Artikel Berita
Beranda » Saksi bisu banjir bandang: Tumpukan kayu gelondongan masih menumpuk di bantaran Sungai Tamiang

Saksi bisu banjir bandang: Tumpukan kayu gelondongan masih menumpuk di bantaran Sungai Tamiang

Tumpukan kayu di bantaran Sungai Tamiang di Desa Menanggini, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang yang dipotret pada Selasa, 24 Februari 2026. (Foto: Ahmad/Bicarablitar.com)

Aceh Tamiang – Meski bencana banjir bandang telah berlalu beberapa bulan, sisa-sisa kehancuran masih terlihat jelas di Desa Menanggini, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Pantauan tim relawan NU Peduli PCNU Kabupaten Blitar pada Selasa, 24 Februari 2026, menunjukkan pemandangan memprihatinkan berupa tumpukan kayu gelondongan berukuran besar yang masih berserakan di sekitar pemukiman warga.

Kayu-kayu tersebut merupakan material sisa banjir bandang November 2025 yang terbawa arus sungai dan tertahan di daratan saat air surut. Lokasi penumpukan material kayu ini berada sangat dekat dengan Sungai Tamiang, yang menjadi jalur utama luapan air saat bencana terjadi.

Tingkatkan higienitas dayah, personel Banser ahli Tagana dari Blitar bangun sarana sanitasi di Menanggini Aceh Tamiang

Salah satu relawan NU Peduli PCNU Kabupaten Blitar yang meninjau lokasi, Muhammad Thoha Ma’ruf memberikan kesaksian bahwa keberadaan kayu-kayu gelondongan ini menjadi pengingat betapa dahsyatnya terjangan air saat itu.

Kayu-kayu tersebut tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga menjadi ancaman fisik bagi bangunan di sekitarnya saat terbawa arus.

“Kami menyaksikan langsung di Desa Menanggini, sisa-sisa banjir November 2025 masih terlihat sangat jelas. Kayu-kayu gelondongan berukuran besar masih menumpuk di bantaran sungai dan di sela-sela area pemukiman. Ini membuktikan bahwa volume material yang terbawa banjir bandang tahun lalu memang luar biasa besar,” ungkap relawan NU Peduli Blitar di lokasi.

Dua wajah pemulihan Tamiang, statistik melangit, rakyat menanti padat karya

Keberadaan tumpukan kayu ini menjadi kendala tersendiri dalam proses normalisasi lahan di Desa Menanggini. Selain merusak estetika lingkungan, tumpukan kayu berukuran masif tersebut memerlukan alat berat untuk dievakuasi agar lahan warga bisa kembali digunakan secara produktif.

Warga setempat berharap adanya upaya pembersihan material kayu secara menyeluruh agar lingkungan mereka kembali bersih dan aman dari risiko gesekan kayu saat debit sungai kembali naik.

Bagi tim relawan, kondisi di Desa Menanggini ini menjadi basis data penting untuk memetakan risiko bencana di masa depan, mengingat keberadaan material kayu di bantaran sungai dapat menjadi hambatan alami (blockage) yang memicu luapan air lebih parah jika kembali terjadi hujan dengan intensitas tinggi. (nu/blt)

Pulihkan trauma di sekolah darurat, anak-anak penyintas banjir di Banua Raja Aceh Tamiang diberi dukungan psikososial

×