengkritik partai politik. Bukan hanya mengkritik penyelenggara Pemilu. Tetapi juga mengkritik dirinya sendiri.

Sebab tidak masuk akal jika kita menuntut negara bersih sementara organisasi sendiri toleran terhadap transaksi.

Tidak masuk akal jika kita menuntut demokrasi sehat sementara proses internal organisasi dikotori politik uang.

Tidak masuk akal jika kita mengkritik mahasiswa yang pragmatis sementara senior-seniornya justru menjadikan organisasi sebagai batu loncatan.

Tidak masuk akal jika kita terus berbicara tentang idealisme pengkaderan apabila kultur organisasi yang diwariskan kepada kader justru mengajarkan sebaliknya.

Jangan Sampai PMII Hanya Menjadi Catatan di CV

Saya menulis ini tidak sedang meminta kader PMII untuk menjadi miskin, anti-karier, atau menjauh dari pemerintahan dan politik. Sama sekali bukan itu.

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa karier seharusnya menjadi salah satu hasil dari proses kaderisasi, bukan tujuan utama kaderisasi. Masuk pemerintahan silakan. Masuk politik silakan. Masuk dunia usaha silakan.

Terlibat dalam MBG, KDMP, maupun berbagai program publik lainnya silakan. Menjadi profesional silakan.

Tetapi jangan pernah kehilangan pertanyaan paling sederhana, apa yang kita perjuangkan?.

Sebab PMII tidak didirikan hanya agar kadernya memiliki jaringan yang luas.

PMII tidak lahir untuk menjadi biro perjalanan menuju jabatan. PMII bukan lembaga penyalur karier. PMII seharusnya tidak menjadi batu loncatan bagi orang-orang yang setelah berhasil justru lupa dari mana mereka belajar berjalan.

Kalau hari ini mahasiswa semakin tidak tertarik berorganisasi, mungkin kita perlu berhenti menyalahkan generasi mereka.

Barangkali mereka hanya sedang membaca tanda-tanda. Mereka melihat pengurus yang terlalu sibuk dengan karier.

Mereka melihat organisasi yang terlalu sibuk dengan perebutan jabatan.Mereka melihat idealisme yang hanya menjadi slogan.

Mereka melihat politik uang masuk ke ruang yang seharusnya mendidik politik.

Dan mereka kemudian bertanya, “Untuk apa saya masuk organisasi jika pada akhirnya organisasi hanya mengajarkan saya cara mendapatkan posisi?”.

Pertanyaan itu menyakitkan. Tetapi mungkin justru pertanyaan itulah yang harus kita jawab.

Karena kalau PMII tidak segera mengembalikan ruh idealisme, tradisi intelektual, independensi, dan semangat pengabdian, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita masih memiliki struktur organisasi yang lengkap, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting tentang alasan mengapa organisasi ini harus tetap hidup.

Bagi saya, itulah penyakit yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar berkurangnya jumlah kader.

×