Setelah Umar bin Khattab wafat, tim musyawarah memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga. Utsman bukan sosok keras seperti Umar. Gayanya lebih tenang, lembut, dan menghindari konflik langsung. Masalahnya, situasi umat saat itu sudah jauh lebih kompleks.
Di masa Utsman, wilayah Islam terus meluas. Pasukan tersebar hingga Afrika Utara dan Asia Tengah. Penduduknya beragam, bahasa berbeda, dan cara membaca Al-Qur’an pun mulai bervariasi. Perbedaan ini awalnya kecil, tapi berpotensi menimbulkan konflik.
Masalah perbedaan bacaan sampai ke telinga Utsman. Ia khawatir Al-Qur’an justru menjadi sumber perpecahan. Utsman lalu membentuk tim yang dipimpin Zaid bin Tsabit untuk menyusun mushaf standar berdasarkan dialek Quraisy.
Salinan mushaf ini kemudian dikirim ke berbagai wilayah. Naskah lain yang berbeda diminta untuk tidak digunakan lagi. Keputusan ini bukan tanpa kritik. Namun langkah ini terbukti penting untuk menjaga keseragaman bacaan hingga hari ini.
Di sisi lain, Utsman mengangkat beberapa kerabatnya ke posisi strategis. Menurut Utsman, mereka dipilih karena kemampuan dan kepercayaan. Namun di mata sebagian masyarakat, kebijakan ini dianggap nepotisme. Keluhan mulai muncul dari berbagai daerah. Masalah ini diperparah oleh jarak Utsman yang cenderung menghindari konfrontasi langsung.
Keluhan dari Mesir, Kufah, dan Basrah makin keras. Sebagian kritik masuk akal, sebagian lagi bercampur fitnah. Utsman tidak menindak keras para pengkritiknya. Ia memilih bersabar dan berharap situasi mereda. Sayangnya, pendekatan ini justru memberi ruang bagi provokasi.
Pelajaran dari Masa Awal Utsman
Dari periode ini terlihat bahwa: pemimpin lembut menghadapi tantangan berbeda dari pemimpin tegas, sistem pengawasan perlu lebih kuat saat wilayah membesar, niat baik tidak selalu cukup jika komunikasi buruk
Utsman bukan pemimpin yang zalim. Namun ia memimpin di masa yang penuh tekanan politik.
Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

