Table of Contents−
Ramadan telah tiba dan bagi masyarakat di Indonesia, itu berarti satu hal. Kalender mendadak penuh dengan lingkaran merah. Dari grup WhatsApp teman masa kecil hingga rekan kantor, undangan buka bersama atau bukber mengalir deras.
Terkadang kita merasa jengah dengan padatnya jadwal ini, namun pernahkah merenung sejenak? Apakah tradisi yang kini tampak sangat modern dan terkadang konsumtif ini hanyalah tren masa kini?
Warisan 14 Abad yang Berawal dari Kurma dan Air
Akar dari tradisi buka bersama bukanlah produk budaya modern, melainkan warisan langsung dari zaman Nabi Muhammad SAW. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah memiliki kebiasaan berbuka puasa bersama para sahabatnya.
Sejarawan Islam Dr. Hamidulloh menjelaskan bahwa Rasulullah menjadikan waktu berbuka sebagai sarana krusial untuk memperkuat solidaritas sosial. Beliau sangat menganjurkan umatnya untuk saling berbagi, dengan filosofi utama agar tidak ada seorang pun yang berbuka sendirian selama masih ada makanan yang bisa dibagi.
Meskipun saat itu menu yang tersedia sangatlah sederhanasering kali hanya kurma dan air inti dari kegiatan tersebut adalah empati yang mendalam. Landasan teologis dari praktik ini sangat jelas, sebagaimana tercantum dalam hadis yang menjadi penyemangat umat untuk berbagi.
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Secara reflektif, meski “wadah” bukber telah berevolusi dari rumah sederhana ke restoran mewah, kebutuhan manusia akan koneksi tetaplah sama. Bukber melampaui sekadar aktivitas makan, tetapi juga upaya menanam pahala sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah kesibukan duniawi yang kerap menggerus sisi kemanusiaan kita.
Evolusi “Media Sosial Luring” dan Penggerak Ekonomi
Catatan sosiologi keagamaan dari UIN Syarif Hidayatullah mengungkapkan bahwa tradisi bukber di Indonesia mengalami pergeseran signifikan seiring arus urbanisasi masif pada era 1980-an. Jika dahulu aktivitas ini berpusat di masjid, kini bukber telah bermigrasi ke ruang publik seperti restoran dan mal.
Fenomena ini sering disebut sebagai bentuk nyata dari media sosial luar jaringan (luring). Laporan Litbang Kompas menunjukkan bahwa bukber kerap menjadi ajang reuni nasional yang menjembatani komunikasi yang biasanya hanya terjadi di grup pesan singkat. Ia memberikan koneksi manusiawi yang tulus di tengah kehidupan kota yang serba cepat.
Tak hanya itu, bukber adalah motor ekonomi yang vital. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa selama Ramadan, lonjakan omzet sektor kuliner sangat signifikan. Bukber tidak hanya menguntungkan restoran besar, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi dari hulu hingga ke hilir.
Ragam Bukber di Masyarakat Kita
Berdasarkan analisis dari laman nu.or.id, terdapat tiga tipologi penyelenggaraan buka bersama yang jamak ditemui di tanah air.
1. Kelompok Internal Lembaga/Perusahaan: Diikuti oleh anggota internal, biasanya bersifat formal dan diisi dengan ceramah agama dari tokoh kondang sebelum waktu berbuka tiba.
2. Kelompok Karitatif/Santunan: Fokus utamanya adalah berbagi dengan mereka yang membutuhkan, seperti masyarakat miskin kota atau musafir. Sifatnya murni bantuan material tanpa agenda tambahan.
3. Kelompok Aktivis/Transformasi Sosial: Diselenggarakan oleh lembaga non-pemerintah dengan skala terbatas namun memiliki ideologi kuat. Kelompok ini biasanya bersifat kritis atau “anti-kemapanan” dan menggunakan momen bukber untuk mendiskusikan transformasi sosial.
Mengembalikan Esensi di Tengah Selebrasi
Bukber adalah perpaduan harmonis antara perintah agama, warisan budaya dunia, dan penggerak ekonomi. Namun, di tengah gemerlapnya undangan, kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam selebrasi tanpa makna. Instruksi pemerintah di tahun 2023 yang sempat membatasi buka bersama bagi pejabat publik.
Sejatinya, bisa kita maknai sebagai pengingat untuk kembali ke esensi kesederhanaan. Sebagaimana Rasulullah mencontohkan berbuka dengan kurma dan air. Substansi bukber bukanlah kemewahan tempat, melainkan ketulusan untuk berbagi rezeki dan memastikan tidak ada saudara kita yang berbuka dalam kesunyian.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

