Alex Cahyono. (Dok.Pribadi)
Antara hukum dan pergerakan, saya tidak pernah benar-benar memilih salah satunya. Saya hanya memilih menjadi pribadi bertanggung jawab.
Sebagai lulusan hukum, banyak yang bertanya mengapa saya tidak sepenuhnya tenggelam dalam dunia litigasi daftar Pendidikan Advokat misalnya, kemudian melamar di firma hukum, ataupun menempuh jalur profesional yang menjanjikan stabilitas finansial sekalipun belum jaminan.
Namun hidup tidak selalu tentang karier. Ada panggilan yang lebih sunyi, lebih melelahkan, tetapi juga lebih bermakna yakni merawat pergerakan, menjaga api kaderisasi serta memastikan organisasi tetap berdiri dengan nalar dan integritas. Karena hukum bagi saya bukan hanya sebagai profesi. Hukum adalah keberanian untuk berpihak, keberpihakan itu saya temukan denyutnya di ruang-ruang pergerakan.
Saya ditempa di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), selama kurang lebih 5 tahun saya berkiprah. Mulai dari menjadi Pengurus Rayon, Pengurus Komisariat, hingga dipercaya sebagai Pengurus Cabang, setiap jenjang saya nilai itu adalah amanah.
Amanah untuk berpikir lebih dalam, bekerja lebih keras sekaligus menahan diri dari godaan pragmatisme. Banyak malam yang dihabiskan untuk menyusun konsep keoganisasian, merancang diskusi, serta memastikan anggota dan para kader muda tidak kehilangan arah.
Sebagai sarjana hukum, saya percaya bahwa hukum bukan hanya serangkaian aturan pasal dan ayat. Hukum adalah keberpihakan pada keadilan. Pergerakan sendiri bagi saya adalah cara untuk menjaga keberpihakan itu tetap hidup.
Di ruang-ruang diskusi dan kaderisasi, saya belajar bahwa keberanian kadang hadir dalam konsistensi seperti tetap idealis, membaca lebih banyak, menulis lebih jujur, serta berdiri tegak ketika organisasi diterpa konflik internal maupun tekanan eksternal.
Tulisan-tulisan saya tentang hukum, kaderisasi ataupun kritik sosial lahir dari kegelisahan yang nyata. Saya percaya, seorang kader tidak cukup hanya hadir di forum. Dia harus hadir dalam gagasan. harus mampu menulis, berbicara, dan mempertanggungjawabkan pikirannya di ruang publik. Karena pergerakan tanpa nalar hanya akan menjadi keramaian tanpa arah.
Saya memilih menghabiskan banyak waktu untuk PMII bukan karena tidak punya pilihan lain, tetapi karena sadar bahwa organisasi adalah rumah pembentukan karakter.
Di sana saya belajar tentang kepemimpinan yang demokratis, tentang perbedaan yang tidak harus saling menjatuhkan, serta tentang cinta kepada organisasi yang tidak selalu diumbar, tapi dibuktikan lewat konsistensi.
Bagi sebagian orang, mungkin jalan ini terlihat melelahkan. Tapi bagi saya, inilah jalan kesadaran. Saya tidak ingin dikenal sebagai seorang kader yang banyak bicara tentang perubahan, tapi absen ketika perubahan membutuhkan tenaga.
Saya ingin menjadi seseorang yang jika berkata “kita berjuang bersama”, maka saya adalah orang pertama yang berdiri di barisan depan dan orang terakhir yang meninggalkan forum.
Jika kelak ada kader yang membaca ini, saya tidak ingin ia terpukau oleh kata-kata. Saya ingin ia melihat keteguhan. Bahwa di tengah dunia yang serba instan, masih ada kader yang memilih proses.
Bahwa di tengah budaya populer yang dangkal, masih ada yang setia membaca dan berpikir. Serta di antara hukum dan pergerakan, ada pilihan untuk tetap bertanggung jawab yakni pada ilmu dan pada masa depan organisasi yang dicintai.
Karena pada hakikatnya, idealisme adalah tentang berani konsisten, meski tidak selalu dipuji. Jika suatu hari langkah ini berjalan berdampingan dengan seseorang yang juga mencintai pergerakan, saya ingin ia tahu bahwa diri ini tidak sedang mencari pengagum. Saya sedang merawat perjuangan!.

