Artikel
Beranda » Pesona sejarah candi sawentar di tanah Blitar

Pesona sejarah candi sawentar di tanah Blitar

Gambar candi sawentar (gmaps/Sri Wahyuni)

Pengantar kawasan sawentar

Desa Sawentar yang terletak di Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, menyimpan kekayaan arkeologis yang menjadi pilar penting bagi narasi sejarah Jawa Timur.

Kawasan ini merupakan lokasi berdirinya kompleks Candi Sawentar, sebuah situs peninggalan masa Hindu-Buddha yang mencerminkan kejayaan peradaban masa lampau.

Struktur bangunan andesit ini sempat hilang dari peradaban manusia ketika material vulkanik hasil erupsi Gunung Kelud menimbun seluruh fisiknya selama berabad-abad.

Gerbang megah candi plumbangan: Jejak arsitektur majapahit di Blitar

Keberadaan candi tersebut menyajikan wawasan mendalam mengenai tata kota dan kehidupan religius masyarakat kuno di wilayah Balitar.

Kini, status situs ini sebagai cagar budaya menempatkan Sawentar sebagai objek penelitian utama bagi para arkeolog yang berupaya merekonstruksi dinamika kekuasaan di tanah Jawa.

Candi sawentar I: Jejak kunjungan raja hayam wuruk

Secara arsitektural, Candi Sawentar I menunjukkan kemiripan visual dengan Candi Kidal dari zaman Singosari.

Bangunan ini memiliki postur ramping dengan bagian kaki, tubuh, dan atap yang menjulang tinggi secara proporsional. Batuan andesit menyusun struktur utama dengan dimensi.

Pada sisi barat, pahatan makara yang merupakan makhluk mitologis Hindu menghiasi bingkai pintu masuk utama.

Bagian dalam ruangan candi menyimpan sebuah yoni sebagai lambang kesucian dan representasi Dewi Parwati.

Selain itu, dinding candi memunculkan relief delapan dewa dengan pancaran sinar atau Surya Majapahit.

Keberadaan delapan dewa ini merepresentasikan konsep dewata nawa sanga atau sembilan arah mata angin, yang menunjukkan kedalaman filosofi spiritual masyarakat saat itu.

Arsitek masa lalu juga menyertakan simbol Garudhamana serta kepala kala tanpa rahang bawah, sebuah ciri khas ornamen yang lazim muncul pada periode transisi Singosari menuju Majapahit.

Misteri penemuan di bawah tanah

Candi Sawentar I memiliki keunikan pada posisi lantainya yang berada jauh lebih rendah daripada permukaan tanah di sekelilingnya.

Peristiwa alam berupa letusan dahsyat Gunung Kelud memaksa bangunan ini berada dalam dekapan material vulkanik untuk jangka waktu yang sangat lama.

Endapan tanah dan abu menyelimuti struktur candi hingga kedalaman dua sampai tiga meter. Meski demikian, timbunan material vulkanik ini justru berfungsi sebagai media konservasi alami yang melindungi batuan andesit dari pelapukan akibat paparan cuaca ekstrem.

Arkeolog Belanda, N.W. Hoepermans, mengidentifikasi situs ini dalam laporannya pada tahun 1815 dengan sebutan Candi Centong.

Namun, upaya ekskavasi atau penggalian secara masif baru berlangsung pada kurun waktu 1916 hingga 1920 untuk memunculkan kembali kemegahan struktur utuh bangunan.

Kekuatan susunan batu andesit terbukti mampu menahan beban berat dari endapan tanah selama ratusan tahun.

Posisi bangunan yang menghadap ke arah gunung menyiratkan hubungan religius yang erat antara pusat pemujaan dan kekuatan kosmik alam semesta.

Candi sawentar II: Monumen peringatan perang paregreg

Sekitar 100 meter di sebelah barat daya Candi Sawentar I, tepatnya di area dekat Pasar Sawentar, terdapat situs kedua yang memiliki latar belakang sejarah berbeda.

Seorang warga setempat, menjumpai keberadaan struktur batu ini secara tidak sengaja pada tahun 1999 saat melakukan penggalian tanah untuk pembuatan sumur.

Berbeda dengan bangunan pertama yang berfungsi sebagai tempat pemujaan, Candi Sawentar II memiliki peran sebagai sebuah monumen peringatan.

Pembangunan ini bertujuan mengenang peristiwa Perang Paregreg, sebuah konflik saudara besar yang mengguncang stabilitas takhta Majapahit pada awal abad ke-15.

Bukti kunci mengenai tujuan pembangunan ini terletak pada pahatan candra sengkala memet yang menggambarkan sosok naga bermahkota sedang menelan matahari.

Pelestarian dan makna budaya masa kini

Langkah-langkah pelestarian terhadap kompleks Candi Sawentar telah berjalan sejak masa kolonial melalui upaya pendokumentasian oleh Verbeek dan Hoepermans.

Kompleks sejarah ini sekarang berfungsi sebagai destinasi wisata edukasi unggulan di Kabupaten Blitar.

Kehadiran juru pelihara di lokasi menjamin keamanan serta keaslian situs agar tetap terjaga bagi kepentingan generasi mendatang.

Candi Sawentar berdiri bukan sekadar sebagai sisa-sisa peradaban yang mati, melainkan sebagai saksi bisu yang terus menyuarakan kejayaan masa lalu Nusantara.

Penjagaan terhadap kelestarian situs ini merupakan bentuk penghormatan terhadap identitas budaya bangsa yang tertanam kuat dalam susunan batu andesit di tanah Blitar.

×