Bukan lebaran namanya jika tak ada setoples kue kering yang tersaji di meja ruang tamu. Nastar, kastengel, kue kacang, putri salju, dan beragam kue kering lain yang tak pernah absen hadir dikala takbir bersenandung. Namun, apa sebenarnya yang membuat kehadiran kue kering ini spesial?
Seorang produsen kue kering yang bertempat tinggal di Bence, Garum, Kabupaten Blitar, telah melalui banyak cerita berkesan di balik toples-toples kue kering yang ia produksi. Neni, produsen kue kering, telah meneruskan usaha yang telah dijalankan oleh orang tuanya bertahun-tahun.
Alasan utama Neni melanjutkan bisnis tersebut karena ia secara sadar memang ingin melanjutkan usaha yang telah lama dibangun itu. Ia juga menyayangkan ilmu yang telah didapatkan dari orang tuanya sia-sia.
“Aku dulu kan cuma bantu-bantu Ibuku. Setidaknya aku sudah tau takarannya berapa, bahannya apa saja, jadi sayang aja kalau enggak aku lanjutin”, kata Neni.
Produsen kue kering tentu tak pernah luput dari dilema naik-turunnya jumlah penjualannya. Pesaing baru pasti banyak bermunculan setiap tahunnya.
Menurut Neni, penjualan produk kue keringnya ini tergolong stabil dan justru terlihat mengalami kenaikan di tahun ini. Faktor ini dapat disebabkan oleh pelanggan baru yang biasanya ingin sekadar ‘coba-coba’ hingga pada akhirnya menjadi langganan tetap.
“Dari tahun ke tahun penjualannya bisa dibilang stabil sih. Justru malah menurutku penjualannya sedikit naik tiap tahun karena selain pelanggan tetap, ada tambahan pelanggan baru yang pesan”, tutur Neni.
Melihat harga bahan baku di bulan Ramadan menjelang lebaran yang selalu mengalami kenaikan, Neni berusaha untuk tetap menetapkan harga yang cukup ramah di kantong. Neni memiliki strategi tersendiri untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku produksi.
“Aku enggak mau naikin harga sih selama ini, naik pun sedikit banget. Memang keuntungannya jadi enggak seberapa, ya itung-itung sedekah. Tapi, untungnya masalah bahan baku itu masih bisa sedikit tertolong karena ada beberapa bahan baku dari hasil panen sendiri, jadi enggak keluar modal.”
Beberapa produk seperti, madumongso* dan roti kacang memiliki bahan baku yang berasal dari hasil penen pribadi. Contohnya yakni, hasil panen pribadi berupa beras ketan hitam yang bisa digunakan sebagai bahan dasar madu mongso, serta hasil panen kacang tanah untuk campuran roti kacang.
Selama ini, Neni membeli bahan baku hanya ketika ada pesanan saja, ia tidak pernah membeli banyak bahan lalu menyimpannya. Menurutnya, menyimpan bahan produksi dalam waktu lama dapat berisiko menurunkan kualitas pada kue kering yang dihasilkannya nanti.
Produk kue kering milik Neni cukup digemari oleh kalangan wanita atau ibu-ibu berkisar usia 40 tahun ke atas. Bahan baku berkualitas dari hasil panen pribadi dan tanpa banyak campuran lain, diyakini sebagai salah satu alasan banyak ibu-ibu yang menjadi pelanggan tetap.
“Kue koyah kacang hijau bikinanku itu full kacang hijau, jadi bener-bener kerasa kacang hijaunya. Madumosngso, biasanya produsen lain pakai campuran ketan putih, tapi aku enggak, semuanya ketan hitam. Ibu-ibu banyak yang suka dan repeat order di aku”.
Sementara untuk roti kacang, menurutnya lebih digemari oleh wanita/ibu muda.
Neni berharap usahanya ini akan tetap mengalami kenaikan di tiap tahunnya, serta selalu dapat menyajikan kue kering tradisonal dengan harga yang ramah di kantong, enak, dan pastinya berkualitas baik.

