Artikel
Beranda » Wisata Budaya Blitar: Menelusuri Tradisi Khas di Kota dan Kabupaten Blitar

Wisata Budaya Blitar: Menelusuri Tradisi Khas di Kota dan Kabupaten Blitar

foto upacara adat jamasan gong kyai pradah (website: ppid.blitarkab.go.id)

Identitas geografis dan julukan Blitar

Kota Blitar menempati posisi geografis yang sangat strategis pada lereng Gunung Kelud yang perkasa dengan jarak tempuh mencapai seratus enam puluh kilometer arah tenggara dari Surabaya.

Wilayah ini menyandang berbagai julukan prestisius seperti Kota Patria, Kota Lahar, dan Kota Koi yang merepresentasikan identitas sejarah serta ketangguhan masyarakat lokal dalam menghadapi tantangan zaman.

Kehadiran makam Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, memberikan aura patriotisme yang sangat kental bagi setiap sudut wilayah perkotaan maupun kabupaten.

10 tempat wisata Blitar yang wajib dikunjungi, dari Candi Penataran hingga Kampung Coklat

Masyarakat mengenal Blitar bukan sekadar melalui narasi kepahlawanan nasional, melainkan juga lewat kekayaan tradisi lokal yang terus tumbuh subur di tengah arus modernisasi.

Narasi kebudayaan ini berkelindan erat dengan nilai-nilai sejarah panjang yang membentuk karakter masyarakat Blitar sebagai penjaga api semangat kebangsaan dan kearifan lokal yang abadi.

Upacara adat siraman gong kiai pradah di sutojayan

Masyarakat di Kecamatan Sutojayan secara rutin menyelenggarakan ritual Jamasan atau Siraman Gong Kiai Pradah yang memusatkan seluruh rangkaian kegiatannya di Alun-alun Lodoyo.

Wisata edukatif di Blitar: Menjelajahi UPT perpustakaan proklamator Bung Karno

Pelaksanaan upacara adat ini berlangsung dua kali dalam setahun, yakni setiap tanggal 12 Rabiul Awal yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW serta tanggal 1 Syawal.

Petugas mengawali prosesi sakral ini dengan mengirab pusaka berupa sebuah gong dari sanggar penyimpanan menuju tempat pemandian yang terletak di pendopo kecamatan.

Ritual inti melibatkan penyucian pusaka menggunakan air bunga setaman yang menyebarkan aroma wangi semerbak ke seluruh area upacara sebelum masyarakat berebut sisa air jamasan tersebut.

Sebagai bagian dari puncak acara, petugas menabuh gong tersebut sebanyak tujuh kali untuk memperdengarkan suara keramatnya kepada seluruh warga yang hadir memadati alun-alun.

Tradisi ini berakar kuat pada legenda Pangeran Prabu yang melakukan perjalanan spiritual dari Kerajaan Mataram menuju wilayah hutan belantara di sisi selatan.

Dalam pelariannya, Pangeran Prabu menempuh perjalanan bersama sang istri bernama Gusti Wandansari serta seorang abdi setia bernama Ki Amat Tariman.

Nama Lodoyo sendiri muncul saat pohon Lo yang tumbuh miring atau dhoyong menjadi tempat bersandar sang pangeran ketika sedang melepas lelah di tengah hutan.

Sejarah tutur menyebutkan bahwa Pangeran Prabu pernah menabuh bendhe Kiai Bicak untuk memanggil bantuan sekelompok harimau saat rombongan kehilangan arah di tengah kepekatan rimba.

Tokoh Kiai Pradah yang berhasil menemukan kembali pusaka tersebut setelah sempat hilang memicu perubahan nama benda pusaka itu menjadi Gong Kiai Pradah.

Tradisi larung sesaji: Manifestasi syukur masyarakat pesisir

Masyarakat pesisir Pantai Tambakrejo dan Pantai Serang menyelenggarakan tradisi Larung Sesaji sebagai wujud syukur yang mendalam atas segala nikmat rezeki dan keselamatan.

Upacara adat ini berlangsung setiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharram dengan melibatkan partisipasi aktif pejabat pemerintah kabupaten serta ribuan warga pesisir selatan.

Para peserta upacara mengusung berbagai wujud sesaji yang terdiri atas hasil bumi yang melimpah, jajan pasar tradisional, serta kepala sapi menuju dermaga pemberangkatan.

Nelayan kemudian melarung seluruh persembahan tersebut sejauh tiga kilometer ke tengah samudera sebagai simbol pelepasan rasa syukur atas kekayaan sumber daya alam laut.

Gemuruh ombak pesisir selatan mengiringi prosesi larungan yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan kekuatan alam yang memberikan penghidupan bagi penduduk setempat.

Penyelenggaraan di Pantai Serang menampilkan keunikan tersendiri melalui kehadiran tujuh gunungan raksasa berisi hasil bumi dan jajanan pasar dari para pelaku UMKM.

Angka tujuh tersebut secara filosofis melambangkan penghormatan terhadap usia Kabupaten Blitar yang telah menginjak masa gemilang selama tujuh abad.

Masyarakat kemudian berebut gunungan tumpeng tersebut setelah prosesi doa selesai sebagai simbol pemerataan berkah bagi seluruh lapisan warga yang hadir.

Tradisi tahunan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritus keagamaan dan budaya, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi melalui sektor pariwisata yang dinamis.

Penyelenggaraan Larung Sesaji secara konsisten memastikan kelestarian nilai-nilai luhur sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir bagi generasi mendatang melalui pesan-pesan keselamatan dan kearifan lingkungan.

Grebeg Pancasila: Peringatan hari lahir dasar negara

Para seniman dan budayawan di Blitar mencetuskan gagasan Grebeg Pancasila untuk mengenang momen bersejarah lahirnya dasar negara setiap tanggal 1 Juni melalui pendekatan kultural. Rangkaian acara ini menampilkan wajah kebudayaan Nusantara yang inklusif melalui lima tahapan prosesi yang mengandung nilai filosofis mendalam serta semangat gotong royong:

Bedhol Pusaka: Petugas mengambil pusaka dari Istana Gebang menuju kantor pemerintah kota pada tengah malam tanggal 31 Mei untuk menghindari kepadatan lalu lintas kota. Iring-iringan ini melibatkan pasukan Bregodo Siji (Prajurit 1), Bregodo Enem (Prajurit 6), serta Bregodo Patang Puluh Limo (Prajurit 45) yang secara simbolis merujuk pada tanggal lahir Pancasila, yaitu 1 Juni 1945.

Malam Tirakatan: Warga melakukan perenungan batin melalui budaya lisan tembang macopat serta menyajikan sesaji simbolis berupa lilin, kapur sirih, telur rebus, dan kopi hitam.

Upacara Budaya: Pelaksanaan upacara di Alun-alun Kota Blitar menampilkan penari tradisional serta pembacaan Sabda Kawedhar yang menyampaikan pesan-pesan moral serta filosofi hidup bagi seluruh masyarakat.

Kirab Gunungan Lima: Peserta mengarak lima gunungan hasil bumi dari pusat kota menuju Makam Bung Karno sebagai representasi visual dari lima sila Pancasila yang menjadi pondasi bernegara.

Kenduri Pancasila: Masyarakat lintas agama dan suku mengikuti tasyakuran lesehan atau genduren dengan hidangan tumpeng sebagai lambang kerukunan hidup dan toleransi yang tinggi di tanah Blitar.

Pelestarian keluhuran nilai sejarah

Pelaksanaan berbagai tradisi khas tersebut memegang peranan vital dalam menjaga keluhuran nilai sejarah serta memperkokoh identitas kultural masyarakat di wilayah Blitar.

Penyelenggaraan kegiatan budaya yang terjadwal secara rutin memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan sektor pariwisata serta memberikan ruang bagi penguatan ekonomi kreatif masyarakat.

Konsistensi dalam merawat warisan leluhur, mulai dari angka keramat tujuh pada jamasan hingga simbolisme prajurit dalam grebeg, memastikan Blitar tetap memegang teguh jati dirinya.

Dokumentasi dan pelestarian tradisi ini menegaskan posisi strategis Blitar sebagai pusat gravitasi kebudayaan yang mampu menyelaraskan penghormatan masa lalu dengan dinamika kehidupan modern.

Seluruh rangkaian upacara ini membuktikan bahwa nilai-nilai sosial fundamental tetap menjadi napas utama dalam setiap derap langkah pembangunan masyarakat Blitar yang religius dan nasionalis.

×