Artikel Pop Culture
Beranda » Thrift atau distro?: Pilihan fashion anak muda saat berburu baju lebaran

Thrift atau distro?: Pilihan fashion anak muda saat berburu baju lebaran

Gambar animasi belanja baju thrift atau distro. Dok. IST.

Lebaran selalu punya satu ritual yang sulit dilewatkan anak muda yakni berburu baju baru. Bukan hanya soal tradisi, tapi juga tentang gengsi kecil-kecilan ketika bertemu keluarga besar, teman lama, atau bahkan mantan yang tiba-tiba muncul di acara halal bihalal.

Menjelang lebaran di Kediri: ini penjelasan THR untuk karyawan baru dan kontrak

Di tengah banyaknya pilihan fashion hari ini, dua jalur paling sering jadi pertimbangan, belanja di thrift atau distro. Keduanya sama-sama punya penggemar fanatik, sama-sama punya cerita serta tentu saja sama-sama punya alasan kuat untuk dipilih saat berburu outfit lebaran.

Belanja thrift belakangan ini bukan hanya sebagai alternatif bagi yang ingin hemat. Ini sudah menjadi gaya hidup. Dengan uang yang relatif terjangkau, anak muda bisa mendapatkan kaos, jaket, atau kemeja dari brand terkenal yang kalau beli baru mungkin harganya bisa bikin dompet bergetar.

Sensasinya juga berbeda. Thrifting itu seperti berburu harta karun. Kadang kita masuk lapak dengan ekspektasi rendah, tapi pulang membawa barang yang bahkan tidak kita sangka sebelumnya. Ada semacam kepuasan tersendiri ketika menemukan brand keren dengan harga yang “tidak masuk akal”.

Pemanis hari raya: cerita dari setoples kue kering tradisional

Namun tentu saja, thrift bukan tanpa resiko. Tidak semua barang thrift punya kualitas bagus. Kadang kita harus jeli membedakan mana barang original, mana yang hanya untuk terlihat keren tapi ternyata kualitasnya biasa saja.

Ada juga kondisi barang yang sudah cukup “berumur”, sehingga butuh ketelitian ekstra sebelum membeli. Tapi justru di situlah letak seninya. Bagi banyak anak muda, keberhasilan mendapatkan barang bagus dari thrift sering dianggap sebagai hoki yang membanggakan. Rasanya seperti menang lotre kecil dalam dunia fashion.

Di sisi lain, ada distro yang menawarkan pengalaman berbeda. Jika thrift adalah soal keberuntungan, distro adalah soal kepastian. Barang yang dijual di distro umumnya merupakan produk baru dengan desain yang dikembangkan oleh brand lokal. Banyak distro muncul sebagai bentuk adaptasi gaya fashion luar negeri yang kemudian diolah dengan sentuhan lokal. Hasilnya seringkali unik, eksklusif sekaligus punya karakter yang kuat.

Bukan lagi sage green! Ini 7 tren fashion lebaran 2026

Soal harga, distro memang cenderung lebih mahal dibanding thrift. Namun harga itu biasanya sebanding dengan kualitas dan keaslian produk yang dijual. Di distro, kita tidak perlu khawatir soal keaslian barang karena produk yang dijual memang resmi dari brand tersebut.  Bahkan beberapa brand distro sengaja memproduksi barang secara terbatas agar tetap terasa eksklusif. Artinya, ketika kita memakai produk distro tertentu, kemungkinan besar tidak akan terlalu banyak orang yang memakai barang yang sama.

Fenomena menarik lainnya adalah bagaimana distro seringkali menjadi simbol kebanggaan tersendiri bagi anak muda. Ketika sebuah brand distro sudah cukup dikenal luas, muncul istilah yang sering kita dengar seperti, “Local Pride.” Sebuah bentuk kebanggaan karena memakai produk lokal yang kualitasnya tidak kalah dengan brand luar negeri. Di titik ini, memakai baju distro bukan hanya soal gaya, tapi juga soal identitas.

Meski begitu, ada juga sisi unik dari dunia distro. Tidak semua brand dikenal secara nasional. Bisa jadi sebuah distro sangat populer di satu kota, tetapi nyaris tidak dikenal di kota lain.

Mengapa thrifting-an banyak merek branded, orinya kadang ngga njamin?

Maka tidak jarang ada anak muda yang memakai baju distro dari daerah asalnya ketika kuliah atau bekerja di luar kota, lalu orang-orang di sekitarnya merasa asing dengan brand tersebut. Anehnya, justru di situ kadang muncul rasa percaya diri tersendiri, seolah sedang membawa “rahasia fashion” dari kota asal.

Jika dipikir-pikir, thrift dan distro sebenarnya menawarkan dua pengalaman yang sama-sama menarik. Thrift memberikan sensasi berburu dan kemungkinan mendapatkan brand mahal dengan harga murah. Sementara distro menawarkan kepastian kualitas, desain eksklusif, serta kebanggaan menggunakan produk lokal.

Tetapi akhirnya, pilihan fashion anak muda menjelang lebaran sering kali tidak hanya ditentukan oleh harga atau brand, tetapi juga oleh cerita di balik pakaian yang mereka kenakan.

Thrift vs Distro, dua dunia fashion anak muda yang sama keren tapi beda jalan

Ada yang bangga karena berhasil menemukan jaket brand terkenal dari thrift dengan harga super miring. Ada juga yang merasa lebih percaya diri memakai kaos distro lokal yang desainnya tidak pasaran.

Pertanyaannya, lebaran tahun ini anda mau belanja baju dimana?.

Lebaran Tahun Ini, Siswa Sekolah Bakal Libur Sekitar 20 Hari
×