Aceh Tamiang – Fokus tim relawan NU Peduli PCNU Kabupaten Blitar dalam memulihkan fasilitas publik di Aceh Tamiang kini menyasar pada penguatan sistem kesehatan lingkungan.
Pada Selasa, 24 Februari 2026, tim relawan melakukan pembangunan saluran sanitasi pencucian piring di Dayah Al-Musthofa, Desa Menanggini, Kecamatan Karang Baru.
Pembangunan sarana ini menjadi krusial mengingat pascabencana banjir, ketersediaan akses sanitasi yang layak di lingkungan pendidikan pesantren (dayah) sangat berpengaruh pada pencegahan penyakit menular.
Pengerjaan proyek sanitasi ini dilakukan secara teknis oleh dua personel Banser dari PCNU Kabupaten Blitar yang juga merupakan anggota Tagana (Taruna Siaga Bencana).
Kombinasi keahlian sebagai Banser dan pengalaman lapangan sebagai Tagana membuat pengerjaan saluran sanitasi ini dilakukan dengan perhitungan yang matang, terutama dalam pengaturan drainase agar limbah air pencucian tidak menggenang dan menjadi sarang kuman.
Kedua personel Banser tersebut, Eko Hari Setyawan dan Mohammad Khoirul Huda. Eko menyampaikan, pembangunan sarana sanitasi pencucian piring ini merupakan upaya nyata untuk meningkatkan standar higienitas bagi para santri di Dayah Al-Musthofa.
“Kami menekankan pada pembangunan sanitasi yang sehat. Air limbah harus mengalir dengan benar ke saluran pembuangan agar lingkungan dayah tetap bersih dan nyaman. Dua personel kami yang merupakan anggota Banser sekaligus Tagana memiliki kualifikasi untuk memastikan pengerjaan ini kuat secara struktur dan memenuhi standar kesehatan lingkungan,” ungkapnya.
Langkah pembangunan sanitasi ini disambut baik oleh pengurus Dayah Al-Musthofa. Sebelumnya, fasilitas pencucian piring di lokasi tersebut mengalami kendala teknis akibat penumpukan sedimen lumpur sisa banjir yang menyumbat saluran lama.
Dengan selesainya pembangunan saluran sanitasi baru ini, diharapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan pesantren dapat kembali diterapkan secara maksimal.
Aksi ini menunjukkan bahwa misi kemanusiaan PCNU Kabupaten Blitar di Aceh Tamiang tidak hanya menyentuh perbaikan fisik yang tampak, tetapi juga mendetail hingga ke sistem sanitasi yang menjadi fondasi kesehatan jangka panjang para santri. (nu/blt)

